Covid-19 Makin Ngeri…

Tulisan dr. Susy Wihadi, Sp.A (RS Mitra Keluarga Depok)

Worth to read, supaya kita semua selalu waspada dan tidak lengah terhadap COVID-19

Sejak seminggu terakhir ini kasus COVID-19 benar-benar naik drastis. Lebih mengerikan rasanya dibanding awal awal dulu.

Satu keluarga pulang mudik dari Sukabumi, ternyata kakek nenek yang dikunjungi positif. Satu keluarga ini, terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak langsung minta diswab. Satu keluarga lagi, ayah ibu positif, anak negatif. Entah habis ikut acara apa.

Dapat info lain lagi kalau ada beberapa saudara kandung yang sudah berkeluarga semua berkumpul merayakan ultah ibunya. Dan sekarang ada 15 orang yang positif COVID-19 dari acara tersebut. Bahkan ada satu keluarga (ayah, ibu, dan tiga anak) positif semua. Ibu yang baru dirayakan ultahnya berada dalam kondisi yang berat.

Di kantor bapaknya, ada karyawan yang positif sehabis kumpul keluarga saat Idul Adha kemarin. Karyawan yang kena ini tertular dari saudara sepupunya dan si karyawan ini tinggal bersama istrinya di rumah mertuanya. Si karyawan sudah dirawat, masih untung istri dan mertuanya negatif, ortunya sendiri belum ada hasil.

Sore ini diinfo kamar bersalin ada rencana operasi SC bumil positif COVID-19. Kalau bumil positif COVID-19 mau operasi, otomatis harus tindakan di kamar operasi khusus yang sudah diredisain supaya tekanan kamar negatif dan terpasang hepafilter. Semua yang ikut dalam kamar operasi HARUS menggunakan APD level 3. Buat kami yang sudah sejak Maret berkutat dengan APD level III sih tinggal senyum-senyum miris saja pake APD. Tapi buat pasien, hitung sendiri saja biaya yang dikeluarkan. Biaya ekstra untuk APD dan beban moril paska melahirkan karena tidak bisa rawat gabung dengan bayi sampai masa isolasi selesai. Jangan seenaknya bilang biaya ditanggung negara. Lama-lama anggaran negara habis karena masalah ini, terusribut negara resesi.

Jadi… Lihatlah rantai panjang penularan virus ini
Virus ini tidak kenal keluarga, sekandung maupun sedarah. Kontak erat ya risiko penularan tinggi.

Tidak usah ribut-ribut teriak kasihan nakes, somehow itu bagian dari konsekuensi pekerjaan. Tapi berpikirlah RISIKO UNTUK DIRI SENDIRI DAN KELUARGA MASING-MASING. Andaikata pembawa virus mengalami sakit ringan tapi keluarga yang ditularkan (suami atau istri, ayah atau ibu, anak2 sendiri, saudara kandung, para sepupu dan keponakan) mengalami sakit yang berat dan meninggal, apakah Anda pembawa virus bisa membayangkan apa rasanya?

Menyesal???
Sudah terlambat…
Penyesalan selalu datang terlambat, karena kalau di awal namanya pendaftaran…

Bisa ga penyesalan diubah supaya tidak terlambat???

BISA

Kok bisa? Gimana caranya???

Ya LAKUKAN PENCEGAHAN dong! Prinsip dasar mencegah penyakit ya pencegahan.

STOP ACARA KUMPUL KUMPUL, meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara. Pada saat acara intim dengan keluarga, acara makan-makan, ngobrol, kita jadi lengah, masker dibuka, dan disitulah virus bisa berpindah dan menular ke keluarga kita.

Di sosmed juga sudah banyak yang pajang foto, jalan-jalan, makan bersama, acara pembukaan ini itu dan semua foto kebanyakan tanpa masker. Jujur, kalau sekarang mules liat foto dengan kepala berdekatan tanpa masker. Jangan memberikan contoh yang tidak baik di sosmed karena banyak yang akan meniru karena merasa si anu itu baik-baik saja.

GUNAKAN MASKER dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat
Pastikan hidung dan mulut tertutup. Jangan sampai hidung nongol di atas masker. Kalau punya hidung mancung ya tetap kelihatan mancung meski pake masker, jadi tidak usah takut kelihatan pesek. Kalau pesek, tetap rajinlah pakai masker karena selain bisa menutupi pesek hidung juga ga bakal tambah pesek kok.

Pake masker sesak nafas???
Itu sih perasaan Anda saja. Sugesti karena tidak biasa.
Kami di RS pake masker dobel-dobel berjam jam tetap otak bisa bekerja dengan baik mendiagnosis dan melakukan terapi.

CUCI TANGAN dengan air mengalir dan sabun dengan cara dan teknik yang benar
Bila tidak ada air dan sabun, gunakan hand sanitizer dengan teknik yang benar juga. Jangan asal-asalan. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan (Yang ini sih wajib dan kudu jauh sebelum pandemi. Pakai air dan sabun jangan hand sanitizer). Sebelum menyentuh area wajah, sesaat begitu pulang dari luar langsung cuci tangan dulu dan mandi.

SEGERA BEROBAT KE RS bila merasakan gejala panas dan atau batuk dan atau pilek, apalagi kalau sesak. Pasien kalo disuruh ke RS pada takut, takut ketularan. Kalau ke mall, ke cafe, nginap di hotel tidak pada takut. Padahal di RS ada standar cara desinfeksi untuk mengatasi penularan penyakit infeksi oleh tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), yang tentunya hal ini tidak (atau belum tentu) dimiliki oleh pelayanan publik non RS lainnya.

TINGGAL DI RUMAH SAJA.
Tidak usah pakai alasan anaknya bosan. Yang bosan anaknya apa ortunya? Biasa pagi-pagi kirim anak ke sekolah atau TPA, sekarang seharian sambil WFH harus mendampingi anak. Adalah tugas dan kewajiban ortu mendampingi anak, menikmati waktu heboh dan rusuh bersama anak 24 jam penuh di rumah. Kapan lagi bisa kerja sambil mengasuh anak di rumah? Berpikir positif bahwa ini berkah terselubung dari pandemi, banyak waktu berkumpul bersama keluarga yang tinggal serumah (sekali lagi yang tidak tinggal serumah TIDAK USAH KUMPUL-KUMPUL memanfaatkan waktu yaa).

Sayangi diri sendiri dan keluarga Anda. Tetap sehat n waras yaaa…

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: