Cinta dan Ksatria

Masa remaja Pandawa dan Kurawa, belajar memanah.

-0-

Suyudana berusaha keras mengamati pohon mangga itu, ketika satu demi satu, semua sepupu dan adiknya dipanggil. Tak seorangpun mampu menjawab sesuai kehendak sang guru. Akhirnya
Suyudana mendengar Dorna memanggilnya. Ia berdiri dan berja
lan ke lingkaran. Semakin ia memperhatikan pohon itu, ia melihat
sepasang nuri bertengger di dahan tertinggi. Saat itu musim semi
dan cinta menebar aromanya. Karena tengah berasyik-masyuk
dua burung itu tak sadar tengah terancam bahaya. Saat dia melihatnya, pertanyaan sang guru yang menegangkan terdengar oleh Suyudana.
“Apa yang kau lihat di situ?”
“Cinta.”
“Kau ini apa? Pujangga? Tarik busurmu dan katakan apa yang
kau lihat di situ.”
“Guru, aku melihat cinta. Dua jiwa berpadu dalam cinta. Kulihat kebahagiaan di mata mereka dan suara mereka bersukacita. Kulihat langit biru membentang bagai atap menaungi mereka. Kurasakan sepoi angin membelai bulu-bulu mereka. Kucium harum mangga ranum…”
Plak! Pipi Suyudana ditampar. la sempoyongan dan hampir
jatuh. Sejenak kemudian ia baru sadar dipukul Dorna. “Bodoh!
Berandalan bodoh! Kau mengerjaiku? Karena kau pangeran kau
bisa menghina brahmana miskin? Aku berusaha menjadikanmu
prajurit tapi kau berbicara seperti perempuan. Enyah sana!”
Suyudana berjalan kembali sambil menunduk malu. Kata-kata
keji itu menyakitkan. la tak bermaksud menghina gurunya.
“Perempuan! Bima berseru, semua yang lain terbahak.
Suyudana ingin menyerang Bima, tapi sebelum dia bergerak
Dorna memanggil anak terakhir. “Arjuna”
Arjuna berdiri dan berjalan ke lingkaran. Dorna berseri melihat murid kesayangannya karena Arjuna menyembah kaki sang
guru sebelum memasuki lingkaran. Suyudana menggumamkan
umpatan dan beberapa anak Kurawa menyeringai., Dorna melotot,
mereka pun diam. la menoleh pada Arjuna, yang berdiri dengan
tali busur terpentang. Matahari yang terbenam tampak di ujung
anak panahnya, menjadikannya kemilau semerah darah. “Katakan,
Nak. Apa yang kau lihat di sana?”
“Mata seekor burung, sasaran bidikku”
“Bagus sekali, anakku. Tembaklah!
“Jangan. Suyudana berteriak, namun anak panah Arjuna su-
dah melesat cepat. Benda itu menembus mata dan otak si burung,
lalu mengangkat tubuh mungilnya beberapa tombak ke udara se-
belum menghunjam ke tanah bersama mangsanya yang tertusuk.
Para Pandawa bertepuk tangan melihat kemampuan mema-
nah yang mempesona ini. Dorna meneteskan air mata bahagia dan
memeluk murid kesayangannya. Pekik sedih pasangan si burung
mati memenuhi udara. Dia melengkingkan rasa kehilangan, me-
ngetukkan paruh pada pasangannya yang tewas. Dorna bercera-
mah memuji kepiawaian Arjuna, kesungguhannya, dan kejeliannya
melihat sasaran. Dikatakannya, kemampuan terpenting seorang
prajurit adalah bidikan yang tepat, keteguhan untuk mencapai ke-
menangan dengan segala cara, dan hanya melihat yang penting.
Dharma seorang prajurit adalah menyerang jika diperintah atasannya
Suyudana tak mendengarkan sepatah kata pun. la berjalan
annya, bukan mempertanyakannya.

Suyudana tak mndengarkan sepatah katapun ia berjalan menuju burung yang jatuh itu, mengabaikan seruan marah gurunya. Ketika Suyudana mendekat, pasangan si burung memandangnya curiga dan mencicit, mungkin mengumpatinya. Air mata Suyudana tak terbendung. Makhluk mungil itu sepertinya mengendus kepiluan sang remaja.
Dengan kebijakan anugerah alam pada mereka yang tidak tercemar pada pemikiran akan benar dan salah.

Pangeran Hastina berlutut beberapa tombak jauhnya, hatinya pedih. Angin menghembus bulu si burung yang mati. Sang pangeran berhenti, berharap nyawa kembali, namun kematian tak pernah mengembalikan apa yang sudah ia renggut.
-0-

Mahakurawa – Anand Neelakantan.-

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: