Jokowi Seniman Politik

Oleh : Bakhtaruddin Nasution

JOKOWI SENIMAN POLITIKSalah satu perbedaan utama antara Presiden Jokowi dengan 6 presiden pendahulunya adalah “membuat lawan menjadi kawan”. Inilah seni. Inilah seni politik yang agung. Manakala keenam presiden sebelumnya cerdung “menghabisi” lawan politiknya, Jokowi malah merangkul lawan politik dan orang-orang yang menyepelekannya. Kepiawaian dan kebesaran hati dalam merangkul lawan politik dan orang-orang yang menyepelekannya adalah kunci pencapain prestasi yang diperoleh Jokowi. Sebelum menjadi cawapres JK boleh dikata tidak respek kepada Jokowi. Akan tetapi, Jokowi (dan Bu Mega/PDIP) merangkul JK untuk meraih suara Golkar dan Indonesia bagian Timur yang cukup besar dalam usaha memenangkan pemilihan. Hal yang hampir sama dengan MA. MA sebelum jadi cawapres kurang respek juga kepada Jokowi. Walau demikian, Jokowi (dan Bu Mega/PDIP) merangkulnya untuk mengamankan suara pemilih NU beserta simpatisan ulama yang kurang lebih 30 jutaan pemilih. Seni politik Jokowi yang amat sangat luar biasa (kalimatnya rancu) tapi biarlah, yang baru satu-satunya terjadi di dunia adalah merangkul lawannya: capres dan cawapres PS dan SU menjadi mitra dalam pemerintahannya. Membuat lawan menjadi kawan bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak orang yang bisa melakoninya. Untuk itu diperlukan hati yang suci dan jiwa yang besar. Itulah yang dimiliki seorang Jokowi.Rangkulan Jokowi terhadap PS dan SU menimbulkan dampak positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. Masyarakat yang sebelumnya terpecah dalam kelompok cebong dan kampret, islah, rujuk, bertaut, dan bersatu kembali dalam proses menuju Indonesia maju jaya bermartabat. Di sisi lain, kendala politik terhadap gerak langkah pembangunan demi kesejahteraan rakyat berjalan mulus, nyaris tanpa hambatan. Hal ini jelas berbeda dengan periode pertama pemerintahan Jokowi. Ketokohan dan prestasi Jokowi sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan menobatkan dirinya sebagai panutan oleh sebagian besar masyarakat, termasuk member dari DDB ini, agaknya. Pertanyaan yang menggoda saya sehingga menulis tulisan sederhana ini, apakah kita telah “manut” sembari “nurut” Jokowi? Apakah kita telah berupaya menjadikan lawan menjadi kawan? Atau justru berupaya “menghabisi” lawan politik kita yang sebenarnya masih saudara kita? Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang. Hunjamkan pertanyaan itu pada diri sendiri.

Padang, 26 Maret 2021.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: