Blusukan Bu Risma

Disalin dari tulisannya Babo.-

-0-

Blusukan. Ada pengamat ahli dari UGM mengatakan bahwa blusukan itu tidak ada dalam sistem management. Saya tidak akan berpolemik secara akademis. Karena saya bukan pengamat dari kampus. Namun cerita lapangan yang mungkin bisa jadi bahan argumentatif. Ada teman kepala Daerah cerita kepada saya. Dia membiasakan setelah sholat subuh jalan ke kampung kampung seorang diri dengan kendaraan motor. Dia bertemu dengan orang yang sedang jalan ke Sawah. “ Pak, sehat ? tegurnya.“ Sehat pak.”“ Apa resepnya bapak sehat sampai seusia ini?“ Ya sabar. Ikhlas.”“ Apa ada bantuan pemda dalam kesehatan lingkungan?“ Tidak ada pak. Kami rawat sendiri lingkungan kami. Ya gotong royonglah.”“ Oh gitu pak. Baik pak. Terimakasih. Sehat selalu ya pak.”Kemudian dia datangi rumah penduduk. Biasanya ketika para suami kerja di ladang, yang ada hanya para ibu. Di teras rumah dia lihat seorang ibu sedang membersihkan rumah seraya menggendong balitanya.“ Ibu sehat ?“ Oh bapak. Sehat. Aduh mimpi apa. Bapak datang ke rumah saya.” Kata ibu itu seraya menyalaminya. “ Mari masuk pak. Maaf berantakan.” Sambung wanita itu.“ Engga perlu masuk bu. Saya hanya jalan jalan aja. Itu Balitanya sehat. Sering ke pos yandu untuk kesehatan balita?“ Pos Yandu hanya buka seminggu sekali.”“ OH gitu. Dapat susu gratis? kacang ijo gratis.? dapat vitamin gratis ?“ Hanya vitamin aja pak. ““ Oh gitu ya bu. Terimakasih.“ Tetapi itu saja udah terimakasih pak.”“ Baik bu. Saya permisi dulu.” Katanya berlalu.Dia termenung. Anggaran kesehatan dan lingkungan itu besar sekali dari APBD. Mengapa tidak efektif? Setelah itu dia membuat strategi pembangunan desa secara praktis dan terarah. Caranya? Dia undang semua kepala desa datang ke kantornya. Program yang jelimet dibuat SKPD disampaikannya dengan bahasa sederhana kepada mereka. Kemudian, dia perintahkan dana pembinaan desa yang terkait kesehatan lingkungan, kebersihan lingkungan, ditransper langsung ke kas Desa pada setiap tahun awal APBD. Jadi tidak lagi dikelola oleh SKPD. Hasilnya luar biasa. Dia dapat penghargaan dari pusat. Bukan itu saja. WHO memberi penghargaan. Semua itu karena dia terinspirasi dengan pidato Jokowi di Bogor ketika ada temu wicara dengan kepala Daerah. “ Anda semua harus tahu lapangan kalau ingin kebijakan anda dirasakan langsung oleh rakyat“. Cara Jokowi blusukan ke kampung kampung dan proyek, itu cara kerja yang sederhana namun smart. Mengapa? kita itu banyak sekali strategi pembangunan dibuat. Hebat sekali rencana itu. Tapi kadang yang buat engga pernah datang ke lapangan. Mereka sibuk membuat rencana dasarnya buku perpustakaan. Kadang melakukan studi banding ke negara lain, kemudian mencontoh. Ketika diterapkan, engga nyambung. Karena buku kampus yang buat orang lain. Negara lain bukan negara kita. Masalah kita tidak akan ditemukan solusinya di negara lain dan kampus. Tidak ada. itu hanya jadi referensi saja. Jadi di mana? ya di lapangan. Temui rakyat langsung. Lihat keadaan mereka. Berdialoglah dengan realitas, untuk sebuah kebijakan yang membumi. Tetapi untuk turun ke lapanganpun tidak hanya sekedar turun. Itu juga perlu kecerdasan seperti pelaku survey. Harus bisa menentukan random yang tepat untuk mewakili keadaan lapangan yang sebenarnya. Dari sanalah rencana dibuat untuk lahirnya keputusan yang bijak dan membumi. Itulah kekurangan Anies. Makanya kebijakan hebat menelan anggaran besar tapi hasilnya tidak dirasakan rakyat DKI. Itu juga membuat Pemda DKI tidak suka dengan Ibu Risma.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: