Test Covid murah tanpa biaya

Test Bebas Corona Setiap Pagi: Murah, Sederhana, dan Praktis!

Awalnya infeksi virus Corona mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Gejala klinis baru terlihat antara 7 – 28 hari setelah infeksi. Test yang murah, sederhana, dan praktis untuk mengenal infeksi virus Corona hanya dalam 30 detik tanpa kunjungan ke dokter atau pemeriksaan laboratorium sangat kita perlukan. Anda dapat melakukannya sendiri! Perhatikan cara berikut ini: Ambil napas dalam-dalam dan tahan napas selama lebih dari 10 detik ! Jika setelah menahan nafas anda berhasil mengeluarkan napas pelan2 tanpa batuk, rasa tidak nyaman, lelah, dan kaku di dada, ini membuktikan bahwa tidak ada fibrosis di paru-paru anda, dan itu sebenarnya menunjukkan bahwa tidak ada virus apapun didalam paru2 anda! Anda juga perlu memastikan mulut dan tenggorokan anda lembab dan tidak kering ! Minumlah beberapa teguk air hangat setidaknya sekali setiap 30 menit. Seandainya ada virus Corona telah masuk kedalam mulut anda, air hangat yang anda minum secara teratur dapat masuk kedalam perut, dimana keasaman lambung akan langsung membunuh virus Corona! Mari jangan menjadi penonton dan sampaikan ke semua teman, kenalan, saudara yang anda kenal. Tidak perlu minta ijin untuk membagikan status ini.

Salam sehat! (DR Berlin Siagian – FB).-

Beginilah penampakan COvid-19 yg dishoot dengan TEM Transmission Electron Microscope

Saran Perawat yang Masuk Akal

Akhirnya, beberapa saran masuk akal tentang Covid-19

Saran bagus dari seorang perawat..bukan dari saya!

“Apa yang telah saya lihat banyak adalah rekomendasi untuk bagaimana mencoba menghindari terkena virus corona – mencuci tangan yang baik, kebersihan pribadi dan menjaga jarak sosial – tetapi apa yang TIDAK sering saya lihat adalah saran untuk apa yang terjadi jika Anda benar-benar mendapatkannya, yang kemungkinan besar terjadi. Jadi, sebagai perawat, izinkan saya membuat beberapa saran:

Anda pada dasarnya hanya ingin mempersiapkan diri seolah-olah Anda tahu Anda akan mengalami gangguan pernapasan yang parah, seperti bronkitis atau pneumonia. Anda hanya “berpikiran” ke depan untuk tahu itu mungkin akan terjadi pada Anda!

Barang-barang yang harus Anda beli sebelumnya :
Tisu,
Parasetamol,
apa pun obat batuk lendir generik pilihan Anda (periksa label)
Madu dan lemon juga bisa bekerja!
Vicks vaporub untuk dada Anda juga merupakan saran yang bagus.

Jika Anda tidak memiliki pelembab udara, itu akan menjadi hal yang baik untuk dibeli dan digunakan di kamar Anda ketika Anda pergi tidur semalaman. (Anda juga bisa menyalakan shower dan duduk di kamar mandi menghirup uap).

Jika Anda memiliki riwayat asma dan Anda memiliki inhaler, pastikan yang Anda miliki tidak kadaluwarsa dan isi ulang / dapatkan yang baru jika perlu.

Ini juga waktu yang tepat untuk menyiapkan makanan: buat sup dalam jumlah besar untuk dibekukan dan siap dinikmati.

Persediaan apa pun cairan bening favorit Anda untuk diminum – meskipun air baik-baik saja, Anda mungkin menghargai variasi!

Untuk manajemen gejala dan demam lebih dari 38 ° c, gunakan Paracetamol daripada Ibuprofen.

Hidrasi (minum!) Hidrasi, hidrasi!
Istirahat banyak. Anda seharusnya tidak meninggalkan rumah Anda! Bahkan jika Anda merasa lebih baik, Anda mungkin masih akan menular selama empat belas hari dan orang tua dan orang-orang dengan kondisi kesehatan yang ada harus dihindari!
Minta teman dan keluarga untuk meninggalkan persediaan di luar untuk menghindari kontak.

Anda TIDAK PERLU PERGI ke RUMAH SAKIT kecuali Anda mengalami kesulitan bernapas atau demam Anda sangat tinggi (lebih dari 39 ° C) dan tidak ditangani dengan obat-obatan. 90% dari kasus orang dewasa yang sehat sejauh ini telah dikelola di rumah dengan istirahat dasar / hidrasi / obat-obatan yang dijual bebas.

Jika Anda khawatir atau dalam kesulitan atau merasa gejala Anda semakin buruk, teleponlah nomer darurat dan mereka akan memberi tahu jika Anda perlu pergi ke rumah sakit. Ranjang rumah sakit akan digunakan untuk orang yang secara aktif membutuhkan perawatan oksigen / pernapasan / cairan IV (Intra Vena, infus).

Jika Anda memiliki kondisi paru-paru yang sudah ada sebelumnya (COPD, emphysema, kanker paru-paru) atau sedang menggunakan imunosupresan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Dokter atau spesialis Anda tentang apa yang mereka ingin Anda lakukan jika Anda sakit.

Satu kelegaan besar bagi Anda orang tua adalah bahwa anak-anak beradaptasi dengan SANGAT baik dengan coronavirus — mereka biasanya bangkit kembali dalam beberapa hari (tetapi mereka masih akan menular), Cukup gunakan dosis anak.

Tenang dan bersiaplah secara rasional dan semuanya akan baik-baik saja. Bagikan ini sebagai saran yang bagus! “

Kenangan Temanku HS

Titik persinggungan antara saya dengan HS ini telah mulai sejak lama, walaupun dari masih mhs dulu kami tidak terlalu dekat. Yang setahu-kenalnya saya di KAPA-FTUI dengan Herr Suryantono ini adalah beliau ini suka sekali ngeledek sambil bergurau tentang apa saja. Belakang hari baru saya tahu kalau istrinya adalah Kristin yg dulu juga suka naik gunung.

Ternyata kemudian beliau jadi dosen, walaupun dalam hati saya bergumam “Ni anak ngocol melulu, apa pantes jadi dosen ?”… Ngocol itu artinya – becanda melulu -. Mohon maaf saya lebih senang menggunakan bahasa sehari-hari apa adanya, karena begitulah gaya bicara kami. Kemudian Herr sekolah di Amrik, dan lama gak pulang-pulang, juga gak kedengeran kabarnya. Kalo kejadiannya begini ini biasanya sekolahnya susah-payah, tapi waktu itu gak enak nanyanya takut bikin patah semangat. Kan ini kejadian pada diri saya juga, malas ngasi kabar karena kemajuan studinya seret.

Tahu-tahu HS pulang dari Amrik, dan spt biasa yang terjadi adalah seperti layaknya waktu muda alias jadi orang yang ‘protes melulu’. Tiba-tiba lagi kepalanya sudah botak. Oh… sebelum itu ada 4 serangkai bertemu di pinggir sungai Enschede (Belanda, kota yg tenang sepi dan sejuk dingin) dan dua diantaranya sudah tiada Ferryanto Chaidir, Herr Suryantono, Sutanto Suhodo, dan saya Raldi. Bila tidak salah ingat itu tahun 2002, sangat menyenangkan karena saya bawa gitar. Sambil muter-muter di toko Laser-disk nyari videonya Jethro-Tull. Manakala 3 hari yang lalu di rapat DGB-FTUI saya bertemu dg SS, kami bertegur sapa “Wah… dua dari empat sudah pergi duluan nih, siapa yg bakal segera nyusul ?”. Dalam hati saya ‘getun’ agak merinding karena saya yg paling tua, jadi secara statistik bakal saya yg duluan.

Eh… lalu beliau aktif banget dimasa Rektor Gumilar, bahkan jadi poros penggerak segala peraturan dan aktivitas rektorat UI. Saya gak nyangka kalau yg namanya si Herr mau dan kemudian sangat motivated jadi birokrat. Diluar perkiraan saya sebenarnya, karena dulu-dulu protes melulu sama birokrasi.

Setelah makan malam suatu sore di pantai selatan berjam-jam saya asyik mendengarkan kuliah beliau tentang seni fotografi sambil ngasi lihat contoh foto-fotonya di laptop. Saya sungguh kagum terhadap keseriusannya dibidang ini. Sehingga kami tergabung dalam group WA fotografi FTUI, yang barus sempat pameran sekali di Art-Center saat ada pertunjukkan musik Erwin Gutawa. Tentu saja saya memilih spesialisasi khusus foto-foto bayi. Disinilah secara setengah resmi Herr memberi kami kuliah Matkul Fotografi, yang kemudian saya abadikan dalam sebuah konten video yang sekarang jadi kenangan mengharukan untuk kami semua bukan saja di group WA ini tapi juga di seluruh Fakultas.

Herr Training Fotografi:

Jalur Mendidik dan Jalur Meneliti

Oleh: Grace Suryani Halim

Tulisan ini merupakan komentar terhadap artikel dari Dr Sunu Wibirama di Liputan6.com yang berjudul – Tulisan ilmiah bagi dosen, seberapa pentingkah ? – Tentu saja artikel tersebut bisa dengan mudah dicari di internet baik dengan google atau di medsos (https://www.facebook.com/WibiramaSunu/?__tn__=kC-R&eid=ARClOern7yqv5A4t_CiR2U4zSs24OlBafgFTkpCZ_FuTbyr7dhiCAmIQQoL8BPaeVZa5isOb5e0PNLjtcPL1Czxs1EKumCsY06kjesmNyScWtBsnCG71HpycW7yqEiSKsPIw3JVxnouEgcKE3HOGhu55ukbr9BkC8DjV_). Namun yang lebih menarik bagi saya adalah sebuah komentar dari seorang pembaca sdri Grace Suryani Halim yang menyampaikan apa yang dialami sebagai seorang dosen oleh suaminya di negeri tetangga Singapura. Mari kita simak ceritanya. (Redaksi blog: Raldi A. Koestoer).

Dr. Sunu Wibirama:
Terima kasih untuk tulisannya. Urun rembug.

NUS school of computing juga punya dual tracks. Yang research tracks and teaching tracks. Kalau research tracks : research fellow, assistant prof, associate prof, full prof . Semuanya harus S3 tentu saja 😬

Teaching tracks (ini jalur suami saya) : Instructor, lecturer, senior lecturer, associate prof. Teaching tracks so far bakal stop di Associate Prof. Sejauh ini belum pernah ada Full Prof dari teaching tracks.
Jalur teaching tracks sedikit lebih panjang drpd research tracks. Dan requirements nya pun banyak. Seperti harus membuat buku/alat pengajar yang dipakai di University2 lain ataupun di level international. Harus mengembangkan alat pengajar (https://visualgo.net/en ) itu tools yang dikembangkan oleh suami saya dan timnya. Harus punya teaching score yang bagus. NUS punya Annual Teaching Excellency Awards. Baik di fakultas level maupun di university level. Dan juga harus menonjol di service. Suami saya puji Tuhan dipercaya jadi head coach dari International Olympiad of Informatics (IOI) dari Singapore dan coach untik competitive programming.

Universitas kelas dunia biasanya punya banyak talent2 di dua tracks tersebut. Seperti yang Bapak share di tulisan Bapak.
Research tracks berguna untuk memastikan nama univ dikenal di kalangan international dengan riset2 yang berguna bagi dunia. Research tracks juga mendatangkan uang, lewat research grants yang didapat.

Jadi ingat pembicaraan dgn suami beberapa tahun silam. Gelar Full tenure professor itu sebenarnya diberikan bukan utk gaya2, tapi supaya para prof itu BERANI melakukan riset2 yang cutting edge, yg butuh bertahun-tahun (like Prof Frances Anders perempuan pemenang Nobel Kimia thn 2018 yang sudah meneliti enzyme dari thn 1980 en baru breakthrough bbrp tahun terakhir 😬) . We need more long term research like that. Dan karena itu ada gelar professor supaya mereka2 ini bisa bebas berkarya tanpa embel2 takut dipecat krn tidak memberikan hasil (dalam waktu singkat).

Tapi sebaliknya juga perlu dosen2 yang dedicated to teaching, yang mengembangkan alat ajar, menulis buku2. Krn well jarang dosen yg bagus di riset en pinter ngajar 😆😆😆. Semoga di Indonesia ada perbaikan ke arah yang lebih bagus.

Kita punya banyak talenta di diaspora. Org2 indo kayak suami saya banyak kok. Tapi yang bener2 berprestasi biasanya ga terkenal, krn sibuk riset dan sibuk kerja 😆😆 tTapi sebagian besar ga mau balik indo. Karena ya … office politik. Birokrasi yang mbulet. Dan gaji yang kecil.

Yah semoga ada banyak perbaikan di dunia kampus Indonesia. 🙂

Dzikir Keimanan dan Imunitas Tubuh

Dzikir Yang Benar & Baik, Menyehatkan
Untuk kita amalkan!

OLEH: AGUS MUSTOFA

SUATU ketika saya diundang oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, untuk ikut menguji seorang kandidat doktor dalam sidang terbuka. Promotornya adalah Prof Dr dr Suhartono Taat Putra MS, yang pakar psycho-neuro imunologi (PNI). Sedangkan mahasiswanya adalah seorang dokter umum yang mendalami ilmu agama di Pasca-Sarjana IAIN, dan kemudian mengambil disertasi S-3 tentang dzikir terkait dengan kesehatan.

Saya sangat antusias dengan undangan itu, meskipun awalnya tidak tahu kenapa saya diundang untuk ikut memberikan pertanyaan bersama para guru besar di Fakultas Kedokteran. Karena, selain saya bukan lulusan Fakultas Kedokteran, saya juga bukan guru besar yang layak untuk menguji kandidat doktor. Apalagi background formal saya adalah teknik nuklir.

Tetapi, Pak Taat lantas menjelaskan alasannya kenapa mengundang saya. Di antaranya, dia menganggap saya sebagai seorang praktisi dzikir yang sudah memberikan pelatihan-pelatihan tentang itu. Dan juga sudah menulis buku-buku tentang dzikir secara medical-science, yang sangat berimpitan dengan bidang yang sedang dia geluti, yakni PNI. Di antaranya adalah “Dzikir Tauhid”, “Menyelam ke Samudera Jiwa dan Roh”, “Bersatu dengan Allah”, dan “Energi Dzikir Alam Bawah Sadar”.

Mahasiswa yang sedang dia bimbing itu mengambil tema disertasi “Pengaruh Dzikir pada Kadar HSP-72 sebagai Indikator Peningkatan Imunitas Tubuh”. Yakni, sebuah proses pembuktian bahwa dzikir yang baik bisa meningkatkan kualitas kesehatan seseorang karena daya imunitasnya meningkat. Dalam disertasinya, hal itu memang terbukti. Imunitas para anggota majelis dzikir yang ditelitinya secara statistik meningkat. Tandanya, adalah peningkatan secara signifikan kadar hormon heat shock protein (HSP-72) di dalam darah mereka.

Untuk melengkapi disertasinya, dalam forum itu saya memberikan pertanyaan dan tinjauan dalam sudut pandang berbeda. Bahwa, secara ilmiah, memang sudah terbukti dzikir bisa meningkatkan imunitas tubuh. Namun, yang menarik adalah ketika dia mengaitkan pembuktian itu dengan mengutip ayat Alquran berikut ini.

QS Ar Ra’d (13:28), “(yaitu) orang-orang yang BERIMAN, dan hati mereka menjadi TENTERAM dengan BERDZIKIR (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan berzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram.

Maka, saya memberikan pertanyaan dan pembahasan seputar keterkaitan ayat itu dengan disertasinya. Ada tiga parameter yang terkandung di dalam ayat di atas. Yaitu, beriman, berdzikir, dan rasa tenteram. Yang kemudian dikaitkan dengan peningkatan kadar HSP-72 sebagai indikator kesehatan. Jika dirumuskan dalam sebuah kalimat, keterkaitannya akan menjadi sebagai berikut: seseorang yang BERIMAN jika BERDZIKIR akan menghasilkan KETENTERAMAN batin, dan dampaknya adalah meningkatnya kadar hormon HSP-72, sehingga memperbaiki daya IMUNITAS tubuhnya.

Jadi, imunitas tubuh seseorang yang berdzikir itu akan mengalami peningkatan seiring dengan kadar HSP-72. Sedangkan kadar hormon ini di dalam darah dipengaruhi oleh rasa tenteram dalam jiwanya. Selanjutnya, perasaan tenteram tersebut terjadi jika kita selalu mengingat Sang Maha Kuasa dengan cara berdzikir. Dan kualitas dzikir itu ternyata sangat dipengaruhi oleh TINGKAT KEIMANAN.

Maka, sebagaimana saya jelaskan pada tulisan-tulisan yang lalu, keimanan adalah kunci dari kualitas ibadah kita. Jika keimanannya buruk, kualitas ibadahnya pun akan ikut-ikutan buruk. Sebaliknya, jika kadar keimanannya meninggi, kualitas ibadahnya pun ikut meninggi.

Keimanan adalah keyakinan yang berbasis pada keilmuan. Artinya, orang yang beriman itu bukanlah orang yang dipaksa-paksa untuk percaya dan meyakini segala aktivitas keagamaan ini, melainkan orang yang sudah memahami secara ilmiah, sehingga memperoleh keyakinan yang kuat atas apa yang dilakukannya.

Itulah sebabnya, dzikir yang tidak didasari oleh pemahaman yang baik tidak akan bisa menghasilkan ketenteraman jiwa secara substansial. Dan karenanya, tidak akan menimbulkan peningkatan kadar HSP-72. Yang akhirnya, juga tidak berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan. Itulah yang saya sebut sebagai dzikir yang sekadar terjebak pada ritual belaka.

Agar dzikir berdampak secara lahir dan batin, dzikir harus dimulai dengan keimanan. Dengan kepahaman atas kalimat-kalimat yang kita dzikirkan. Jika tidak faham, hampir bisa dipastikan dzikir kita tidak berkualitas dan tidak memberi efek yang seharusnya. Di level ini, objektivitas sudah kalah oleh subjektivitas. Atau, lebih tepat lagi, objektivitas hanya merupakan dampak saja dari subjektivitas. Yakni, peningkatan HSP-72 yang diukur secara objektif itu ternyata adalah hasil dari olah batin yang bersifat subjektif.

Membaca kalimat dzikir yang sama dalam sebuah komunitas dzikir, belum tentu menghasilkan dampak yang sama bagi setiap anggotanya. Tergantung pada kefahaman dan penghayatan kita terhadap apa yang sedang kita kerjakan. “Berisi” ataukah tidak, secara spiritual. Jika “berisi”, maka hasilnya signifikan. Semakin “berisi”, semakin dahsyat dampaknya. Jadi, keimanan adalah soal “mengisi” bobot spiritual pada aktivitas yang kita lakukan.

Semakin berbobot –semakin tepat frekuensinya dan semakin besar intensitasnya– maka semakin besar pula energi yang terkandung di dalamnya. Yang jika diresonansikan kepada apa pun dan siapa pun, akan mentransfer energi yang besar sebagaimana telah kita bahas di tulisan sebelumnya. Termasuk, menjadi sangat bermanfaat buat kesehatan kita.

Karena itu, tidak mengherankan, dalam sejumlah kasus kedokteran praktik dzikir ini bisa digunakan sebagai media terapi untuk menyembuhkan penyakit. Bahkan, pada kasus-kasus yang sangat parah dan hopeless. Misalnya, pada seorang kawan saya yang terkena kanker otak stadium empat. Dokter sudah memvonis tidak mungkin disembuhkan. Dan sisa usianya tidak akan lebih dari tiga bulan.

Tetapi sungguh ajaib, ketika dia yang sudah putus asa itu menjalani dzikir intensif dengan sepenuh kepasrahan kepada Sang Maha Penyembuh. Keterjepitan dan keyakinannya kepada Sang Maha Pemurah sedemikian besarnya, sehingga memberi “bobot” spiritual yang sangat dahsyat pada ibadahnya. Dan dampaknya pun menjadi luar biasa.

Kanker otak yang sudah membuatnya kejang-kejang itu, semakin lama semakin meluruh. Daya tahan tubuhnya meningkat. Kemampuan homeostasis dalam sistem imunitas tubuhnya menjadi sedemikian aktif menghancurkan sel-sel kanker di dalam kepalanya. Dan tiga bulan kemudian dari saat divonis oleh dokter itu ia bukannya meninggal dunia, tetapi justru menjadi lebih sehat. Dan lima tahun kemudian dia duduk satu meja dengan saya sebagai narasumber dalam sebuah seminar di sebuah perguruan tinggi di Malang: dia telah sembuh dari Kanker nya! Subhanallaah.

QS Asy Syu’araa (26: 78-80) . “(Allah) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku (ke jalan yang lurus), (dan) Dia (pula) yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku…”

Wallahu a’lam bissawab. (*/zal/k1)

Sumber :
https://m.kaltim.prokal.co/read/news/26303-zikir-yang-baik-menyehatkan..Rahasia 19.@ji.by.928.F

In Memoriam Dr Jose Rizal MER-C

Telah wafat pagi ini (20-01-2020) seorang pahlawan kemanusiaan Dokter Jose Rizal penggagas berdirinya MER-C dan juga Rumah Sakit Indonesia di jalur Gazza. Beliau seorang dokter orthopaedi, yang membaktikan dirinya untuk menolong korban perang utamanya didaerah Timur Tengah jalur Gazza. Beikut ini sebuah tulisan dari Dokter Rahyu Salim SpOT yuniornya dari FKUI.-

-0-

Bang Jose

“…jadi orthopaed ya tetap harus turut berjuang…”kata bang jose saat rehat disalah sebuah symposium. Saya lupa tepatnya pada tahun berapa namun yang saya ingat adalah pada waktu itu saya dan beliau sama sama baru selesi shalat zuhur di mushala salah sebuah hotel.
Beliau hadir saat itu menjadi moderator dalam sebuah pertemuan ilmiah ahli orthopaedi. Topik yang beliau moderasi tentunya sudah bisa anda tebak pasti tidak jauh dari bencana kemanusiaan yang terkait langsung dengan cidera di bidang muskulo skeletal.

Beberapa kali bertemu beliau di daerah bencana di Indonesia memang membuat saya kagum atas kekonsistenan beliau. Beliau sangat satu antara perbuatan lisan dan pemikiran.
Hal ini bisa saya liat dari pemikiran pemikiran beliau ketika berdiskusi di beberapa WAG.

“…kalau ente mau jadi orthopaed jadi lah orthopaed yang hebat sekalian….jangan setengah setengah…” masih terbayang bagaiamana bang jose memberi arahan kepada saya dan teman teman saat diskusi disela sela coffee break itu. Gaya bicara beliau yang berapi api membuat kami mengangguk angguk sambil bertanya tanya pada diri sendiri apa saya bisa.

Banyak nasehat nasehat kepada kami orthopaed junior yang diwejangkan beliau. Tidak hanya sebatas ilmu orthopaedi tetapi menjadi karakter orthoaped yang siap berkorban. Orthopaed yang selalu memikirkan ummat memikirkan kemanusiaan dan memikirkan kebangsaan.

Hadir bersama bang jose menurut saya akan selalu ada banyak nasehat, banyak pemikiran dan motivasi. Paling tidak itu yang saya rasakan selama ini berinteraksi sebagai junior beliau.

Berita di WAG hari ini mengagetkan saya. Bang Jose telah menghadap sang Penciptanya. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu.
Selamat Jalan Bang Jose.
Amal baik mu akan dikenang banyak orang dan akan menjadi saksi peringan hisabmu nanti.

Terima kasih wejanganmu yang tiada henti utk kami juniormu…kami siap melanjutkan cita cita baikmu untuk ummat untuk rakyat untuk bangsa.
Kami siap menjadi orthopaed hebat sehebat hebatnya..

Selamat berbahagia di alam sana….Bang

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan teks
Dokter Joserizal wafat 20012020

Zarathustra di Yazid Iran

Zarathrustra adalah agama kuno Parsi yang muncul abad ke 17 Sebelum Masehi. Jadi jauh sebelum Islam dan Kristen. Pusatnya ada di kota Yazid Iran. Yazid lebih sering ditulis disana dengan Yazd saja, 440 km dari Shiraz kota besar di Selatan Iran.

Kota ini merupakan pusat agama Zarathustra atau Zoroaster (bah Yunani). Orang Islam menyebutnya Majusi. Kuil api itu adanya di kota ini. Sekarang masih digunakan namun menjadi tempat turis yang sangat menarik.

Konsep Ketuhanan [suntingan Wikipedia]

Di dalam ajaran Zoroastrianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa, yaitu Ahura Mazda.[3] Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya kepadanya.[3] Pengakuan ini adalah bentuk penegasan bahwa hanya Ahura Mazda yang harus disembah di tengah konteks kepercayaan tradisional masyarakat Iran yang kuat dengan pengaruh politeisme.[5]

Simbol Tuhannya adalah Ahura Mazda, lihat gambar orang dan sayap garuda. Nabinya ya dipanggil Zoroaster itu, Wafat usia 77 th.-…. BTW agama atau kepercayaannya Freddie Mercury pemimpinnya the Queen yang terkenal itu adalah Zarathustra ini karena memang aslinya dia orang Parsi.