Ekspor Impor RI

Fajar Cahaya membagikan postingan pertamanya.

ikon lencana

Anggota Baru  · 2tuShr cponsojoreacmdu  · Keanehan dlm ekspor-impor RI Barusan ketemu teman yg biasa ekspor kayu olahan ke beberapa negara seperti AS, Jepang, Korsel, Prancis dan Jerman. Ada kejadian yg aneh dalam kegiatan ekspor-impor di Indonesia selama 3 bulan terakhir. Apa yg aneh??? Indonesia krisis kontainer !!! Para eksportir sulit mencari kontainer untuk mengirim barang2nya. Jangankan operator kontainer yg kecil-kecil, sekelas Evergreen, Cosco atau OOCL saja kehabisan kontainer. Mengapa ini terjadi?? Dan mungkin baru kali ini terjadi?? Karena kegiatan ekspor Indonesia selama 3 bulan terakhir dilaporkan meningkat tajam (khususnya ke China), sedangkan kegiatan impor merosot. Akibatnya Indonesia kekurangan kontainer. Posisi kontainer pada di luar negeri semua, terutama di China dan Amerika. Indonesia krisis kontainer. “Kan tidak mungkin Evergreen, Cosco, dll bawa kontainer kosong dari luar negeri. Harus ada isinya. Artinya harus ada impor,” kata temen eksportir kayu, tepatnya trader produk kayu olahan itu. Dia mengaku ada barang sebanyak 12 kontaineran yg belum bisa dikirim karena kontainernya tidak ada, nunggu masuk dari luar. Aku juga sempat tanya2 bagaimana ekspor kapuk randu ke India??? Permintaan kapuk randu ke India sangat tinggi. Harga kapuk randu di Pati (sentranya), hanya Rp 1.600 per kg. Tetapi sampai di India jadi U$1,6 atau sekitar Rp 23,500 (harga FOB). Dan alhamdulillah aku diajari detail2 cara mengekpor barang keluar negeri. Ternyata di zaman Jokowi ini sudah banyak aturan yg dipangkas sehingga menjadi sangat mudah. Ekspor tidak harus pakai PT atau CV, pakai UD saja ternyata bisa. Bikin CV atau UD juga cuma bayar Rp 750.000 ke notaris. Dokumen2 ekspor lain, sudah bisa diurus dalam satu atap. Tinggal nego sama buyer, cara bayarnya bagaimana. Ada banyak cara pembayaran, tapi yg lazim ya hanya dua: pakai LC atau pakai bayar dimuka (TT/tellegraphic transfer) baru sisanya ditagih kalau barang dah dikapalkan atau dah nyampai sesuai perjanjian. Kalau pakai Letter of Credit (LC), ya buyer nitip uang di bank dulu senilai barang yg dipesan, begitu barang sudah masuk kapal, duit titipan itu bisa dicairkan pihak shipper. Gak usah pusing dengan teori2 di buku yg rumit. Prakteknya ternyata sederhana. Cara kirimnya gimana: sampai pelabuhan saja (Free on Board/FOB), atau dengan pengapalannya (Cost and Freight/C&F) atau sudah termasuk asuransinya (Cost, Insurance & Freight/CIF). Kalau mau simple ya FOB saja. Apalagi sekarang lagi mahal2nya biaya pengangkutan kapal. Dalam transaksi ekspor-impor, pihak yg lebih beresiko sesungguhnya adalah pihak buyer (pembeli), bukan shipper (pengirim barang). Baik dengan skema pembayaran LC maupun DP. Jadi mengapa kita takut ekspor??? Ayo kita mulai belajar bisnis yg bener, jangan cuma negative thinking sama pemerintah terus. Pemerintah sudah banyak membenahi administrasi dan tata kelola pelabuhan/kepabeanan. Bahkan membangun pelabuhan2 baru seperti Pelabuhan Petimban. (*)

Demokrasi Rapuh di AS

[11:56, 1/20/2021] +62 857-78xx-2754: AMERIKA SERIKAT

Tergagap di Rumah Demokrasi

Kris Mada

Dave Salo, Jon Urbanchek, dan Mark Schubert belum memahami apa yang terjadi pada Klete Keller. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk melatih Keller sampai akhirnya ia meraih medali cabang renang Olimpiade Sydney, Athena, dan Beijing. Mereka juga kebingungan mengapa Keller bisa menjadi salah satu dari ribuan pendukung Donald Trump yang menerobos lalu menduduki Gedung Capitol di Washington, AS, 6 Januari lalu.

Schubert dan Urbanchek menelepon Keller setelah pendudukan kantor parlemen Amerika Serikat itu. Urbanchek menyebutkan, Keller menangis sepanjang 15 menit percakapan telepon dengannya, beberapa hari lalu. ”Dia tidak menyangka semua akan menjadi seperti itu,” ujar Urbanchek, sebagaimana dilaporkan koran The New York Times.

Kepada Schubert, Keller berulang-ulang meminta maaf. ”Dia terus mengatakan, Anda telah melakukan banyak hal untuk saya dan saya mengecewakan Anda. Saya tidak bermaksud menjadi seperti ini,” kata Schubert, mengulangi isi percakapannya dengan Keller.

Schubert melatih Keller selama di University of Southern California dan sebelum Olimpiade Sydney 2000. Sementara Urbanchek melatih Keller menjelang Olimpiade Athena 2004. Adapun Salo melatih Keller menjelang Olimpiade Beijing 2008. ”Saya terkejut karena dia mau ke (Washington) DC,” ujar Salo sembari menyebut Keller sebagai sosok yang pasif, pendiam, dan tidak suka konflik.

Keller adalah salah satu orang yang ditangkap aparat selepas insiden 6 Januari. Ia mudah dikenali dari video dan foto yang beredar. Di antara para perusuh, ia terlihat mencolok dengan postur tubuh setinggi 2,1 meter dan jaket tim nasional renang AS yang dikenakannya.

Selain Keller, aparat AS juga telah menangkap atau setidaknya memeriksa sedikitnya 25 aparat dan pensiunan aparat. Sebagian aparat dan pensiunan itu diketahui pernah menjadi anggota pasukan khusus. Mereka, antara lain, Letnan Kolonel (Purn) Larry Rendall Brock dan Kapten Emily Rainey. Brock adalah mantan anggota pasukan khusus AU, sedangkan Rainey masih aktif di operasi khusus AD dan berkantor di Fort Bragg.

Rainey lama menjadi anggota unit perang psikologis. Bersama 100 orang dari Carolina Utara, Rainey naik bus sejauh 500 kilometer untuk hadir di Capitol, 6 Januari itu. Hukum AS membolehkan tentara terlibat organisasi politik selama tidak partisan dan tidak memakai seragam. Ia berkeras, perusuh di Capitol bukan patriot dan pendukung Trump. Perusuh disebutnya sebagai anggota kelompok Antifa, kelompok sayap kiri yang berseberangan dengan para pendukung Trump.

Perempuan itu mempertahankan pendapatnya meski berbagai bukti menunjukkan para perusuh adalah pendukung Trump. Hal itu, antara lain, berdasarkan unggahan
di media sosial oleh orang-orang yang sudah ditangkap selepas kerusuhan. Keller dan Brock, misalnya, bolak-balik mengunggah dukungannya kepada Trump.

Kabar bohong

Rainey adalah contoh warga AS yang percaya kepada banyak kabar bohong dan teori konspirasi. Sejumlah politisi Republikan, partai yang mengusung Trump, juga meyakini kabar bohong itu. Selama bertahun-tahun, sebagian warga AS percaya bahwa Trump melawan kelompok penyembah setan yang suka memperdagangkan anak-anak.

Mereka juga percaya ada kecurangan dalam Pemilu 2020 sehingga Trump kalah. Karena itu, mereka mau berkendara hingga ratusan kilometer dan menuntut Kongres AS tidak mengesahkan hasil Pemilu 2020. Semua kebohongan dan kabar yang tidak jelas itu disebarkan lewat berbagai pelantar media sosial selama bertahun-tahun.

Penyebarnya, antara lain, Letnan Jenderal (Purn) Michael Flynn dan Rudolph Giuliani. Flynn dan Giuliani sama-sama pendukung Trump. Selama bertahun-tahun, mereka ikut menyebarkan aneka hal yang tidak jelas buktinya.

Atas nama kebebasan berpendapat, sebagian warga AS menyebarkan kebohongan yang dipercaya jutaan orang. Banyak yang gelisah dan mendesak tindakan untuk mengakhiri semua itu. Facebook dan Twitter, setelah nyaris tidak bertindak selama bertahun-tahun meski ada banyak desakan, memutuskan bertindak selepas pendudukan Capitol. Akun media sosial Trump dan puluhan ribu akun penyebar kabar bohong diblokir selamanya. ”Apa yang terjadi pada 6 Januari adalah hal paling menyedihkan setelah 12 April 1861,” kata Sean Wilentz, sejarawan Universitas Princeton, merujuk pada tanggal permulaan perang saudara AS.

Banyak pihak menyebut, AS kini terbelah sama parahnya seperti kala perang saudara di abad ke-19. Pada pemilu 2016 dan 2020 terlihat jelas, daerah urban dengan penduduk cenderung beragam dikuasai Demokrat. Daerah perdesaan dengan penduduk cenderung seragam dikuasai Republikan.

Pada Pemilu 2020, Trump hanya menang di 9 dari 100 kota terbesar AS. Sebaliknya, Joe Biden hanya menang di seperenam dari keseluruhan kabupaten di AS. Biru di kota, merah di desa.

Hasil pemilu sejak 1960 menunjukkan kecenderungan Republikan menang di daerah dengan penduduk mayoritas kulit putih dan berpendidikan paling tinggi SMA. Sementara Demokrat cenderung menang di daerah yang penduduknya beragam dan rata-rata pernah kuliah.

Pemilih Demokrat yakin, Partai Republik kini dikuasai para rasialis. Sementara pemilih Republik yakin, Demokrat dikuasai kelompok sosialis. Sepanjang kampanye Pemilu 2020, iklan-iklan Republikan terus mengulang narasi sosialisme di Demokrat. ”Kita jauh dari perang saudara. Kita bukan Yugoslavia, kita bukan Spanyol. Walakin, kita jelas dalam bahaya kekerasan, terpecah adalah nama tengah negara kita,” kata Susan Stokes, pakar politik di Universitas Chicago.

Peneliti senior New American Engagement Initiative, Emma Ashford, menyebutkan bahwa AS kini benar-benar seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. ”Demokrasi yang lemah tidak bisa mencegah kekerasan,” ujarnya.

Baginya, masalah AS lebih besar dari sekadar ketidakmampuan mempromosikan demokrasi di panggung internasional selepas pendudukan Capitol. Masalah AS adalah penyalahgunaan partisan selama bertahun-tahun. Lebih mencemaskan lagi, banyak lembaga sipil tidak mampu mencegah fenomena itu. Hanya militer yang sanggup melakukannya.

Ia juga memandang pendudukan Capitol sebagai peringatan keras bagi AS. ”Jika AS tak bisa mengatur rumahnya, bagaimana mungkin AS bisa menyebarkan demokrasi atau bertindak seolah menjadi contoh demokrasi kala demokrasi di negeri sendiri lumpuh?” kata Ashford. (AP/REUTERS)
[11:56, 1/20/2021] +62 857-78xx-2754: 👆Kompas hr ini Hal 1; kolom 6-7 dst.

-0-

Diambil dari WAG, 21 Jan 2021.-n (kode 93).-

DEXAMETHASONE untuk Covid19

Obat yang murah dan dijual banyak dipasaran ternyata obat yang manjur untuk Covid19 demikian berita resmi dari Inggris. Lihat video dari salah satu stasiun TV. Ilmuwan di Inggris menyatakan bahwa obat steroid berdosis rendah ini mampu mengobati pasien covid19 yang parah.

Sila lihat di:

C:\Users\asus\OneDrive – UNIVERSITAS INDONESIA\Raldishare

-0-

Dari teman WAG: Alhamdulillah ,Aamiin3xYaa Rabbal Al-Amin.Obat ini banyak diapotik dan harganya murah 5 ribu selempeng.Tks postingannya pak UFT🤲🙏🏻

Berbagai Penyakitnya Dahlan Iskan

Tulisan ini saya salin dari WAG. Tapi memang saya termasuk pembaca setia tulisannya pak DI, sejak 2 th beliau mampirke kantor saya di lantai 6 Gd MRC. Dibawah ada link-nya kalau mau ngikuti tulisan beliau yang saat ini sedang kena Covid-19 dan disiolasi di Wisma Atlet. Judulnya Cendol Dawet, maksudnya darah beliau kadang mengental spt cendol.

-0-

Cendol Dawet

Minggu 17 January 2021
Oleh : Dahlan Iskan

SAYA sedih sekali –di saat kena Covid-19 ini. Saya harus membuang banyak sekali makanan.

Saya sendirian di kamar ini. Makanan dari rumah sakit cukup –dan enak. Air cukup. Bahkan saya minta tidak usah dikirimi teh atau kopi –sudah lama tidak minum itu.

Istri masih juga kirim makanan dari rumah. Belum lagi teman-teman. Ada yang kirim kue. Ini berat bagi saya. Saya sudah lama menghindari kue –karena pasti banyak gulanya.

Saya tidak punya sakit gula. Tapi sejak umur 60 tahun saya ikut Robert Lai: jauhi gula. Inilah kata Robert untuk orang yang mengaku sudah mengurangi gula. “Aneh, mengaku tidak lagi minum manis tapi masih terus makan kue,” kata teman Singapura saya itu.

Maksudnya: istri saya begitu.

Begitu banyak kiriman makanan untuk saya di RS.

Ada teman yang kirim Coto Makassar. Yang pakai daging capi itu. Pakai rantang besar. Cukup untuk lima orang.

Coba, bagaimana menghabiskannya.

Ada yang kirim tahu isi: sehat tapi terlalu banyak. Ada yang kirim miesua (长寿面): sedap dan segar tapi porsinya begitu besar.

Belum lagi ayam goreng, buah, dan… ini dia: ada yang kirim cendol dawet.

Maka saya pun kirim WA ke teman-teman saya: jangan lagi kirim makanan. Akan terbuang. Setiap kali saya membuang makanan hati saya menjerit: duh, ini makanan kok dibuang.

Tentu tidak mungkin saya berikan ke perawat atau petugas kebersihan. Rumah sakit ini menerapkan prinsip modern: perawat dilarang menerima apa pun dari pasien. Hatta itu hanya kue.

Itu prinsip manajemen yang baik. Yang akan bisa membentuk corporate culture yang bersih dan lugas.

Agak berbeda dengan prinsip hukum fikih, atau fekih –ikut istilah Gus Baha’. Khususnya bab yang membahas soal mubazir.

Memang itu mubazir sekali. Dilarang agama. Mubazir itu temannya setan.

Tapi kalau perawat dan petugas diizinkan menerima itu belum tentu tidak mubazir. Justru mubazirnya bisa lebih besar: rusaknya manajemen. Lalu berkembang ke arah koruptif. Dan kerusakan seperti itu nilainya jauh lebih besar. Dibanding nilai makanan yang disayang tersebut.

Padahal sistem manajemen yang rusak, sulit sekali dibangun kembali. Prinsip manajemen dalam hal ini memang tidak seiring dengan fekih.

Kenapa tidak dimakan habis saja? Agar tidak mubazir?

Tidak sanggup. Kalau saya lakukan itu justru lebih mubazir lagi: dengan terpaksa makan semua itu kesehatan saya akan memburuk. Harga obat, dokter, dan perawatannya jauh lebih besar –dari nilai makanan itu.

Ini juga soal manajemen. Yakni manajemen kesehatan pribadi.

Mengapa tidak menyuruh orang untuk dikirim ke tempat lain?

Itu keinginan saya yang utama. Tapi tidak ada orang menganggur.

Di RS ini semua sibuk. Mereka konsentrasi penuh. Pasien terlalu banyak. Kamar penuh sekali.

Keluarga saya tidak bisa. Mereka lagi karantina.

Bagi saya perawat lebih penting menyelamatkan pasien. Saya tidak mau mengganggu mereka. Saya juga tidak bisa melongok ke luar pintu.

Saya hanya bisa sedih: makanan dibuang. Maka saya sembah makanan itu sebelum saya buang. Saya minta maaf kepadanya.

Banyak makanan di kamar sebenarnya baik saja. Dulu. Bisa untuk yang menunggu. Atau dibawakan untuk siapa saja. Tapi kali ini beda. Tanpa penunggu. Tanpa penjenguk.

Dan saya ingin kamar ini tetap bersih.

Juga saya ingin badan saya tidak menggembrot –karena makan terus tanpa olahraga. Gerak saya begitu terbatas. Jalan kaki terjauh yang bisa saya lakukan: lima langkah. Dari tempat tidur ke kamar mandi.

Saya memang ingin sedikit senam di kamar. Saya bisa minta kiriman lagu-lagu senam saya. Tapi di tangan saya ini ada ”terminal” infus. Kalau banyak terguncamg darah bisa muncrat.

Hari kelima di RS –tiga hari lalu– saya di-swab lagi: masih positif. Juga masih strong positif. Padahal sudah lima hari digelontor anti-Covid.

Untung hasil test lainnya tetap bagus. Misalnya hasil test kemarin pagi:

Temp: 36,5

Blood: 135/71

Oxygen: 98

Heart beat: 81

Masih tersisa pekerjaan bagaimana membuat negatif.

Memang tidak mudah. Dokter tahu saya seorang ”residivis”. Termasuk saya ini tidak lagi punya empedu. Empedu saya dibuang 15 tahun lalu. Bersamaan dengan hati saya yang penuh kanker. Empedu itu sendiri, yang mengait di hati itu, memang sudah ikut rusak.

Kalau saya terus digelontor obat anti-virus bisa bahaya: bisa-bisa liver dan ginjal saya yang kalah. Kalau saja saya masih punya empedu masih terbantu. Tugas empedu kan memproses racun. Termasuk racun dari obat-obatan.

Dokter juga harus konsentrasi mengatasi terjadinya pencendolan darah. Dua hari pertama di RS kekentalan darah saya sudah berhasil turun 600 poin. Dari 2.600 ke 2000.

Itu belum cukup. Harus turun 1.500 lagi. Sampai tinggal 500. Atau di bawah itu.

Ketika terjadi penurunan 600 poin itu, dosis obatnya dikurangi. Dokter juga harus memikirkan dampak-dampak lainnya. Akibatnya, dua hari kemudian, angka D-Dimer itu naik lagi sedikit: 50 poin. Akhirnya dosis obatnya dinaikkan lagi. Kembali ke dosis awal.

Hasilnya: kemarin diambil darah lagi. Sudah turun lagi 400 poin. Tinggal perlu turun 1100 lagi.

Saya sendiri akan mengakhiri penggunaan istilah cendol atau mencendol itu. Tapi saya juga belum menemukan istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat.

Salah satu yang menanggapi soal cendol itu adalah Prof Dr Med Puruhito. Beliau adalah “ayatullah” penyakit jantung Surabaya. Beliau juga perintis bedah jantung.

“Istilah yang pas adalah pengentalan. Memang bisa jadi clot. Kalau ”mencendol” kurang pas. Secara fisiologis dan hemorheologis (ilmu aliran darah) adalah mengental,” tulis Prof Puruhito.

Clot itulah yang saya gambarkan seperti cendol. Meski tidak terlihat oleh mata. Ukuran cendol itu hanya bisa dilihat di mikroskop.

Intinya: cendol-cendol di darah saya itu sangat berbahaya. Terutama karena status saya yang ”residivis” itu: saya pernah terkena aorta dissection. Tiga tahun lalu. Di Madinah, Arab Saudi.

Hari itu saluran utama darah saya pecah. Sejak dari dekat jantung sampai di sekitar pusar. Sepanjang lebih 50 cm.

Saya bersyukur tidak meninggal saat itu. Terutama saat di penerbangan pulang-paksa dari Madinah ke Surabaya. Atau tiga hari kemudian: saat terbang dari Surabaya ke Singapura.

Di Singapura, saluran darah saya itu dipasangi ring. Sebanyak 176 buah.

Bahayanya: sekarang ini. Cendol-cendol itu bisa melekat, nempel, di salah satu dari 176 ring itu. Lalu cendol lain ikut menempel di cendol pertama. Pun cendol-cendol berikutnya.

Lantas, kapan saja, bisa terjadi takdir buruk: cendol itu lepas dari ring. Lalu ikut mengalir dalam darah. Kintir –dalam bahasa Jawa, entah apakah ada istilah Indonesianya.

Saat cendol itu kintir bisa nyangkut di mana-mana. Terutama ketika melewati saluran darah yang lebih kecil.

Kalau nyangkutnya di jantung, bisa berakibat serangan jantung: bisa meninggal. Kalau menyangkutnya di saluran darah otak, bisa stroke: meninggal.

Darah itu mengental, atau mencendol, akibat virus Covid-19.

Rupanya, ketika virus masuk ke badan, badan kita berusaha melawan virus Covid. Akibat perlawanan itu menghasilkan zat tertentu yang bisa membuat darah mencendol.

Entahlah. Mungkin tidak begitu. Bisa saja saya salah membaca literatur soal ini. Saya bukan dokter yang punya kemampuan membaca literatur dengan benar.

Selama di rumah sakit, saya tidak banyak bertanya ke dokter. Saya percaya penuh. Saya juga tidak pernah menyarankan harus begini atau begitu.

Saya selalu mengakui kepintaran dokter. Sampai jauh di dalam hati saya. Kebetulan semua tindakan dokter, di rumah sakit ini, cocok dengan pikiran di kepala saya.( Dahlan Iskan )

https://www.disway.id/r/1192/cendol-dawet#.YANnTXbsjaY

Sakit Jantung Darting

Dari WAG.-

-0-

Kliyengan itu krn oxy n b makanan lwt darah telat sampai otak, jadi alarmnya pertama pusing, klo smakin berat kliyengan, klo trus ya koma.
Sementara sy pindah dr sp jt/pd, krn RSIB lagi pembersihan covid.
Boleh sy teruskan info dr sp jt/pd, bhw manusia punya dua sumber listrik, pertama di batang otak bisa diukur mll EEG, n jantung diukur dgn ECG. Sumber listrik jantung ada disebelah kiri saja, ditengah ada distributor. Jadi listrik dibangkitkan dari kiri mll distributor dialirkan bgn kanan, namun bila dikiri ada gangguan distributor bisa mengantisipasi beberapa saat (semacam emergency genset). Problem yg dialami, generator kiri tsb suka ngadat sesaat shg diambil alih oleh distributor, ketika generator nyala lagi, distributor seharus segera henti, klo msh alirkan listrik maka ada interferensi denyut.
Jadi di EEG terlihat ada dua grafik yg tidak sinkron, ini menyebabkan pulsating jadi tidak beraturan shg kadang2 kliyengan krn jantung telat kerja penuh.
Mnrt bliau, ya klo terpaksa hrs pasang pacu jantung (umur battery 7 thn). Sementara u hindarkan sesak nafas hrs minum eupihylin u memperbesar pembuluh utama dari paru ke jantung.

***

NH : (Ini kawan lama insinyur).-

Sy terjemahkan keterangan dokter, bhw ternyata similar dgn permesinan, klo darah kental, pompa kerja lebih krn viskositasnya, klo pressure jantung ditambah ada batasnya, akhirnya lelah n dropp. Usahanya paling utama darah diencerkan, namun bila ada penyumbatan di pembuluh, ada sensor yg printahkan jantung u/ naikkan pressure, begitu pressure naik maka pembuluh darah kecil n halus disekitar otak tidak tahan, bisa robek atau lepas dari simpul2nya (robek bisa juga krn usia), ini disebut stroke. Darah tek tinggi bocor menggenangi ruang otak n batok kepala n menekan sel otak, bgn sel2 otak yg tergenangi terdesak n hilang fungsinya di segment tsb.
U atasi itu genangan hrs diambil/disingkirkan dgn tindakan operasi bedah mikro, u mengambil darah maka orang tsb hrs dimapping dulu kepalanya, n u di mapping kondisi orang hrs stabil (krn ketika scan kepala n msk mesin MRI yg sebelumnya minum obat pendeteksi).
Jadi dulu sy suka sakit kepala n minum obat penghilang sakit, kmrn di scan terlihat ada garis2 dipembuluh darah, si dokter lsg tanya ini dulu sering darah tinggi minum obat penghilang sakit, lho kok tahu dokter, baru dilihatkan garis2 tadi bhw setiap ada tek darah naik maka klo usia msh muda pembuluh akan antisipasi membesar diamnya. Namun ketika tek normal lagi, sisa expansion tadi berlipat membentuk garis2 n jadi semacam petanda seseorang pernah darting.
He he he berbahagialah yg tidak alami darting.
Jadi prinsipnya bisa darah kental, atau penyumbatan pembuluh darah maka muncul darting.

Mengapa Listyo Kapolri

Tulisan Karto Bugel disalin dari FB-nya Babo.-

-0-

KILAU TONGKAT KOMANDO SANG JENDRAL
(Untuk yang tabah baca, sangaaat panjang))

Orang-orang besar mulut itu kini mulai terhempas pada pinggiran jurang dalam dan tak berujung. Tanpa daya, mereka terpojok dan menunggu ajal. Adakah tangan asing akan meraihnya, pertunjukan lebih dramatis bukan tak mungkin, akan terjadi. Moment sempurna, sedang ditunggu.

Itulah alasan kenapa Jendral Listyo Sigit Prabowo harus menjadi Kapolri. Disamping prestasinya yang hebat, dia adalah orang paling mengerti bahasa Presiden Jokowi. Bukan hanya verbal, gesture hingga gimmick Presiden dimengertinya.

Kecepatan eksekusi dari perintah Presiden akan berjalan sangat efisien adalah akibat logis atas lancarnya komunikasi. Tepat sasaran atas perintah yang dimaksud akan presisi dengan hasilnya adalah karena dia sangat tahu apa yang diinginkan oleh Presiden.

Dia orang yang tepat pada waktu yang tepat.

“Apa yang membuat yakin tak terjadi pembangkangan di tubuh Kepolisian? Dia masih sangat muda dan banyak kakak kelasnya jadi bawahannya kan?”

Jendral Tito Karnavian diangkat menjadi Kapolri juga masih sangat muda. Dia berumur 51 tahun 9 bulan. Dia melompati banyak kakak letingnya di Akpol.

Memang agak janggal pada awalnya. Pola baru dijadikan budaya oleh Presiden yakni tak terlalu terikat pada tua muda angkatan seperti kebiasaan lama, namun efektifitas mulai terbangun pada tahun ke duanya.

Jendral Listyo hanya sebulan lebih muda dibanding Tito bila Januari ini disumpah. Tak ada alasan penolakan karena hal sama telah dimulai jaman Jendral Tito. Polri itu adalah instansi profesional, tongkat komando adalah tolok ukurnya.

Jabatan sebagai Kapolres pernah diembannya, bukan hanya sekali, 3 kali. Kapolres Pati, Kapores Sukoarjo dan Kapolrest Solo.

Jabatan sebagai kapolda pernah dia lalui yakni sebagai Kapolda Banten. Dia termasuk Kapolda aneh, seorang Kristen yang dapat bekerja sama dengan sangat baik di tempat di mana pada awalnya di tolak karena faktor agamanya.

“Trus apa kaitannya dengan dia tepat di waktu yang tepat?”

Kita memang sedang menyaksikan akhir drama tentang kejatuhan serigala berbulu domba dan para proxy nya serigala berbaju agama di negeri kita.

Terlalu lama sudah mulut manis mereka membuai kita dengan lagu indah tanpa akhir bahagia. Seumur hidup, kita hanya akan menjadi bangsa kelas dua tanpa pernah beranjak dan mereka..,menyimpan uang dalam jumlah fantastis di negeri seberang.

Mereka mandi uang dan berenang dalam kemewahan dengan label pemimpin. Ya mereka adalah antek penjajah sesungguhnya, para kapitalis asing.

Bak lintah, para kapitalis telah dan terus ingin menyedot seluruh kekayaan alam kita. Dan mereka, para pejabat korup, yang turut dalam hingar bingar politik kita, tidak lain dan tidak bukan adalah calo sekaligus boneka bagi kepentingan kapitalis tersebut.

Kemewahan itu kini diungkit. Dibongkar dan kemudian dijungkir balikkan oleh Jokowi demi kembali pada fitrahnya, kembali kepada asal seharusnya itu diperuntukkan, RAKYAT…!

Dulu, ketika mereka adalah bagian dari kekuasaan, tak ada alasan takut untuk bertindak suka-suka. Beberapa saat yang lalu, sempat mereka menggila dan melawan sesuka hati. Kini, proxy yang kemarin harus diciptakan, “untuk sesaat” tak lagi berkutik.

Boneka itu kemarin mereka ciptakan dari kaumnya sendiri demi aman kantong yang mulai menipis. Jadilah serigala berbaju agama. Mereka mencari dukungan dari rakyat dengan dalil agama.

Perpecahan dituju, kekacauan diciptakan demi rasa tak percaya rakyat kepada sang pimpinan, presiden terpilih..!

Melalui pandemi negara memiliki alasan melakukan re-start. Re-start yang sama juga dilakukan banyak negara di dunia akibat pandemi global Covid-19.

Sang kapitalispun tak terbebas, bahkan terjatuh dengan dengan luka lebih parah. Tak ada waktu dan biaya, mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan sesaat lupa memberi makan para proxy-nya.

Secara ajaib, pandemi mampu membuat dunia berhenti. Hingar bingar politik dan ekonomi seperti mendapat waktu rehat. Seperti gadget, dunia seolah restart.

Berita baik, akibat lima tahun kerja keras tanpa henti sang Presiden telah membuat Indonesia memiliki posisi start sempurna. Tak ada seorang pun pernah menyangka, Indonesia langsung menjadi negara paling cepat “start” dan para sponsor berebut memilih kita sebagai salah satu kendaraan pilihannya.

Lihat mereka, negara-negara yang justru makin terkapar ketika lockdown menjadi pilihan diambil.

Mereka tertatih-tatih hanya demi ingin bangun. Korban terinfeksi virus jahanam itu tak serta merta berkurang hanya karena pilihan tersebut, sementara ekonomi justru menuju jurang kehancuran..

Nilai tukar rupiah sebagai tolok ukur, terus menguat dan dinilai sebagai salah satu mata uang paling perkasa di tengah ekonomi global yang suram akibat Covid-19. Itu adalah bukti bahwa para pemilik modal sekaligus para pelaku pasar menengok dan percaya pada kita.

Kita siap melaju dan bersaing. Kompetisi fair akan membuat kita terlihat semakin tangguh sebagai sebuah bangsa.

Bersih-bersih dari dalam sudah mendapatkan moment sempurna.

Para petempur lapangan di dalam negeri yang diidentifikasi sebagai kelompok anarko telah kandas. Buruh tak lagi bersuara. Provokator lapangan digiring dan ditangkap. Hatei tumbang dan efpei pun dibuat tak lagi bernyali.

Pimpinannya dikandangkan hingga sembah sujud para pengikutnya tak lagi memiliki ruang. Ratusan rekening dibekukan hingga tak ada lagi makan gratis dapat digelar. Lapar, lemas hingga takut akan nasib di masa depan kini menghantui mereka.

Namun, itu bukan cerita kita sudah menang. Itu bukan cara kapitalis akan runtuh. Terlalu awal bangga kita teriakkan. Masih akan ada puluhan cara siap mereka upayakan demi dominasi kekuasaan yang tak mungkin diserahkan begitu saja.

Desas desus panglima perang dalam medan berbeda sedang mereka turunkan. Panglima besar sekaligus petempur luar biasa hebat dangan prestasi pernah berhasil meluluh lantakkan dunia pada era tahun 1997-1998 diisukan telah menampakkan diri.

(Paling tidak, mantan boss intelejen kita AM Hedro Priyono telah memberi peringatan.)

Dia sosok sangat berbahaya bukan bagi kelas perorangan atau perusahaan, tapi negara. Dia sosok luar biasa sadis yang mampu membuat banyak negara langsung dan seketika menjadi miskin hanya dengan satu kibasan tangannya.

Setiap jejak kakinya melangkah selalu akan meninggalkan bencana. George S*ros direktur Quantum Fund.

Jumlah uang sebagai alat perang yang akan dikomandaninya tak terhitung. Jumlah yang dalam hitungan detik dapat membanjiri sebuah negara dan meluluh lantakkan ekonomi banyak negara disasar. Dia arsitek “kehancuran” luar biasa jenius di bidang itu.

Bukan hanya Indonesia dan Asia saja pernah dibuat babak belur, Inggris gudangnya gudang orang pintar sekaligus negara sangat kaya pun sempat dibuat rontok. Negara itu tercatat sebagai yang pertama dibuat rontok sebelum kibasan berikutnya menghancurkan dunia di tahun ’97.

Soeharto dengan segala keangkuhannya dibuat tak berkutik. Sang raja perkasa yang selalu pandai bicara itu dibuat gagu. Soeharto bahkan harus menyembah IMF demi luka tak semakin dalam.

Soeharto sang penguasa 32 tahun itu langsung terkapar tak berdaya jauh disudut ring dan tak lagi dapat bangun. Dia lengser akibat sudah terluka sangat parah akibat kibasan jahat S*ros.

Bahwa demo Mahasiswa ’98 adalah apa yang menjadi lembaran hitam putihnya, itu adalah cara sejarah membuat catatan. Itu adalah apa yang terjadi sebagai seri berikutnya dalam lanjutan sebuah cerita. Soeharto sudah tak lagi hebat dan garang, dia lumpuh dan mati semangat.

“Dengar-dengar setan jahat sang kapitalis itu sudah bersiap turun?”

Bukan Listyo dihadirkan demi menghadang langkah sang kapitalis itu. Akibat yang akan dibuatnya adalah tidak terprediksi.

Sama dengan sebuah perang, perang dengan dimensi dan target yang berbeda, perang dengan dampak dan akibat yang skala kerusakannya bahkan akan jauh lebih luas dibanding dengan perang konvensional adalah perang yang akan digelar sang kapitalis itu.

Perang ini akan dimulai dengan perusakan dan pengacauan ruang fiskal hingga ruang moneter negara. Kekacauan nilai tukar mata uang kita yang tak lagi dapat di jaga dan kemudian negara jatuh dalam krisis lebih parah adalah perang yang akan dia buat sama seperti peristiwa tahun 1997 silam. Perang yang hasil akhirnya adalah merusak trust rakyat pada pemimpinnya. Chaos adalah hasil akhir dituju.

Ingat peristiwa kunjungan staf kedubes Jerman ke Petamburan?

Ingat baiat efpei pada I*IS tahun 2016 silam?

Ingat heboh pemulangan eks warga negara yang tergabung dengan I*IS di Suriah akhir tahun 2019 lalu?

Pernah dengar rencana konsolidasi I*IS setelah kalah di Suriah akan dipindah ke Asia Tenggara dan Filipina dan Indonesia akan menjadi pusat kegiatan mereka?

Tahukah bahwa MIT, JAT, efpei Indonesia dan MILF, JI, Abus**af dari Filipina sudah berbaiat pada mereka?

Haruskah kita melihat semua pertanyaan itu hanya sebagai kebetulan dan tak terkait satu dengan yang lain?

Tak adakah kaitan dengan Laut China Selatan (LCS) yang hari ini adalah tempat paling panas sedunia dan potensi PD3 sangat besar justru dimulai dari tempat ini?

Adakah yang menolak Taliban hingga Al-Qaeda dari Afghanistan tak terkait dengan AS?

Bagaimana dengan I*IS? Seorang Hillary Clinton spesifik mengakuinya bukan?

Al-Q**da 11/12 dengan I*IS bukan pula cerita basi. Kini di Suriah mereka sudah terpojok dan tak lagi bertaring. Bantuan asing tak lagi dapat membantu ketika China, Rusia dan Iran terlibat secara benderang.

“Kukudan” (tutup warung) dan kemudian pindah ke Asia tenggara pun bukan tanpa maksud. Ada rasa tak suka dengan China yang menjadi makin besar dan di laut Selatan alasan itu mendapat kesempatan.

Ada tempat dapat dipakai enagai titik kumpul di sana, paling tidak di Filipina Selatan. Atau sedikit ngumpet di Poso misalnya.

Asia Tenggara penting bagi kegiatan mereka memulai rusuh demi menahan laju China dan Indonesia dalam kondisi tertentu. Penetrasi radikalisme dibuat sejak awal demi tujuan besar ini.

Beruntung gerak cepat Presiden dapat menutup hatei dan efpei bahkan banyak rekening telah pula ditutup.

Beruntung (dalam sisi berbeda memaknai pandemi covid-19) PSBB memberi ruang sempurna negara membatasi gerak mereka di dalam negeri. Sementara yang berasal dari luar pun terbatasi oleh kedaruratan pandemi itu sendiri.

Wadah mereka sebagai kendaraan untuk bergerak dalam banyak aksi telah terbatasi dengan dibubarkannya organisasi mereka.

“Apa kaitan itu semua dengan Kapolri baru?”

Sama dengan Panglima TNI Jendral Hadi Tjahjono yang telah dikenal sejak Presiden menjabat Walikota Solo, Jendral Listyo pun dikenalnya sejak beliau menjabat sebagai Kapolres Kota Solo. Keduanya tak mungkin tak sengaja dikader sejak Jokowi menjabat Presiden pada 2014 lalu.

Tantangan 4 tahun ke depan sebagai sisa masa jabatannya, maju Indonesia sebagai kekuatan baru dunia dan isu Laut China Selatan, bukan tak mungkin adalah cara barat mengambil moment. “Tak baik kekuatan besar baru lahir dari Asia, musnahkan!”

Setelah Presiden diuntungkan dengan pandemi sehingga radikalisme dapat ditekan bahkan alasan membekukan banyak rekening yang diduga berisi harta tak baik itu telah didapat dengan dibubarkannya efpei, mereka mati suri.

Aliran dana terhenti. Seperti hibernasi, mereka untuk sementara diam, menunggu saat tepat ketika kondisi telah memungkinkan.

Mbah So*ros patut kita curigai. Bukan dia datang dengan dana dan lalu bagi-bagi, dan lalu kita stop, caranya bekerja tak mungkin seperti itu. Dia terlalu pintar untuk kita prediksi.

Membabat mereka yang sedang hibernasi, itu salah satu poin penting Kapolri baru. Mereka bersembunyi pada banyak posisi. Militer, kepolisian, ASN hingga jabatan-jabatan strategis yang lain, sudah bukan rahasia lagi.

Jokowi membutuhkan orang yang sangat dapat dipercaya untuk berani bergerak tanpa selalu perintah spesifik. Jokowi ingin pekerjaannya dalam membangun tak harus selalu diintervensi dengan bawahannya yang ragu dan lalu menunggu perintahnya.

Itu terjadi pada mutasi 2 Kapolda pada peristiwa Petamburan. Mereka berdua dimutasi bukan karena tak pintar, sangat mungkin karena mereka tak mengerti bahasa Presiden.

Dan maka Jendral Dudung bergerak demikian pula Kapolda Fadil, keduanya mendapat apresiasi tinggi dari rakyat dan sumringah Presiden.

Sama dengan genangan pada cekungan di musim hujan selalu mengundang bibit nyamuk DBD bertelur, dibuat kering dan steril dari air menggenang, sebanyak apapun nyamuk itu datang, mereka tak akan berbiak. Buat mereka yang sedang hibernasi hilang, sebanyak apa pun dan dana dari siapa pun masuk, tak akan bermakna bahaya.

Bukan pekerjaan mudah, ini pekerjaan paling berat dan hampir mustahil. Terlalu berakar dan terlalu kuat mereka menempel pada banyak institusi negara ini. Puluhan tahun sudah mereka menancapkan akarnya. Mereka selalu selamat siapa pun Presidennya.

Sama dengan perintah sederhana Presiden yakni tuntaskan perkara Novel, 3 Kabareskrim tak mampu membuat masalah ini selesai. Bukan perkara sulit, masalah intern adalah apa yang sering menjadi penyebab. Ada hal bersifat politis tak ingin ini tuntas.

Artinya, ada kekuatan tak terlihat seolah lebih tinggi dari jabatan Kabareskrim. Bukan selalu atasan langsung, Kapolri misalnya, ini tentang kekuatan politik. Ini tentang dominasi dan pengaruh dalam politik.

Tanpa ragu, Listyo langsung tuntaskan perkara Novel Baswedan. Bukan hanya itu, dia bahkan memberi bonus penangkapan Djoko Tjandra buron 11 tahun. Tak tanggung-tanggung, dua jendral polisi yang dianggap berada di belakang kasus ini pun diangkut tanpa terlihat gamang.

Bukan tingkat kesulitan perkara menjadi masalah, keberanian menerjang tembok kemustahilan, itulah yang diminta oleh Jokowi dan ini dibuktikan bukan dijanjikan oleh Jendral Listyo.

Benah-benah di dalam tanpa pandang bulu selalu beresiko dijadikan musuh oleh semua pihak seperti Jokowi sudah.

Sepertinya sepele, namun itulah masalah utama negeri ini.

Sama dengan menuntaskan masalah sepele Novel Baswedan dan namun 3 Kabareskrim tak mampu, kini masalah sepele sepanjang jaman yakni bersih-bersih yang tak pernah tuntas sejak siapa pun pernah menjadi Kapolri adalah tantangan pada jabatannya.

Laut China Selatan akan tetap bergejolak dengan dinamikanya. Amerika dan sekutunya tak akan berhenti mencegah dominasi China di LCS.

Mbah S*ros dan kawan kawan akan tetap mencari celah membuat kacau banyak negara dengan uang dan kepiawaiannya dalam menghancurkan ekonomi banyak negara demi superioritas kaumnya tetap dipertahankan.

Asia adalah targetnya, Asia tenggara, yakni Indonesia, Filipina dan Thailand adalah batu pijakan pertamanya. Mereka tidak peduli dengan siapa pun Presiden Indonesia dan Kapolrinya.

Filipina sangat mungkin tetap tidak akan bebas dari radikalis di selatan negaranya dan tetap dijadikan ladang percobaan bagi bibit terorisme demi kacau stabilitas kawasan yang mengabdi pada kapitalis demi antitesa China di LCS.

Kawasan Filipina selatan tak terlalu berbeda dengan Thailand Selatan, Rohingnya dan Uighur di China. Kondisi tak nyaman akan tetap dipertahankan bagi pemilik kepentingan.

Indonesia tanpa bersih-bersih dari dalam adalah Indonesia idaman bagi para kapitalis dengan radikal agama sebagai proxy-nya. Itu adalah apa yang kini jadi perhatian Jokowi dan meminta Jendral Listyo berdiri Paling depan sekaligus pihak paling bertanggung jawab.

Sama seperti yang pernah Jokowi alami sejak hari pertama dia menjabat Presiden, Listyo sejak hari pertama sebagai Kapolri akan mendapat perlakuan seperti Jokowi. PKI, anak haram, kafir hingga seluruh hidup pribadi dan keluarganya akan diungkit dan dinistakan.

Untuk itulah dia menjadi yang terpilih. Untuk itulah hakikat Kapolri melekat padanya. Untuk bisa menjadi sama seperti Presiden Jokowi dalam cara bekerja dan bertindak.

Indonesia bersih dari para pengkhianat dan di sisi lain menjadi negara maju adalah tentang Jokowi sebagai Presiden bekerja dan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri yang menjamin stabilitas bagi tercapainya cita-cita itu.

Indonesia yang bersih dari dalam dengan ekonominya yang maju bukan Indonesia yang akan mudah diadu domba. Di sana, peran kita pada kancah pergaulan internasional akan mendapatkan pengakuan.

Indonesia yang kuat, akan membuat LCS tak lagi akan menjadi momok menakutkan. Suara kita akan sangat di dengar. Perdamaian pada kawasan itu adalah pintu tepat bagi langkah hebat kita sebagai bangsa.

Hari ini, Laut China Selatan adalah tentang 25% perdagangan dunia dilalui. Mempertahankan LCS tetap damai, adalah pintu tepat bagi langkah hebat kita sebagai bangsa.

Tanpa kita menjadi kuat, tak ada suara kita akan di dengar, dan LCS hanya akan menjadi kawasan Timur Tengah berikutnya. Perang abadi sebagai ganti kawasan negara-negara Arab.

Untuk sesaat, Jendral Listyo Sigit Prabowo memang akan menjadi bulan-bulanan seperti dulu Presiden Jokowi pernah. Seperti Jokowi, dia justru akan mendapat pijakan bagi langkah suksesnya karena hinaan itu.

Seperti Jokowi pula, peluang besar membersihkan negara ini dari anasir-anasir jahat itu justru didapatkannya karena marah para musuhnya.

Mungkinkah rusak puluhan tahun mental bangsa ini telah lewati akan sanggup dikejar dalam 4 tahun, Jokowi pernah sanggup membangun dengan skala itu, tak ada alasan tak mungkin. Selalu ada hasil baik dari pikiran dan hati yang baik.

Jokowi orang baik, mustahil beliau tidak menularkan banyak hal baik bagi orang yang sudah dikadernya selama lebih dari 6 tahun demi posisi ini.

SELAMAT bekerja Jendral…
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel Lihat Lebih Sedikit

Very Smart Google Pizza

From WAG.-

-0-

Ordering a Pizza in 2022

CALLER:
Is this Pizza Hut?

GOOGLE:
No sir, it’s Google Pizza.

CALLER:
I must have dialed a wrong number, sorry.

GOOGLE:
No sir, Google bought Pizza Hut last month.

CALLER:
OK. I would like to order a pizza.

GOOGLE:
Do you want your usual, sir?

CALLER:
My usual? You know me?

GOOGLE:
According to our caller ID data sheet, the last 12 times you called you ordered an extra-large pizza with three cheeses, sausage, pepperoni, mushrooms and meatballs on a thick crust.

CALLER:
Super! That’s what I’ll have.

GOOGLE:
May I suggest that this time you order a pizza with ricotta, arugula, sun-dried tomatoes and olives on a whole wheat gluten-free thin crust?

CALLER:
What? I don’t want a vegetarian pizza!

GOOGLE:
Your cholesterol is not good, sir.

CALLER:
How the hell do you know that?

GOOGLE:
Well, we cross-referenced your home phone number with your medical records. We have the result of your blood tests for the last 7 years.

CALLER:
Okay, but I do not want your rotten vegetarian pizza! I already take medication for my cholesterol.

GOOGLE:
Excuse me sir, but you have not taken your medication regularly. According to our database, you purchased only a box of 30 cholesterol tablets once at Lloyds Pharmacy, 4 months ago.

CALLER:
I bought more from another Pharmacy.

GOOGLE:
That doesn’t show on your credit card statement.

CALLER:
I paid in cash.

GOOGLE:
But you did not withdraw enough cash according to your bank statement.

CALLER:
I have other sources of cash.

GOOGLE:
That doesn’t show on your latest tax returns, unless you bought them using an undeclared income source, which is against the law!

CALLER:
WHAT THE HELL!

GOOGLE:
I’m sorry sir, we use such information only with the sole intention of helping you.

CALLER:
Enough already! I’m sick to death of Google, Facebook, Twitter, WhatsApp and all the others. I’m going to an island without the internet, TV, where there is no phone service and no one to watch me or spy on me.

GOOGLE:
I understand sir, but you need to renew your passport first. It expired 6 weeks ago…

Welcome to the future 🤖😇😇😶🙄🤔😢😓😫

Blusukan Bu Risma

Disalin dari tulisannya Babo.-

-0-

Blusukan. Ada pengamat ahli dari UGM mengatakan bahwa blusukan itu tidak ada dalam sistem management. Saya tidak akan berpolemik secara akademis. Karena saya bukan pengamat dari kampus. Namun cerita lapangan yang mungkin bisa jadi bahan argumentatif. Ada teman kepala Daerah cerita kepada saya. Dia membiasakan setelah sholat subuh jalan ke kampung kampung seorang diri dengan kendaraan motor. Dia bertemu dengan orang yang sedang jalan ke Sawah. “ Pak, sehat ? tegurnya.“ Sehat pak.”“ Apa resepnya bapak sehat sampai seusia ini?“ Ya sabar. Ikhlas.”“ Apa ada bantuan pemda dalam kesehatan lingkungan?“ Tidak ada pak. Kami rawat sendiri lingkungan kami. Ya gotong royonglah.”“ Oh gitu pak. Baik pak. Terimakasih. Sehat selalu ya pak.”Kemudian dia datangi rumah penduduk. Biasanya ketika para suami kerja di ladang, yang ada hanya para ibu. Di teras rumah dia lihat seorang ibu sedang membersihkan rumah seraya menggendong balitanya.“ Ibu sehat ?“ Oh bapak. Sehat. Aduh mimpi apa. Bapak datang ke rumah saya.” Kata ibu itu seraya menyalaminya. “ Mari masuk pak. Maaf berantakan.” Sambung wanita itu.“ Engga perlu masuk bu. Saya hanya jalan jalan aja. Itu Balitanya sehat. Sering ke pos yandu untuk kesehatan balita?“ Pos Yandu hanya buka seminggu sekali.”“ OH gitu. Dapat susu gratis? kacang ijo gratis.? dapat vitamin gratis ?“ Hanya vitamin aja pak. ““ Oh gitu ya bu. Terimakasih.“ Tetapi itu saja udah terimakasih pak.”“ Baik bu. Saya permisi dulu.” Katanya berlalu.Dia termenung. Anggaran kesehatan dan lingkungan itu besar sekali dari APBD. Mengapa tidak efektif? Setelah itu dia membuat strategi pembangunan desa secara praktis dan terarah. Caranya? Dia undang semua kepala desa datang ke kantornya. Program yang jelimet dibuat SKPD disampaikannya dengan bahasa sederhana kepada mereka. Kemudian, dia perintahkan dana pembinaan desa yang terkait kesehatan lingkungan, kebersihan lingkungan, ditransper langsung ke kas Desa pada setiap tahun awal APBD. Jadi tidak lagi dikelola oleh SKPD. Hasilnya luar biasa. Dia dapat penghargaan dari pusat. Bukan itu saja. WHO memberi penghargaan. Semua itu karena dia terinspirasi dengan pidato Jokowi di Bogor ketika ada temu wicara dengan kepala Daerah. “ Anda semua harus tahu lapangan kalau ingin kebijakan anda dirasakan langsung oleh rakyat“. Cara Jokowi blusukan ke kampung kampung dan proyek, itu cara kerja yang sederhana namun smart. Mengapa? kita itu banyak sekali strategi pembangunan dibuat. Hebat sekali rencana itu. Tapi kadang yang buat engga pernah datang ke lapangan. Mereka sibuk membuat rencana dasarnya buku perpustakaan. Kadang melakukan studi banding ke negara lain, kemudian mencontoh. Ketika diterapkan, engga nyambung. Karena buku kampus yang buat orang lain. Negara lain bukan negara kita. Masalah kita tidak akan ditemukan solusinya di negara lain dan kampus. Tidak ada. itu hanya jadi referensi saja. Jadi di mana? ya di lapangan. Temui rakyat langsung. Lihat keadaan mereka. Berdialoglah dengan realitas, untuk sebuah kebijakan yang membumi. Tetapi untuk turun ke lapanganpun tidak hanya sekedar turun. Itu juga perlu kecerdasan seperti pelaku survey. Harus bisa menentukan random yang tepat untuk mewakili keadaan lapangan yang sebenarnya. Dari sanalah rencana dibuat untuk lahirnya keputusan yang bijak dan membumi. Itulah kekurangan Anies. Makanya kebijakan hebat menelan anggaran besar tapi hasilnya tidak dirasakan rakyat DKI. Itu juga membuat Pemda DKI tidak suka dengan Ibu Risma.

Kisah Mereka Yg Selamat dari Pesawat SJ-182

Disalin dari WAG

-0-

“MEMESAN TAKDIR”

Namanya Rachmawati. Ia orang Mempawah, Kalimantan Barat. 35 tahun silam, ia pernah jadi Qoriah Internasional. Kini bekerja sebagai pegawai di Kemenag RI. Sabtu siang, ia sudah bersiap menuju bandara dan hendak terbang ke Pontianak. Tiket sudah dipesan. Pesawatnya Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182. Berangkat pukul 14.00 WIB.

Hanya saja, hasil tes PCR-Swabnya telat keluar. Layanan kesehatan tempatnya tes Covid baru bisa mengeluarkan resume medis, Sabtu siang, atau nyaris bertepatan dengan jadwal take off. Rachmawati pasrah. Ia memilih membatalkan keberangkatan, dan memesan tiket maskapai lain untuk terbang Minggu, pagi ini.

Mendadak ia merasa sangat bersyukur. Gara-gara hasil PCR-nya telat keluar, ia terhindari dari tragedi. Tuhan belum melist-nya dalam daftar sebagai korban Sriwijaya Air yang jatuh, Sabtu (9/1) kemarin.

Atma Budi Wirawan punya kisah berbeda. Bersama tujuh anggota keluarganya, mereka sudah memesan dan membeli tiket Sriwijaya Air untuk terbang ke Pontianak, Sabtu siang. Begitu mendengar bahwa semua penumpang yang hendak terbang ke Kalimantan Barat harus mengantongi hasil tes swab Covid-19, Budi dan keluarganya dilema. Delapan orang itu sama dengan 9,6 juta rupiah.

Mereka lalu berembuk. Kesepakatannya, tiket pesawat biarkan hangus. Mereka memilih naik kapal Pelni. Harganya Rp220 perorang, jauh lebih murah dari biaya PCR. Meski harus melewati perjalanan panjang dan mungkin lelah karena berlayar, opsi itu dipilih demi menghindari tes swab.

Minggu pagi ini, mereka tiba di Pontianak. Mendengar informasi soal tragedi Sriwijaya Air, semuanya tertegun. Andai tetap ngotot untuk terbang dan tidak mempersolkan biaya tes swab, bisa saja situasinya berbeda bagi mereka.

Setali tiga uang dengan Agustiawan. Ia mahasiswa asal Pontianak. Sabtu siang, ia berencana pulang kampung. Tiket sudah ia pesan, bahkan telah tiba di bandara. Menjelang terbang, ia mendadak ditelepon ibunya. Ia dilarang pulang, dan diminta fokus mengurusi ujian akhir semesternya. Perintah ibu ia turuti, ia lolos dari tragedi.

Kisah-kisah ini saya kutip dari portal berita nasional yang relatif kredibel. Jadi informasinya bisa dipercaya. Orang-orang yang lolos dari maut itu adalah cerminan bagi kita semua, bahwa takdir memang tidak bisa diundur dan tidak bisa dimajukan. Tuhan sudah mengatur semua panggung manusia.

Sebagai seorang muslim, saya beberapa kali bertemu dan membaca Al A’raf ayat 34 dalam Alquran. Disana, Tuhan memperingati manusia. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Masing-masing dari kita hanya sedang menjalani takdir. Segalanya sudah tertulis di Lauful Mahfuz, dan tidak bisa diotak-atik lagi. Manusia memang berhak untuk merencanakan, tapi yakinlah bahwa takdir telah menciptakan momentum bagi kita.

Saya jadi ingat dengan Djenar Mahesa Ayu. Dalam sebuah puisinya, ia berujar :

“Kita bisa memesan bir, namun tidak bisa memesan takdir”

Semoga proses pencarian terhadap semua korban tragedi Sriwijaya Air dimudahkan dan menemukan hasil terbaik.
*

#Pray For Sriwijaya

Resiko Tertular Covid

PETUNJUK DARI DR dr ERLINA BURHAN SpP (K)
KETUA PDPI JAYA
SIE ILMIAH PDPI PUSAT

Petunjuk dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC USA)

Bukti Ilmiah Terkini Perihal Penularan Virus Corona

  1. Resiko tertular sangat rendah pada permukaan.

2, Resiko tertular sangat rendah pada aktivitas di luar rumah.

  1. Resiko tertular sangat tinggi pada ruang tertutup seperti kantor, tempat ibadah, aula bioskop, gym atau teater.

Pertanyaan :

Siapa saja yang berpotensi tertular Covid-19 ?

~Orang bergolongan darah A akan mengalami gejala yang berat karena struktur Covid19 mirip dengan antigen B.

~Orang bergolongan darah AB bisa selamat bila terpapar jumlah virus yang tidak terlalu banyak, bila virulensi virus tinggi dikuatirkan tidak bisa selamat karena AB tidak memiliki antibodi.

~Orang bergolongan darah B dan O akan aman-aman saja, pemilik darah B cendrung menjadi OTG dan pemilik darah O pasti selamat karena memiliki antibodi yang paling kuat dari semua golongan darah.

Seberapa banyak virus yang dapat menyebabkan seseorang terjangkit Covid19 ?

AGAR SEORANG TERJANGKITI DIPERLUKAN 1.000 VP (VIRAL PARTICLES)

Pada lingkungan umum tingkat penyebaran adalah sbb :

  • Bernapas 20 vp per menit
  • Berbicara 200 vp per menit
  • Batuk 200 juta vp (bisa bertahan selama berjam-jam di ruang yang berventilasi buruk)
  • Bersin 200 juta vp

Jadi perhitungannya adalah Sebagai berikut :

BERHASIL TERTULAR = jumlah virus X jumlah waktu

BILAMANA ANDA :

  1. Berada di sekitar seseorang dalam jarak 2 meter : resiko tertular rendah bila kurang dari 45 menit.
  2. Berbicara tatap muka dengan seseorang bermasker : resiko rendah bila kurang dari 4 menit.
  3. Berpapasan dengan seseorang yang sementara berlari, naik sepeda atau joging : resiko rendah.
  4. Berada di ruangan berventilasi bagus dengan jarak : resiko rendah bila waktu singkat.
  5. Belanja di supermarket : resiko sedang (bisa menjadi rendah bila waktu belanja dipersingkat dan ikut prosedur sanitasi).
  6. Berada di WC dan fasilitas umum : resiko tertular sedang, terutama bila bersentuhan pada permukaan benda yang jarang disanitasi.
  7. Aktivitas dalam ruang tertutup ber-AC : resiko tinggi.
  8. Restoran : resiko tinggi (bisa turun ke menengah bila berhati-hati dalam menyentuh permukaan benda).
  9. Tempat kerja, sekolah (bahkan dengan menjaga jarak) : beresiko sangat tinggi, termasuk penularan lewat permukaan benda.
  10. Pesta /acara pernikahan : berisiko sangat tinggi.
  11. Konferensi /pertemuan bisnis : beresiko sangat tinggi.
  12. Pertunjukan /bioskop : beresiko sangat tinggi.

Sumber Rujukan:
1.https://www.erinbromage.com/post/the-risks-know-them-avoid-them
2.https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/faq.html

-0-

Dicopas dari WAG.-