Jalur Mendidik dan Jalur Meneliti

Oleh: Grace Suryani Halim

Tulisan ini merupakan komentar terhadap artikel dari Dr Sunu Wibirama di Liputan6.com yang berjudul – Tulisan ilmiah bagi dosen, seberapa pentingkah ? – Tentu saja artikel tersebut bisa dengan mudah dicari di internet baik dengan google atau di medsos (https://www.facebook.com/WibiramaSunu/?__tn__=kC-R&eid=ARClOern7yqv5A4t_CiR2U4zSs24OlBafgFTkpCZ_FuTbyr7dhiCAmIQQoL8BPaeVZa5isOb5e0PNLjtcPL1Czxs1EKumCsY06kjesmNyScWtBsnCG71HpycW7yqEiSKsPIw3JVxnouEgcKE3HOGhu55ukbr9BkC8DjV_). Namun yang lebih menarik bagi saya adalah sebuah komentar dari seorang pembaca sdri Grace Suryani Halim yang menyampaikan apa yang dialami sebagai seorang dosen oleh suaminya di negeri tetangga Singapura. Mari kita simak ceritanya. (Redaksi blog: Raldi A. Koestoer).

Dr. Sunu Wibirama:
Terima kasih untuk tulisannya. Urun rembug.

NUS school of computing juga punya dual tracks. Yang research tracks and teaching tracks. Kalau research tracks : research fellow, assistant prof, associate prof, full prof . Semuanya harus S3 tentu saja 😬

Teaching tracks (ini jalur suami saya) : Instructor, lecturer, senior lecturer, associate prof. Teaching tracks so far bakal stop di Associate Prof. Sejauh ini belum pernah ada Full Prof dari teaching tracks.
Jalur teaching tracks sedikit lebih panjang drpd research tracks. Dan requirements nya pun banyak. Seperti harus membuat buku/alat pengajar yang dipakai di University2 lain ataupun di level international. Harus mengembangkan alat pengajar (https://visualgo.net/en ) itu tools yang dikembangkan oleh suami saya dan timnya. Harus punya teaching score yang bagus. NUS punya Annual Teaching Excellency Awards. Baik di fakultas level maupun di university level. Dan juga harus menonjol di service. Suami saya puji Tuhan dipercaya jadi head coach dari International Olympiad of Informatics (IOI) dari Singapore dan coach untik competitive programming.

Universitas kelas dunia biasanya punya banyak talent2 di dua tracks tersebut. Seperti yang Bapak share di tulisan Bapak.
Research tracks berguna untuk memastikan nama univ dikenal di kalangan international dengan riset2 yang berguna bagi dunia. Research tracks juga mendatangkan uang, lewat research grants yang didapat.

Jadi ingat pembicaraan dgn suami beberapa tahun silam. Gelar Full tenure professor itu sebenarnya diberikan bukan utk gaya2, tapi supaya para prof itu BERANI melakukan riset2 yang cutting edge, yg butuh bertahun-tahun (like Prof Frances Anders perempuan pemenang Nobel Kimia thn 2018 yang sudah meneliti enzyme dari thn 1980 en baru breakthrough bbrp tahun terakhir 😬) . We need more long term research like that. Dan karena itu ada gelar professor supaya mereka2 ini bisa bebas berkarya tanpa embel2 takut dipecat krn tidak memberikan hasil (dalam waktu singkat).

Tapi sebaliknya juga perlu dosen2 yang dedicated to teaching, yang mengembangkan alat ajar, menulis buku2. Krn well jarang dosen yg bagus di riset en pinter ngajar 😆😆😆. Semoga di Indonesia ada perbaikan ke arah yang lebih bagus.

Kita punya banyak talenta di diaspora. Org2 indo kayak suami saya banyak kok. Tapi yang bener2 berprestasi biasanya ga terkenal, krn sibuk riset dan sibuk kerja 😆😆 tTapi sebagian besar ga mau balik indo. Karena ya … office politik. Birokrasi yang mbulet. Dan gaji yang kecil.

Yah semoga ada banyak perbaikan di dunia kampus Indonesia. 🙂

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: