XRay untuk Cegah Covid19

Oleh : GedeBayu Suparta

(Penulis adalah Dosen UGM).-

ALUR PROSES. Negara maju panik oleh si Covid-19, kita yang belum semaju negara maju ikut-ikutan panik. Negara maju pake ini-itu untuk menanggulangi si Covid-19, kita juga ikutan pake ini-itu. Walau laporan negara maju masih belum tahu hasil dari tiap langkahnya, kita sudah menganggap bahwa mereka pasti akan berhasil.
Soal ikut pake ini itu, kita jagonya. Karena kita sangat percaya pada kehebatan negara maju. Tapi, namanya panik, logika dan pikir sering dilupakan. Pokoknya…. ikuti saja. Padahal…. ingat wewaler Jawa: Ngono yo ngono,…. ning ojo ngono. Nek mlaku kudu bener tur pener. Nek utek ora nyandak, gunaken rasa pangrasa. Gunaken wiweka.
Hingga saat ini setiap hari kita disuguhi data: penambahan jumlah pasien PDP, penambahan pasien yang sembuh dan penambahan pasien yang meninggal. Semua judulnya “Penambahan”. Padahal seharusnya: pengurangan jumlah pasien PDP, penambahan yang sembuh dan pengurangan yang meninggal.

Kira-kira apa ya penyebabnya mengapa judulnya “Penambahan” terus? Saya bukan ahli macam-macam, karena keahlian saya tidak suka macam-macam. Ahli macam saya banyak. Tapi cuma bisanya di pinggir gelanggang. Macam komentator gitu. Lebih mujur disebut NARASUMBER. Heh…heh…heh…. 😃😃😃🤭

Nah…. saya lampirkan alur proses yang semestinya diikuti agar kita tidak sembarangan nyegat orang di jalan untuk di rapid test. Dengan pedoman alur itu, kita tidak sembarangan menyuruh orang stay at home, dan work from home. Dengan pedoman itu, kita tidak sembarangan mengisolasi kampung, semprot sana dan semprot sini. Dengan pedoman itu kita tidak sembarangan menuduh orang ODP atau PDP.

Dan…. Apakah kita tahu kriteria orang PDP yang disebut sembuh? Apakah kita bisa memprediksi bila orang PDP ada harapan untuk sembuh? Apakah kita yakin bila seseorang dikatakan sembuh, bahwa paru-parunya dimasa depan tidak bermasalah?

Seperti ditulis banyak orang, si Covid-19 itu utamanya menyerang paru-paru. Terjadi infeksi di paru-paru. Kalau virus sudah masuk paru-paru, maka sistem limpa untuk pertahanan tubuhnya yang ada di leher sudah jebol. Suhu badan setelah masuk paru-paru, bisa saja normal, seperti kelihatan orang tak terinfeksi lagi. Tapi, disitulah masalahnya. Sebagai sebuah sistem pertahanan, maka ketika limpa sebagai benteng terdepan sudah runtuh, maka kekuatan-kekuatan imun antibodi Immunoglobulin G (IgG) dalam bagian tubuh akan bangkit. Dalam kondisi inilah si Rapid test Kit sangat penting karena si rapid test itu untuk mengecek kadar IgG. Makin awal si Rapid Test tahu, maka semakin memberi harapan penyembuhan. Jadi Rapid test itu penting bila sudah yakin badannya memanas, yang menjadi indikasi antibody tubuhnya bangkit dan akan berperang.

Kalau sudah terjadi infeksi, maka suhu tubuhnya itu akan memanas…. artinya sistem pertahanan imun tubuhnya sedang bekerja. Kalau panasnya tak turun-turun….. ada indikasi bila si Covid-19 yang datang. Lalu, ditambah dengan tanda2 sakit fisik lainnya…. maka bisa dikonfirmasi orang diberi status PDP.

Nah…. yang penting kemudian adalah saat PDP dirawat. berkali-kali kita diyakinkan bahwa konon Covid-19 belum ada obatnya…. Sebaliknya…. selalu ada laporan bila pasiennya dinyatakan sembuh. Kok bisa? Apa yang dilakukan? Sedihnya saya… atau kita …. hingga kini tak juga ada yang beri tahu bilamana dan bagaimana seseorang ada tanda-tanda akan sembuh…. Bahkan tanda-tanda seseorang akan menandatangi kontrak akhir hidupnya alias akan berpulang? Saya kira semua berharap tanda-tanda itu ada…. supaya teknis penyambutannya sesuai dan pantas.

Silakan teman2 baca flowchartnya itu. Secara khusus saya rujuk radiografi sinar-x digital adalah pilihan terbaik untuk mengetahui status fase kesembuhan atau semakin parahnya seorang PDP. Masalahnya adalah alat radiografi digitalnya sedikit. Kalau pun ada, dosis radiasi yang digunakan masih tinggi, tidak seperti di negara maju. Itu semakin dimasalahkan karena radiasi sinar-x menjadi penyebab kanker. Padahal sangat aneh sekali…. mengapa orang sakit kanker diperiksa dengan radiografi sinar-x yang sinar-x nya menyebabkan kanker. Jika betul sinar-x penyebab kanker, maka mestinya kalau orang diradiografi, kankernya malah makin menjadi-jadi.

Pikiran nakal (disruptive idea) saya adalah coba paru-paru PDP yang sudah kena si Covid-19 ditembak dengan radiografi sinar-x. Maka…. Pertama, kita akan dapat citra (gambar) paru2 dimana si Covid-19 sembunyi. Kedua, siapa tahu si Covid-19 kelenger karena ditembak dengan sinar-x, lalu si Covid-19 dkk mati. Tentu untuk hal ini, dosis radiasi sinar-xnya harus dibuat rendah. Harusnya ini logis …. bukankah berbagai laporan mengatakan bahwa si Covid-19 mati karena sinar-UV. Sinar-X itu adalah kakak UV yang lebih powerful. Jadi radiografi sinar-x itu dijadikan cara penyembuhan paru-paru yang kena si Covid-19, seperti halnya ilmu kedokteran nuklir yang menggunakan radiasi nuklir (penyebab kanker!🤭) untuk menyembuhkan kanker.

Last but not least? Adakah alat radiografi digital yang saat operasional mengeluarkan dosis radiasi amat rendah dan sebaliknya mampu menghasilkan citra paru-paru yang mewakili kondisi paru-paru si PDP? Aku nggak berani jawab YA ADA…. karena tahu sendirilah…. saya bukan ahli macam-macam dan saya tak suka macam-macam.

Keterangan foto tidak tersedia.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: