Cerita Panjang Penyintas Covid-19

Ini cerita panjang pasien covid19, yg info nya sdh sembuh msh isolasi.

Cerita pak Bagio Riawan (mantan Dir PLN) yg kena Covid 19….
Prologue*
Sudah banyak tulisan dan artikel yg mengulas ttg SARS Cov-2 dan bagaimana kita mempersiapkan diri menjaga kesehatan khususnya bagi lansia spt kita ini. Dan rasanya cukup sbg referensi kalo kita terpapar.
Olahraga yg teratur yg saya jalani adl. bersepeda 3-4x seminggu @ 30-60 menit dan terkadang main golf dg teman² pensiunan PLN dan bergabung Ling Tien Kung (virtual zoom)
Aktifitas ke kantor, hanya 2x seminggu mulai pk 10 s.d pk 15.00 kalo² ada yg perlu tandatangan atau penyelesaian laporan2. Kegiatan rapat lebih banyak menggunakan fasilitas zoom, baik dg kantor Sby maupun Jkt.
Jadwal keseharianku sangat teratur, olahraga, tidur cukup 6-7 jam meski tetputus utk ke toilet dan tahajud.
Makanan rasanya juga cukup nutrisi.
Namun demikian saya tetap minum tambahan multi vitamin + mineral. Saya memilih yg mempunyai kandungan yg lengkap, ada vitamin A, B, C, D & E serta mineral mineral Zinc Sulfate
https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/blackmores-multivitamins-minerals-30-tablet
Kondisi kesehatanku selalu aku usahakan baik dan fit. Karena aku punya masalah hipertensi semenjak usia 45 th dan masalah batu ginjal khronis semenjak mahasiswa s.d saat ini sudah mengalami operasi batu ginjal 6-7x.
Juga rithme jantung yg tidak stabil. Sehingga s.d sejarang tiap hari mengkonsumsi Norvas 5mg, Concord 5mg dan thromboaspilet.
Ini yg dikemudian hari saat terkena Covid19 menjadi penghambat proses penyembuhan
https://www.alodokter.com/zinc-sulphate
https://www.alodokter.com/vitamin-d
https://www.alodokter.com/5-alasan-penting-mengonsumsi-vitamin-c
https://www.alodokter.com/vitamin-e

Dialogue

  1. Proses terpapar Covid19 & keputusan harus Rawat inap
    Senin 27 Juli saya memimpin rapat komite audit dengan mengundang 2 direktur & staf secara bergilir.
    Rapat semula di ruang biasa yg saya gunakan utk zoom meeting.
    Krn suatu alasan, ruang rapat dipindah ke ruang meeting (berupa ruang kaca) dg AC cassete diatas, ventilasi (buruk) dg pintu kalo dibuka mengganggu ruang meeting yg lain.
    Gpp, toh yg hadir sdh dibatasi 5 orang dg kursi sdh diatur phisical distancing, staf lain bila diperlukan bisa bergabung dg zoom.
    Rapat pertama lancar, 5 org
    Rapat kedua, direktur yg pertama tidak keluar ruangan dan ikut nimbrung rapat kedua dan direktur kedua membawa staf, jadilah diruangan ada 8 orang. 😭
    phisical distancing ambyaar..😭
    (Direktur kedua adalah suspect, OTG. Besoknya ybs demam dan swabtest, ternyata positif Covid19)
    Rabu saya dapat berita telah kontak dg OTG/Suspect, kamisnya saya swabtest dan hasilnya pd sabtu sore 1 Agst.
    Semenjak dpt berita hari rabu tsb, saya langsung isolasi diri di kamar anak saya (yg sdh menikah & rumah² sendiri)
    Saya berpikir jangan sampai load-viral dalam tubuh saya mampu menulari anggota keluarga.
    https://health.grid.id/read/352241706/viral-load-faktor-penting-berperan-pada-penularan-virus-corona
    Sabtu malam saya mencari RS rujukan khusus perawatan Covid19, RSPP, RSPI yg mempunyai kerjasama dg AdMedika PLN semua penuh dan waiting-list.
    Saya menyadari, bhw saya mempunyai faktor komorbid hipertensi, batu ginjal khronis dan denyut jantung tidak stabil.
    Maka penyembuhan saya harus terkontrol dan terukur.
    Saya tidak merasakan sakit, hanya mriang² sedikit dan saya ambil obat flu di klinik PLN (azithromicyn, Rinos, Actifed) dan multivitamin sy minum double, sambil nunggu hasil swabtest. Rupanya ini yg disebut sbg happy hypoxia
    https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/20/120300965/yang-perlu-diketahui-soal-happy-hypoxia-dialami-pasien-covid-19-termasuk-di
    Saya dapat ruang perawatan RS Siloam Mampang yg dibangun khusus utk menangani Covid19.
    RS ini tidak bekerja sama dg asuransi mana pun, dan tidak juga dg PLN. Saya harus bayar sendiri, ga papa. Saya harus masuk dan dirawat dg baik. Dengan pengawasan tim dokter yg memang menangani Covid19.
    Selain alasan keamanan keluarga, juga alasan faktor komorbid yg ada pd diri saya.
    Jangan sampai terjadi hipersensitif karena proses pengobatan, apalagi sampai terjadi Cytokin Storm Syndrome yg menyebabkan kematian pd penderita lansia.
    https://www.alodokter.com/seperti-apa-kondisi-hipersensitivitas
    https://sains.kompas.com/read/2020/02/20/170300223/bisa-sebabkan-kematian-pada-pasien-covid-19-apa-itu-badai-sitokin-
    Alhamdulillah, saya dapat kamar pada hari minggu pagi dan diterima di ruang emergency & segera mendapat penanganan:
  • periksa darah lengkap
  • periksa/ rekam jantung, ECG
  • Ct Scan paru²
    Dialoque
    (Lanjutan….)
  1. Phase infeksi Covid19
    Bagian ini kiranya perlu diceritakan bagaimana virus menginfeksi organ pernafasan dan paru².
    Istilah phase disini adalah apa yang dirasakan dan bukan hasil penelitian ilmiah bagaimana phase² virus menginfeksi seseorang
    Phase Infeksi Saluran Pernapasan Atas, Tenggorokan dan Bronkioli
    Rasa nyeri, kering dan panas di daerah ini timbul hari ke-3 setelah swabtest positif dan semakin berat saat dirawat di RS pd hari pertama (hr ke-4 positif)
    Meskipun nyeri tenggorokan namun tidak ada masalah untuk menelan makanan, shg makan apa saja terasa enak.
    Tidak terjadi gangguan penciuman ataupun pembauan. Mungkin karena tidak mempunyai penyakit bawaan di daerah sinus maupun kelenjar gondog.
    Dan saat terinfeksi di rumah sudah langsung mendapat pengobatan yg sesuai.
    Gejala yg dirasakan hanya ringan² saja, meski terkadang mriang² dan suhu badan paling2 naik 37,2°C di sore hari.
    Infeksi Saluran Pernafasan ini tidak berlangsung lama, krn rasa nyeri sudah sembuh pada hari ke-4 atau 5 di RS.
    Phase Infeksi Paru-Paru,
    Hasil pengukuran SpO² normal, yaitu berkisar antara 97-99% dan tidak terasa sesak nafas ataupun nyeri sedikitpun di dalam paru², baik dalam kondisi nafas biasa maupun dalam aktifitas olah napas, tarik napas – tahan di perut – keluar dr mulut pelan².
    Hanya saja di periode ini badan terasa tidak nyaman, tekanan darah naik sampai 165/90, obat hipertensi dinaikkan dari yg semula 5mg menjadi 10mg, untuk menjaga stabil dibawah 140/80.
    Dimaksudkan agar proses pengobatan Covid19 dapat berjalan efektif dan tidak terjadi infeksi yg meluas sbg dampak faktir komorbid, hipertensi.
    Infeksi paru² ini ditunjukkan dari perbedaan hasil Ct Scan tgl 2 Agst (saat masuk RS) dan tgl 13 Agst (setelah demam tinggi*), yg menunjukan multifokal GGO di kedua paru ec pneumonia, typical viral – terkesan bertambah.
    Sebelumnya hanya bercak kecil di paru² kiri. 😭
    *) Puncak terinfeksi adalah tgl 11 Agst (hari ke-9) di RS, dimana mengalami demam tinggi s.d 38,5°C.
    Pagi itu juga mendapatkan suntikan paracetamol melalui infuse, dan bersyukur siang menjelang sore sudah mereda.
    Malamnya bisa tidur nyenyak dan berkeringat, baju sampai basah. Paginya terasa segar dan badan terasa semakin sehat dan stabil
    Phase recovery infeksi
    Badan terasa semakin sehat pd hari ke-12 perawat di RS, sudah semakin stabil dan mulai bisa tidur nyenyak meski harus sering ke toilet krn infuse obat² pd malam dan harus minum banyak.
  2. Proses Pengobatan
    Berikut ini menceritakan tahaoan² pengobatan selama 16hr di RS, dimana swabtest hr ke-15 dinyatakan negatif oleh RS Siloam.
    Tulisan ini bukan hendak menggurui para ahli medis di RS² rujukan Covid19, tapi merupakan rangkuman hasil diskusi dg tim dokter yg merawat, yg terdiri dari dokter² spesialist paru², soesialist penyakit dalam dan tentu didukung radiolog & spesialist jantung
    Virus ini bekerjanya seperti parasit (benalu) yg tinggal dg cara mengimflamasi dan merusak paru² yg ditempeli. Paru² lah tempat inang yg nyaman bagi virus ini.
    Perjalanan menuju ke paru² s.d menginfeksi paru² dari informasi yg ada adl 3-4 hr semenjak virus masuk tubuh dan dirasakan mriang² ringan bagi penderita.
    Karena masuknya melalui saluran pernafasan, mk virus juga menyerang daerah ISPA, tenggorokan dan bronkioli menuju paru².
    Bagi seseorang dg kondisi tubuh yg fit & sehat, infeksi saluran pernafasan ini terasa ringan² saja, nyeri tenggorokan dan terasa kering sedikit panas. Namun tetap dapat makan dan menelan dg tanpa keluhan apapun.
    Saya bersyukur ditangani oleh tim dokter yg telah menangani banyak pasien yg tentunya sudah mempunyai standar perawat untuk Covid19.
    Yang dipimpin oleh Dr Sp paru yg ramah dan bersedia utk berdiskusi.
    Pada dasarnya obat2 yg diaplikasikan pd penderita Covid19 adalah terdiri dari:
  • Obat anti peradangan (inflamasi), khusus utk paru² & saluran pernafasan
  • obat menahan anti virus agar tidak berkembang & menyebar, yg dikenal sbg “load viral” dalam dunia kedokteran
  • antibiotik yg sesuai utk paru2, dan diberikan utk 5-7 hr-max, dan dimonitor efektifitasnya.
    Diganti setelah 5-7hari dg siklus paket obat²an kombinasi sbgmn disebutkan diatas.
    Selebihnya adalah asupan multi vitamin dan mineral utk membangun daya tahan tubuh berupa antibodi (imunitas) yg diharapkan dapat mengatasi/ mengalahkan virus dari dalam dan bahan² mineral utk membantu tubuh dalam memperbaiki sel tubuh yg rusak krn terinfeksi virus (radang/ inflamasi, bahkan cell-splassing)
    Belum ada obat anti virus SARS Cov-2 ini, yg ada adalah obat anti virus flu burung SARS, flu babi, malaria, TBC atau yg lainnya yg ada sebelumnya, ini yg diaplikasikan utk SARS Cov-2.
    Pemberian anti biotik, adalah untuk mencegah infeksi bakteri yg justru dikhawatir lebih berbahaya dr infeksi virus ini, khususnya bagi lansia dan penderita dg faktor komorbid. Yg dimungkinkan terjadi serangan stroke atau infeksi jantung koroner.
    (Saya tidak paham bagaimana mekanisme infeksi virus bisa mempengaruhi naiknya hipertensi dan berakibat fatal)
    Pemberian antibiotik dan obat peradangan akan lebih efektif bila obat²an ini diinjeksi mell. infuse
    Obat² oral utk membangun & meperbaiki sel yg rusak, umumnya mell obat2 oral, spt:
  • Curcuma, kandungan kunyit utk pembersihan virus, sampah virus, protein dlm darah yg mungkin mengkristal dan mengendap dalam hati
  • Zink sufate, utk memperbaiki & membangun cell yg rusak
    https://www.alodokter.com/zinc-sulphate
  • Vitamin D
    https://www.alodokter.com/vitamin-d
  • Vitamin C
    Lebih efektif bila disuntikan melalui infus yg sudah terpasang
    https://www.alodokter.com/5-alasan-penting-mengonsumsi-vitamin-c
  • paracetamol, obat panas
  • obat rutin bagi pasien yg mepunyai faktor komorbid, perlu didiskusikan dg dokter untuk jadwal meminumnya.
    (Saya ada komorbid hipertensi, radang batu ginjal & jantung tidak stabil)
    Siklus Paket Pengobatan
    Siklus-1 Kombinasi obat: Azithromicyn + Acetylcystein + Oseltamivir
    Saat sebelum rawat inap di RS, saya sudah mengkonsumsi obat2 ini selama 3 hari.
    Sehingga kombinasi obat ini hanya diberikan utk menghabiskan sisa antibiotik yg sdh saya minum
    https://www.alodokter.com/azithromycin
    https://www.alodokter.com/acetylcysteine
    https://farmasetika.com/2020/04/04/kajian-farmakoterapi-pengobatan-covid-19-favipiravi-klorokuin-oseltamivir/
    Saya diberikan oseltamivir, merupakan obat anti virus flu golongan A yg paling ringan. Mengingat obat antivirus yg lain memberikan dampak yg membahayakan bagi penderita hipertensi dan jantung yg umum dimiliki para lansia.
    Siklus-2 Kombinasi obat:
    Ceftriazone + Dexamethasone + Acetylcysteine + Oseltamivir
    Ceftriazone merupakan antibiotik yang diinjeksi melalui infuse
    https://hellosehat.com/obatan-suplemen/obat/ceftriaxone/
    Dexamethasone, merupakan obat keras anti oeradangan yg takarannya harus pas dan disuntikkan melalui infuse. Ini merupakan obat peradangan/ inflamasi kerusakan organ tubuh karena virus dan menghentikan peradangan.
    https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53087973
    Penggunaan Dexamethasone, perlu dibarengi dg kontrol test darah C-RP, untuk mengetahui kadar C-Reactive Protein dalam darah. Orotein ini sbg penanda adanya peradangan dalam tubuh. Protein-C reactif dihadilkan oleh hati dan kadarnya akan meningkat sebagai redpon tubuh terhadap peradangan (inflamasi).
    Ini dibersihkan dg Curcuma.
    Pengendalian jumlah C-RP untuk menghindari hipersensitif proses pengobatan dan bahkan reaksi berlebih yg dapat melahirkan Cytokin Storm Cyndrome dan berdampak kematian.
    https://www.smarterhealth.id/diagnosis/crp-c-reactive-protein/
    Saat masuk RS pd tgl 2Agst: test C-RP 9,97 normalnya dibawah 5
    Siklus-3 Kombinasi obat:
    Levofloxation + Dexametaxone + Acetylcysteine + Methisoprinosine
    Siklus ini merupakan periode pemulihan setelah pasien melewati masa kitis demam pada hari ke-11.
  • Levofloxation, adalah antibiotik yang diinjeksikan, cara kerjanya berbeda dg antibiotik terdahulu.
    https://hellosehat.com/obatan-suplemen/obat/levofloxacin/
  • Methisoprinosine, obat oral yg diberikan 4x sehari, fungsi dan penggunaannya adalah sbb:
    https://www.alodokter.com/methisoprinol
    https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/isoprinosine-500-mg-8-tablet
    Menurut kajian akademis, apabila seseorang telah melewati masa krisis hari ke-11 tsb dan semua kondisi tubuh stabil, maka Ct-value nya sudah rendah sekali dan bahkan sudah Nol pd hari ke-14.
    Ct value adalah nilai-jumlah virus yg berpotensi utk menular kpd orang lain.
    Menurut Pedoman ke-5 Kemenkes, seseorang yg sudah dirawat 14hr, teorinya sdh tidak berpotensi menular.
    Meskipun hasil swabtest pasien masih positif*).
    Sedangkan standar WHO, mensyaratkan harus 2x swabtest dan negatif berturut², baru pasien diperbolehkan pulang & isolasi mandiri.
    Saat saya diijinkan keluar RS, swabtest sudah negatif, pd hari ke-16
    Dan saya dipersilahkan utk isolasi mandiri di rumah.
    Sebagai informasi tambahan, bahwa utk monitor perkembangan virus dan efektifitas aplikasi kombinasi obat, dilakukan:
  • Ct scan paru², yaitu saat awal & selesainya setiap siklus paket pengobatan
  • test darah lengkap dan dimonitor leukositnya sampai normal dibawah 10rb.
    Saat demam dan masa2 perang dg virus, leukosit naik sampai 12.720.
    Dan pd hari ke-14 dilakukan test, sudahvturun & kembali normal pd 9.380 dibawah 10.000
  • test C-PR, utk melihat sampah virus dlm darah
    *) bbrp kasus swabtest pasien yg masih positif, bahkan sampai 1 bulan setelah masa pengobatan 14hr. Hal ini bisa terjadi karena tingkat penyebaran virus (load viral), faktor hipersensitif krn pengobatan atau hal² lain karena faktor komorbid dan usia.
  1. Persiapan diri untuk menjalani isolasi Perawatan Covid19
    Hal yang ngga banyak dibahas & didiskusikan dalam proses penyembuhan dalam karantina di RS adalah persiapan diri, baik phisik maupun mental.
    Menurutku persiapan diri ini sangat penting, karena kunci penyembuhan penyakit ini adalah “kita harus selalu gembira, relax, semangat dan ga boleh stress”.
    Dapat tidur nyenyak, BAB lancar, makan senang & enak semuanya dijalani dg gembira.
    Meski gampang diucap, susah mewujudkannya.
    Persiapkan kebutuhan untuk bepergian selama 15-20 hari, pilih pakaian kaos dan trainning yg nyaman selama berada di karantina, seperti mau berlibur layaknya…
    Pakailah pakaian yg bagus dan tunjukan bahwa dirimu tidak sakit, tp selalu cerah dan gembira.
    Ketika sampai RS & mendapatkan ruang perawatan yg kurang, jangan mengeluh dg fasilitasnya, lengkapi ruang karantina sesuai selera dan minta dikirim dari rumah apa² yg dibutuhkan sebagaimana kamar hotel bintang lima.
    Bawa & siapkan perangkat gadget selain HP dan tambahkan paket data yg maksimal utk jangka waktu sebulan.
    Agar bisa bebas browsing:
  • Cinema, film2 dr Netflix
  • Tauziah, Pengajian, Travelling, dll dari You Tube
  • Ndengerin musik pengantar makan, relax tiduran dr Spotify
    Silahkan bergembira dan bernyanyi sendiri (kalo seruangan sendiri), kalo ada pasien yg lain ya bawalah wireless-earphone.
    Bawa notes dan ballpoint untuk mencatat hal² penting selama proses pengobatan.
    Tulis kegiatan dan kondisi mu utk dikomunikasikan dg keluarga di rumah yg tidak boleh membezoek.
    Sering² vidio call utk mengobati kangen putu.
    Kegiatan menulis dan mencatat ini penting, agar otak kita tetap aktif dan fokus.
    Ada bbrp kasus penderita Covid19, selesai karantina & perawatan di RS menjadi seperti orang bingung, linglung bahkan alzeimer.
    Usaha menghibur diri memang perjuangan yg tidak mudah, apalagi saat berdiskusi dg dokter yg melaporkan ada kondisi yg memburuk misalnya. Hasil swabtest yg masih positif misalnya.
    Atau infuse yg bengkak dan pembuluh darah yg pecah karena faktor usia.
    Pada umumnya pembuluh vena lansia mengecil dan berkerut mudah pecah.
    Saya sendiri setiap 2 hari harus pindah infuse krn bengkak atau pembuluh pecah.
    Lama² saya terbiasa, dan mempersilahkan menusuk jarum infuse dimana saja sesuka perawatnya asal bisa.
    Kadang jengkel juga, ternyata ada perawat yg jago ada pula yang trondolo mencari pembuluh vena tempat infuse.
    Menyadari bahwa obat2an hanya efektif melalui infuse yg bisa langsung kesasaran organ tubuh utama yg dirawat, paru². Akhirnya pasrah saja, semakin pasrah semakin relax dan memudahkan perawatnya.
    Oya, jangan lupa bawa obat²an yg rutin dikonsumsi utk mengobati faktor komorbid penyakit bawa’an kita dan minta klinik PLN utk dikonsumsi setidak 20hari.
    Setiba di RS sampaikan kpd dokter penanggung jawab dan diskusikan boleh/tidaknya dikonsumsi dan jadwal mengkonsumsinya.
  • -0-
  • Boleh Nyalin dari salah satu WAG.-

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: