COVID-19 Pengalaman Penting

Oleh Etty Prasetyawati

Lobby RSKD Duren Sawit. Kereenn yaa…
Mengapa RSKD dan bukan RSUD?

Rupanya RS Duren Sawit ini adalah Rumah Sakit Jiwa. Itu sebabnya disebut Khusus. Awalnya hanya ada 1 gedung dengan cat berwarna hijau. Kemudian dibangun gedung ke-2 berwarna biru di belakang gedung pertama.
Berikutnya dibangun gedung ketiga, di-cat warna kuning. Sekarang sudah ada 3 gedung di sana. Rencananya gedung kuning diperuntukkan bagi pasien gangguan jiwa dengan fasilitas VIP untuk keluarga yang mendampingi.

Gedung ketiga atau gedung kuning adalah gedung baru yg diresmikan Oktober 2019. November dan Desember 2019 hingga awal tahun 2020 dilakukan pengadaan peralatan Rumah Sakit, dari tempat tidur pasien, perlengkapan ruang ICU, dsb.

Belum sempat dibuka untuk umum, Maret 2020 merebak pasien covid-19. RS di Jakarta kekurangan tempat untuk menampung pasien covid-19. Akhirnya pertengahan Maret 2020 RSKD Duren Sawit dijadikan Rumah Sakit rujukan covid-19.

Di gedung baru warna kuning tempat khusus pasien covid-19, kamar mandi pasien tidak dilengkapi dengan gantungan atau paku untuk meletakkan baju dan handuk. Tujuannya agar tidak membahayakan pasien dengan gangguan jiwa.
Kalau biasanya shower di kamar mandi bisa kita pegang atau portable, di kamar mandi ini showernya menempel di ceiling, lagi2 supaya tidak membahayakan pasien.

Menurut perawat di RS ini, kalau di bulan Maret-April 2020 trend orang yg terpapar covid-19 di Jakarta dari kalangan menengah ke atas, di bulan Mei-Juni trend-nya adalah mereka yang berkegiatan di pasar. Biasanya mereka yang terpapar adalah OTG (Orang Tanpa Gejala) dan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Ternyata di Jakarta masih banyak OTG dan ODGJ.

Teman2, supaya tidak terpapar covid-19, mari kita tingkatkan imunitas tubuh kita dengan cara lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, tidak keluar rumah kalau tidak perlu, jaga jarak aman, sering2 cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir serta jangan lupa kenakan masker91Fidel Agusman dan 90 lainnya33 KomentarSukaKomentari

Komentar

Lihat Komentar Sebelumnya2 dari 13

  • Charles Loesi Etty Prasetyawati … Etty , sya sgt sependapat dgn bro NR diatas , tapi sya masih penasaran dan masih ingin testimoni Etty lebih lanjut ttg sebab2 atau gejala2 awalnya bagimana dan bagaimana awal mula ceritanya sampai Etty bisa masuk ke RSKD Dursa , apakah atas inisiatif sendiri , atau atas rekomendasi teman atau ada dokter yg merujuk dsb dsb …
    Kami pengen tau ceritanya sebagai refleksi buat kami2 semua … Thank U Etty … God Bless You …Sembunyikan atau laporkan ini
  • Etty Prasetyawati Cukup panjang ceritanya Ayes, karena sebenarnya saya sakit sejak Maret 2020.

    Sabtu, 14 Maret 2020 pk 10.00 sy menghadiri acara Kaum Lanjut Usia di gereja. Dari beberapa orang yg hadir, belakangan yg saya tau bahwa ada teman yang terpapar Covid.

    Minggu, 15 Maret pk 18.00 saya Ibadah Minggu di gereja, menjadi salah 1 Petugas Ibadah. Selesai melayani, kami Petugas Ibadah berfoto bersama dan sy berdiri di sebelah kiri dari teman yang meninggal karena covid.

    Senin, 16 Maret saya ke kantor. Pulang kantor, sy demam, batuk pilek dan sesak.

    Selasa, 17 Maret saya ke dokter. Diagnosa dokter, saya flu. Saya diberi obat untuk 5 hari yang terdiri dari paracetamol, obat batuk dan antibiotik.

    Selasa, Rabu dan Kamis, setiap sore hingga malam hari panas tinggi, 38,2 – 38,8. Saya minum paracetamol, panasnya turun.
    Jumat pagi sy ke dokter menanyakan, mengapa saya setiap sore-malam demam dan panas cukup tinggi. Pagi itu suhu tubuh 37°C. Dokter mengatakan sebaiknya saya pulang, habiskan obatnya dulu. Setelah obat habis dan kalau panasnya masih tinggi juga, silakan kembali.

    Selasa, 24 Maret saya kembali ke dokter karena obat sudah habis dan sore hingga malam hari panas badan masih tinggi.
    Diagnosa dokter, saya sakit campak karena ada ruam2 merah di tangan. Sy diberi obat lagi tanpa antibiotik, untuk 5 hari.

    Karena saya masih sering demam dan panas badan masih tinggi, Kamis malam 26 Maret saya ke dokter lain di suatu RS di Jakarta Timur.
    Dari hasil pemeriksaan darah dan rontgen, saya didiagnosa menderita pneumonia. Saya diberi obat untuk seminggu.

    Jumat, 27 Maret kakak saya menyarankan agar saya memeriksakan diri ke RS Persahabatan. Saya pergi ke sana pk 15.00, bagian pendaftaran sudah tutup. Info dari Petugas, Pendaftaran sudah ditutup karena 1 hari kuotanya hanya 150 orang. Saya disarankan kembali hari Senin, mendaftar untuk pemeriksaan hari Selasa.

    Sabtu, 28 Maret dan Minggu 29 Maret sy diare. Sehari bisa 8x.

    Senin, 30 Maret sy tidak kembali ke RSP karena sy berpikiran, RS itu tempat banyak penyakit, jangan2 kalau ke RS sy malah terpapar virus corona.

    1 April 2020 obat habis, sy merasa sudah sembuh dan tidak kembali ke dokter.

    Selama bulan April kehidupan berjalan seperti biasa, masih WFH.

    Awal bulan Mei, ada teman gereja yang sudah sembuh dari covid-19 menghubungi saya dan menanyakan, waktu bulan Maret saya beberapa kali didoakan di gereja itu sy sakit apa.

    Lalu sy ceritakan kronologis selama sy sakit.
    Menurut teman saya, itu gejala2 covid. Teman saya menyarankan supaya saya di swab di Puskesmas Pulo Gadung (Puskesmas terdekat dari kediaman kami).

    Senin, 11 Mei saya ke Puskesmas, rapid test.
    Selasa, 12 Mei dapat kabar dari Puskesmas, hasil rapid test positif/reaktif.
    Hari itu juga sy di swab pertama.

    Kamis, 14 Mei dapat kabar, hasil swab pertama negatif. Sy disarankan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah, perlengkapan makan dipisah.

    Kamis, 28 Mei swab kedua.
    Sabtu, 30 Mei hasil swab kedua POSITIF. Jèng jèng…
    Saya masih bertanya-tanya, saya tidak demam batuk pilek dan sesak, mengapa hasil swab kedua positif? Rupanya saya termasuk kategori OTG (Orang Tanpa Gejala).

    Mulailah saya dikarantina di RSKD Dursa. Saya kira hanya beberapa hari, ternyata lumayan juga, 31 hari baru saya boleh keluar dari RS.

    Mengapa lama? Karena hasil swab 1, 2, 3, 4 & 5 positif. Setelah hasil swab 6 & 7 negatif, baru saya boleh pulang.

    Tapi saya masih harus menjalani isolasi mandiri 14 hari lagi. Sesudah itu kontrol ke dokter. Kalau saya di swab dan hasilnya positif, saya harus masuk karantina lagi. Semoga itu tidak terjadi.
    Mohon bantu dalam doa ya, Ayes dan teman2, supaya saya benar2 sembuh dari corona virus desease-19 ini.

    Terima kasih. Salam sehat selalu!5Sembunyikan atau laporkan ini
  • Etty Prasetyawati Standard WHO, 2x berturut-turut hasil swab negatif baru boleh pulang.2Sembunyikan atau laporkan ini
  • Vancka Souhoka Etty Prasetyawati Makasih kak utk kronologis nya. So, kita jadi faham. Semoga kita semua sehat selalu.
    Anyway di swab berkali2, sakit banget tuh ya! Linu ngebayanginnyaSembunyikan atau laporkan ini
  • Etty Prasetyawati Vancka… sebelum di swab, petugas lab akan kasih aba2 supaya kita tahan nafas.
    Jadi kalau kita tahan nafas selama di swab ya…gak sakit laah1Sembunyikan atau laporkan ini

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: