Ekspor Impor RI

Fajar Cahaya membagikan postingan pertamanya.

ikon lencana

Anggota Baru  · 2tuShr cponsojoreacmdu  · Keanehan dlm ekspor-impor RI Barusan ketemu teman yg biasa ekspor kayu olahan ke beberapa negara seperti AS, Jepang, Korsel, Prancis dan Jerman. Ada kejadian yg aneh dalam kegiatan ekspor-impor di Indonesia selama 3 bulan terakhir. Apa yg aneh??? Indonesia krisis kontainer !!! Para eksportir sulit mencari kontainer untuk mengirim barang2nya. Jangankan operator kontainer yg kecil-kecil, sekelas Evergreen, Cosco atau OOCL saja kehabisan kontainer. Mengapa ini terjadi?? Dan mungkin baru kali ini terjadi?? Karena kegiatan ekspor Indonesia selama 3 bulan terakhir dilaporkan meningkat tajam (khususnya ke China), sedangkan kegiatan impor merosot. Akibatnya Indonesia kekurangan kontainer. Posisi kontainer pada di luar negeri semua, terutama di China dan Amerika. Indonesia krisis kontainer. “Kan tidak mungkin Evergreen, Cosco, dll bawa kontainer kosong dari luar negeri. Harus ada isinya. Artinya harus ada impor,” kata temen eksportir kayu, tepatnya trader produk kayu olahan itu. Dia mengaku ada barang sebanyak 12 kontaineran yg belum bisa dikirim karena kontainernya tidak ada, nunggu masuk dari luar. Aku juga sempat tanya2 bagaimana ekspor kapuk randu ke India??? Permintaan kapuk randu ke India sangat tinggi. Harga kapuk randu di Pati (sentranya), hanya Rp 1.600 per kg. Tetapi sampai di India jadi U$1,6 atau sekitar Rp 23,500 (harga FOB). Dan alhamdulillah aku diajari detail2 cara mengekpor barang keluar negeri. Ternyata di zaman Jokowi ini sudah banyak aturan yg dipangkas sehingga menjadi sangat mudah. Ekspor tidak harus pakai PT atau CV, pakai UD saja ternyata bisa. Bikin CV atau UD juga cuma bayar Rp 750.000 ke notaris. Dokumen2 ekspor lain, sudah bisa diurus dalam satu atap. Tinggal nego sama buyer, cara bayarnya bagaimana. Ada banyak cara pembayaran, tapi yg lazim ya hanya dua: pakai LC atau pakai bayar dimuka (TT/tellegraphic transfer) baru sisanya ditagih kalau barang dah dikapalkan atau dah nyampai sesuai perjanjian. Kalau pakai Letter of Credit (LC), ya buyer nitip uang di bank dulu senilai barang yg dipesan, begitu barang sudah masuk kapal, duit titipan itu bisa dicairkan pihak shipper. Gak usah pusing dengan teori2 di buku yg rumit. Prakteknya ternyata sederhana. Cara kirimnya gimana: sampai pelabuhan saja (Free on Board/FOB), atau dengan pengapalannya (Cost and Freight/C&F) atau sudah termasuk asuransinya (Cost, Insurance & Freight/CIF). Kalau mau simple ya FOB saja. Apalagi sekarang lagi mahal2nya biaya pengangkutan kapal. Dalam transaksi ekspor-impor, pihak yg lebih beresiko sesungguhnya adalah pihak buyer (pembeli), bukan shipper (pengirim barang). Baik dengan skema pembayaran LC maupun DP. Jadi mengapa kita takut ekspor??? Ayo kita mulai belajar bisnis yg bener, jangan cuma negative thinking sama pemerintah terus. Pemerintah sudah banyak membenahi administrasi dan tata kelola pelabuhan/kepabeanan. Bahkan membangun pelabuhan2 baru seperti Pelabuhan Petimban. (*)

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: