RISET DI BIDANG TERMAL MENJADI SOSIO-TEKNOPRENEURSIP

Bagian pertama dari 7 bagian artikel Pengamalan ilmu menuju penyelamatan insan terlemah demi KEMANUSIAAN. Saya mencoba memberi nama pada 7 artikel ini. Gimana kalau namanya SAPTA-PRASASTI… Ufff.. Gak usah komen tentang nama sekarang deh ya… Nanti aja kalau 7 artikel ini sudah dibaca semua.

-0-

Idenya tercetus setelah saya jadi penyintas Covid19. Waktu demam berat meriang, gak bisa jalan, duduk sebentar rasanya capek sekali… Lebih sering tidur setengah sadar. Saat itu saya berpikir kalau saya mati gimana ? Masih punya hutangkah saya ? Hutang duit ? Rasanya tidak ada… Tapi hutang janji ? Aduh banyak… Banyak yang belum dipenuhi. Bimbingan S1 dan S3 masih pada nggantung… Ya Allah… Ijinkanlah saya untuk melunasi janji saya.

Mungkin karena belum melunasi hutang janji itulah saya masih dikasi hidup oleh Allah SWT. Jadi terus ngapain sesudah dikasi hidup… Nah artikel ini adalah salah satu janji yang belum dipenuhi. Sudah ditulis koq malah disimpan saja. Sedianya akan dijadikan buku bersama dengan tulisan dari beberapa yang lain, tapi sudah lebih dari setahun gak jadi-jadi. Apalagi kena pandemi… Walah malah jadi tertunda-tunda sampai entah kapan.

Ya udah saya posting saja… Toh Blog ini blog saya sendiri. Dan yang penting pesannya bisa tersampaikan terutama untuk kamu muda milenial.

-0-

Dari Riset di bidang Termal  menjadi Sosio-teknopreneursip lalu bertransformasi menjadi Pengabdian Masyarakat dan berlanjut pada Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Nusantara

Oleh : Raldi Artono Koestoer

(Guru Besar bidang Thermofluida, Departemen Teknik Mesin FTUI)

Perjalanan karier keilmuan seseorang tentu bermacam-macam, namun bagi lulusan perguruan tinggi pada umumnya dimulai dari pendidikan sarjana di Universitas dan berlanjut ketingkat yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Mengingat usia yang sudah lanjut, diri ini kurang tertarik untuk menyampaikan trayek itu yang menyerupai lagu anak ‘naik-naik ke puncak gunung keilmuan’. Justru pasca puncak itulah yang lebih banyak akan disinggung pada tulisan ini tanpa melupakan akar pendidikan dan ilmu yang telah menjelma menjadi karya dalam berbagai bentuk.

Dari tiga lokasi di Prancis yaitu Lyon, Poitiers dan Creteil (dekat Paris), tiga titik itu menjadi awal perkenalan dengan ‘Transfer de chaleur’ (Heat Transfer) dimana pada saat yang sama berkelindan dengan Aliran Dua Fase (Two-phase Flow). Sebuah peristiwa menjadikan kasus termofluida mengejawantah dalam sebuah alat yang disebut INKUBATOR BAYI, aliran alami yang disebabkan oleh Buoyanci-force menjadikan begitu banyak bahkan  sampai ribuan nyawa bayi tertolong di seantero Nusantara. Sampai dengan bulan September 2020 sudah 4100 bayi tertolong, yang hamper semua berasal dari golongan menengah ke bawah dari segi ekonomi.

Eksistensi alat ini yang sudah tersebar di 114  kota dan/atau kabupaten menjadikan nama UI harum dikalangan keluarga pra-sejahtera, kampung nun jauh di Sumba NTT, Mamberamo Papua, Ngandak Kalbar, Meulaboh-Aceh, Pesisir-barat Lampung, Cilegon-Banten, 70 an kota di Jawa dan Bali. Semua terkendali melalui sebuah Center di FTUI yang menjadi pusat informasi maupun Litbang berbagai peralatan untuk menolong bayi dan dimasa Covid-19 ini juga menjadi pusat pengembangan beberapa peralatan pencegah penyebaran virus Sarcov-2.

PENGABDIAN YANG TULUS IKHLAS menjadi kunci keberhasilan kegiatan Peminjaman Gratis Inkubator Bayi untuk seluruh Nusantara, keteladanan ini bisa memicu banyak lagi kegiatan sosial yang sekarang ini kami namakan SOSIO-TEKNOPRENEURSIP

dan sudah berkembang menjadi sebuah PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.

Cita-cita selanjutnya adalah menolong bayi prematur di negara-negara EQUATOR-BELT (Negara sekitar ekuator) dimana masih banyak diperlukan inkubator bayi untuk mengurangi AKB (Angka Kematian Bayi) yang juga menjadi salah-satu tujuan SDG (Sustainable Development Goal).

Adanya wabah pandemic Covid-19 ini menyentak kami kembali, bahwasanya penerapan ilmu yang kami miliki semakin penting adanya. Tim inkubator-UI pada bulan Mei memutuskan untuk bertransformasi menjadi Tim ACOVUS-UI (anti Corona Virus) disebabkan adanya tantangan dari RSKGM-UI untuk membantu mereka dalam mambasmi virus di berbagai ruangan RS Gigi di Salemba 4. Dimulai dengan Bantuan kami pada tim Alumni FTUI yang menyumbangkan – Bilik Disinfeksi Cepat BDC 04 – pada berbagai RS. Menyusul kemudian beberapa Alat Anticovid-19 kami buat prototype dan manufakturingnya. Beberapa diataranya adalah PURIDIS (Purifier and Disinfection), Mesin Hisap Aerosol, Lampu HF-UVC (Human-Friendly UVS) dan Lampu SPi-DEC. Beberapa sudah digunakan di Rumah Sakit. Mohon doa anda semoga niat kami menolong sesama dari penularan covid ini dapat terlaksana sebaik-baiknya.

Kata Kunci: Transfer de chaleur (Perpindahan Kalor), Aliran 2 fase, inkubator bayi, Buoyanci-force, Sosio-teknopreneursip, Pengabdian Masyarakat, Pemberdayaan Masyarakat, bayi premature, Covid-19, Equator-Belt.

TOPIK

Bagaimana sebuah riset dibidang Termal bisa sampai menjadi sebuah

Gerakan nasional Pemberdayaan Masyarakat dalam menolong Bayi Prematur di seluruh Nusantara

dan kemudian dimasa pandemic ini Tim inkubator-UI  bertransformasi menjadi Tim Anti Corona Virus (disingkat TIM ACOVUS-UI) yang membantu pencegahan penyebaran virus dan membasmi virus SarCov-2 yang bertebaran di udara maupun yang menempel pada benda-benda dalam ruang.

TUJUAN KHUSUS

Meluruskan Kembali peran riset yang sebenarnya, karena di Indonesia ini sekarang arus utama mengarah ke jalan yang kurang sesuai dengan tujuan riset sebenarnya. Sehingga periset muda mengira bahwa tujuan riset gunanya untuk menulis di Saintifik jurnal semata-mata, padahal tujuan riset jauh lebih mulia dari sekedar menulis di jurnal. Riset sebenarnya adalah untuk bisa menjawab dan mendapatkan solusi dari persoalan masyarakat dengan metode ilmiah. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

-0-

BAGIAN 1 – ENERGETIQUE ET DYNAMIQUE DES SYSTEME COMPLEXE

Awal kisah ini  dimulai dengan selesainya disertasi S3 dibidang (yang mereka sebut saat itu, karena kemudian berubah juga), – Energetique et Dynamique des systeme complexe -. Judul disertasi dipilihkan oleh pembimbing utama, tentu saja karena saya tidak mampu memilih sebuah judul yang bermakna dalam Bahasa Prancis yang konon bernuansa ‘beaux-art’ (seni yang indah). Setelah 2x usul judul tidak diterima juga, akhirnya dibikinkan oleh beliau. 

– Capteur de flux thermique a methode de zero en vue d’utilisation dans un boucle d’essai d’ebulition sous refroidie – .  

Hmmm… menuliskan judulnya sambil mengingat-ingat merupakan effort tersendiri. Tahun 1984 – 1985 masa akhir dari sebuah episode awal perjuangan ilmiah. Kalau saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi demikian: Sensor fluks kalor Metode Nol untuk penggunaan pada untai uji pendidihan pra-jenuh-likuid.

Musim dingin yang cukup ekstrim (untuk ukuran mereka) menerpa Paris (France) saat itu, karena bila saya keluar pintu bangunan laboratorium jam 04.00 pagi dini hari, saya kesulitan membuka pintu luar karena terhalang oleh salju yang sudah setinggi dengkul saya. Lab tempat saya bekerja berada di Creteil (Banlieue Parisienne, kota satelit sekitar Paris, suburb sebelah tenggara).  Pulang ke rumah di Stains (utara Paris) naik mobil VW Pasat yang saya beli 2 tahun sebelumnya seharga 1000 Francs (dulu mata uangnya belum Euro). Sebelah kiri mobil sudah penyok tak karuan entah ketabrak apa (makanya bisa beli murah), tapi sebelah kanan masih mulus. Jadi kalau difoto selalu dari sebelah kanan.

Pembimbing utama saya Prof Pierre THUREAU dan pembimbing kedua Prof George PIAR, keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda. Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bimbingan mereka yang tulus. Bimbingan yang sewajarnya diberikan oleh seorang guru yang tidak dibuat-buat dan tanpa pamrih apapun juga. Semoga mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Setelah puluhan tahun lewat saya merasa makin lama bimbingan mereka itu makin berguna sekalipun saat itu saya menerima dengan berbagai perasaan, baik sedih, gundah, bingung, kesal, maupun senang… Saya terharu.

Penguji disertasi ada beberapa orang selain dua Prof pembimbing diatas, diantaranya ada penguji eksternal Prof Cazin (baca Kazang) dari ENSAM Ecole Nationale Superieure d’Arts et Metiers de Paris. Mr Debray Docteur-Ingenieuer Maitre de Conference, Mr Godin Docteur-Ingenieuer Maitre de Conference. Disaksikan oleh beberapa teman dari Indonesia diantaranya ada sesama dosen FTUI (Prof Budi Susilo Supanji). Hari itu tertanggal 28 Januari 1985.

Sama seperti yang lain, setelah lama kita lewati waktu dan pengetahuan kita bertambah, maka terasa bahwa disertasi kita itu banyak kekurangannya. Namun sekalipun demikian saya masih sempat menulis 2 artikel di jurnal ilmiah tentang sensor tahun 1986 dan 1987. Dan kalau sekarang baca karya itu, pertama rada malu terhadap isinya yang sudah out of date (walaupun tidak terlalu sih….) namun saya tetap terkagum-kagum menyangkut kemampuan saya menulis dalam Bahasa Prancis, yang tidak mungkin lagi saya lakukan sekarang ini. Tentu saja ini karena dibantu koreksi Bahasa yang banyak sekali dari Prof Thureau pembimbing utama.

Berbagai kisah teman-teman sesama kandidat doctor di Prancis membuat saya kadang masygul (kata ini sudah jarang terdengar, apa artinya lihat KBBI versi google: sedih, murung) karena beberapa diantara kami yg datang th 1980 ada yang Kembali pulang setelah setahun bahkan 2 tahun, karena berbagai sebab. Mereka yang bertahan lebih dari 2 tahun melanjutkan dengan berbagai kondisi juga. Sebagian mulus saja 4 th selesai dan Sebagian tersendat-sendat sampai dengan 5 th, ini termasuk saya. Ada 1 orang Angkatan saya senior banget dari Ekonomi-UI sudah lebih dari 5 th toh tidak selesai juga, sampai pulang gagal, pensiun dan wafat. Sebaliknya satu lagi dari ekonomi malah kariernya moncer di Keuangan Negara bapak DN. Sampai dengan kabinet Jokowi yang pertama beliau masih sering berada di sebelah JKW sebagai pejabat tinggi negara bidang ekonomi keuangan. Teman seangkatan dari MIPA yang berangkat Bersama tahun 1980 itu seingat saya hanya 2 orang yaitu Suharjo Purtaji dan Djati Kerami (Alm).

Sedikit pengalaman dalam perjalanan mengerjakan tesis (di Prancis disertasi S3 disebut tesis) sedangkan S2 (DEA atau DESS) mereka menyebutnya ‘memoire’ bacanya memoar. Tersebutlah suatu saat saya dikirim ke Grenoble untuk stage (semacam training kerja praktek) sebuah kota di sebelah tenggara Prancis yang ternyata berada di lembah yang dikelilingi oleh 7 gunung. Naik TGV Paris-Lyon lalu nyambung kereta biasa Lyon-Grenoble. Disitu ada Pusat Studi Nuklir Grenoble (CENG – Centre d’Etude Nuclaire de Grenoble), yang merupakan salah satu pusat riset Prancis dibidang Nuklir. Ecek-eceknya disuruh belajar Aliran Dua-Fase dari pakarnya disitu Namanya DELHAYE. Memang jaman itu pakar ini banyak papernya dibidang Aliran Dua-Fase dan beliau salah satu penulis Handbook of Multiphase. Tentu saja saya senang melihat berbagai fasilitas nuklir, sekuriti dan savety nuklir dan Anti-nuklir (agak lucu… karena yang mereka sebut energi anti nuklir saat itu sekarang disebut energi-alternatif atau juga EBT Energi Baru dan Terbarukan, mis: Energi Matahari, Bio-energi dll). Setelah hari pertama diterima oleh bos dan wakil bos, lalu diajak jalan sedikit serta dikasi lihat Sebagian fasilitas, wakil bos bilang ‘Nanti 2 hari lagi anda presentasi ya didepan pakar-pakar kita disini’… Duh… mati aku ! Wong ngomong Prancis aja masih gak becus, koq disuruh presentasi lagi… Disamping itu topik tesis saya sendiri juga masih belum terlalu jelas arahnya. Jadi saya harus ngomong apa nih ?

Jadilah 2 malam itu diriku meriang tak bisa tidur, disamping juga Grenoble cuaca sangat dingin dan selalu bersalju karena daerah pegunungan. Pemanas di dormitory itu terasa kurang hangat walau sudah pol dinyalain… Namun wakil bos itu tahu kalo saya gak siap dg presentasi. Besoknya saya disuplai beberapa dokumen tulisan dan paper dari Prof saya, jadi lumayanlah, bisalah saya bikin beberapa bahan. Tentu saja jaman itu belum ada internet, tapi system library mereka layanannya sangat baik. Jadi rujukan apapun yang kita minta mereka bisa menyediakannya.

Tibalah harinya ada 30 an orang pakar energi berkumpul diruangan untuk mendengar presentasi saya. Dengan Bahasa Prancis yang terbata-bata sambil berkeringat dingin jadilah saya ngomong ngalor-ngidul dari bahan yang disediakan wakil bos kemarin. 40 menitan presentasi berikut 15 menit tanya jawab, akhirnya lewat juga. Alhamdulillah sudah lewat… Gak penting bagus atau tidak yang penting sudah lewat … itu saja yang ada dalam pikiran saya. Setelah pertemuan selesai saya langsung pulang dan tidur puas-puas untuk membalas 2 malam panjang yang bikin meriang dan tak bisa tidur.

Lain daripada itu, saya terkagum-kagum terhadap… bukan peralatan yang canggih tetapi terhadap penelitian mereka yang sangat nyata (real and serious research, in fact). Peta jalannya tergambar di dinding. Semua topik riset ada tujuan yang jelas, selain itu dokumen internal banyak sekali, malah jauh lebih banyak dari publikasinya di jurnal. Rupanya dokumen internal inilah yang jadi inti kemajuan mereka.

Bagian 2: Pendidikan dan Pengajaran

Mengajar di Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Gas wabil khusus untuk mata kuliah Perpindahan Kalor. Saat itu masih berbagi dua dengan Prof SWD (alm) yang sudah menjadi dosen kami mhs teknik dimasa kuliah tahun 1973-1978. Tahun 1987 saya mulai mengajar sendiri dan tahun 1988 kuliah di Tek Gas digantikan oleh Nasikin (skr Prof Nasikin dari Dep Tek Kimia). Di jurusan Tek Mesin disamping Perpindahan Kalor, ada beberapa mata kuliah lain yang pernah saya ampu misalnya Konversi Energi (Skr Konversi dan Konservasi Energi), Sistem Pembakaran, Pengukuran Teknik.

Tahun 1985 s/d 1987 merupakan masa peralihan dari system lama (system naik tingkat setahun sekali) kepada system baru SKS (Sistem Kredit Semester). Konversi system kurikulum lama 5 tahun (kalau naik tingkat setahun sekali) untuk jadi INSINYUR kemudian menjadi system SKS dengan total 166 SKS untuk jadi ST (Sarjana Teknik). Walau bingung sana sini… toh gerbong kereta api Pendidikan ini tetap jalan terus. Dan sarjana yang berkarier diberbagai bidang teknis maupun non-teknis, sukses juga baik di pemerintahan maupun industry swasta.

S/d tahun 2005 saya selalu ikut dalam penyusunan kurikulum setiap 5 tahun sekali. Walaupun kurikulum itu berubah tahun demi tahun, tetapi perubahan itu tidaklah signifikan. Karena kelihatan bahwa kebanyakan dosen enggan untuk berubah, sehingga banyak mata kuliah yang Namanya diganti tapi isinya tetap sama saja.

Bagian 3. Kerjasama FTUI- Pertamina Research Grant

Pada periode itu juga kami memimpin proyek Kerjasama FTUI Pertamina 1991-1996. Ketua proyeknya Dr.- Ing Rachmantio dahulu Ketua Jurusan Metalurgi dan pernah

 juga jadi Ketua Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia. Namun saya tidak ingat tahun berapa. Saya jadi Wakil Ketua Program yang menjadi seperti Ketua Pelaksana Harian Research Grant Program FTUI-Pertamina.

-0-

Bersambung ke bagian kedua, yang akan diposting beberapa hari lagi. Salam.-

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: