Kuliah Covid19 Prof Menaldi

Rangkuman Video Kuliah Tamu Prof Menaldi di Dept Bedah RSCM

  1. Ingat prinsip infeksi: interaksi antara host, pathogen dan lingkungan. Untuk suatu infeksi bisa terjadi, ada peran:
    a. Jumlah pathogen
    b. Virulensi pathogen
    c. Daya tahan tubuh inang
    i. Dalam kondisi pandemi, tidak bisa hanya mengandalkan daya tahan tubuh, karena begitu sudah menjadi suatu pandemi, suatu patogen pasti jumlah dan virulensinya sudah melebihi kemampuan daya tahan tubuh kita
    ii. Tidak ada istilah daya tahan tubuh lebih kuat jadi tidak terkena, SARS COV2 ini memang sudah ada dimana2 (ibaratnya udara juga sudah terkontaminasi semua) dan virulen.
  2. Metode transmisi SARS-COV2:
    a. Di awal penyebaran diperkirakan dominan melalui transmisi droplet, dimana menjaga jarak 1.5 meter dapat melindungi kita. Tetapi, menyangkut infeksi akibat virus saluran nafas, pasti ada komponen aerosol disana. Jarak 1.5 meter menjadi inadekuat, dan potensi penyebaran bisa mencapai 3 meter.
    b. Dalam kondisi ini, udara kita sudah terkontaminasi SARS-cov2.
    c. Jumlah virus terbanyak ada di area saluran nafas atas, sehingga keluhan pertama umumnya terutama di area faring.
  3. Terdapat 5 derajat keparahan penyakit pada COVID 19 menurut WHO:
    a. (1) tanpa gejala – ini paling berbahaya dan menjadi penyebab celaka terbesar dokter di RS, krn kita tidak tau sekitar kita ada penyebar.
    b. (2) ringan
    c. (3)sedang – mulai terjadi pneumonia
    d. (4) berat – membutuhkan ICU
    e. (5) kritis – membutuhkan ventilator
    i. Pneumonia terjadi pada stage sedang ke berat, hati2 saat sudah ada keterlibatan paru, kebutuhan ICU sudah imminent.
  4. Penularan melalui viral load/jumlah partikel virus:
    a. Infeksi terjadi pada paparan 1000 partikel virus
    i. Pada orang bernapas tanpa masker, seseorang akan mengeluarkan 20 partikel virus per menit, jadi dibutuhkan kira2 50 menit untuk dia bernafas untuk berpotensi menularkan ke kita
    ii. Bicara = 200 partikel virus
    b. Masker bedah tetap berpotensi terjadi kebocoran dari sisi atas bawah dan sisi, karena saat inspirasi kita akan tetap menghirup udara dari sekitar.
    i. Tetap ada potensi virus masuk dari sela
    ii. Penggunaan exhaust fan/AC – udara berputar dalam 1 ruangan. Dalam ruang rawat/tindakan/kamar ganti/restoran/lift/perkantoran, merupakan tempat paling berpotensi menularkan COVID  potensi besar tertular COVID 19
     Way of thinking: Udara kita sudah terkontaminasi virus SARS COV2
  5. Kriteria COVID 19 oleh WHO (sejak dideklarasi sebagai pandemi pada 11 Maret 2020):

a. Terkonfirmasi (PCR posittf, dengan/tanpa gejala)
b. Terkonfirmasi tanpa gejala – paling berbahaya!
c. Tersangka/suspek – ISPA + riwayat perjalanan ke area transmisi; ISPA+ riwayat kontak; ISPA berat/penumonia tanpa penyebab lain
d. Probable – PCR negatif tp klinis sesuai
 COVID-19 harus ditegakkan berdasarkan klinis sebagai lini pertama, bukan lab dulu! – angka lab bisa menipu kita dan malah membingungkan

  1. Stage dari COVID19:
    a. Asimptomatik – simptomatik ringan – simptomatik berat.
    b. Paling krusial adalah stage tengah, dimana pasien ringan dg segera bisa jatuh ke sedang, dan sudah terjadi hiperinflamasi menuju ke berat (terjasi sitokin storm – sangat dekat ke kematian – sembuh dari Tuhan). Dokter harus bekerja keras dari stage 1 dan 2.
    c. Gejala ringan – 60% datang dengan keluhan pusing! Keluhan kedua – batuk – 60%. Lelah/pegal2 – 60%. Jangan pernah abai terhadap gejala ringan. Mual/muntah/diare – 50%. Hanya 15% jatuh ke sakit berat, 3 persen yg sakit berat — kematian.
  2. GGO akan tampak pada CT paru, terlihat di stage sedang. Jangan pernah bilang bukan COVID pada pasien dengan gejala ringan dan gambaran paru normal. COVID bereplikasi pada mayoritas di sel saluran nafas, sel pneumosit, pada jumlah banyak dia keluar dan menyebabkan apaptosis pneumosit, kl penuosit 2 yang memproduksi surfaktan – kolaps. lalu vaskular mulai terlibat – mediator iflamasi mulai terlibat – masuk cytokin storm —–> trombrosis. GGO – kebocoran fokal dulu per area. Oleh karena itu pilihan utama bukan ventilator. Difusi plg luas di paru adalah tengah ke posterior/dorsal – early intubation akan menyebabkan pasine tidak bergerak dan ARDS –> itu kenapa Cina survivor ventilator hanya 2%. jerman 96% –> karena mobilisasi terus pasien. Di Indonesia ga da SDMnya, 1 kali memobilisasi butuh 4-5 perawat per 16 jam –> tidak efisien. RSP – tidak agresif lgs menggunakan ventilator – mobilisasi dini pasien sangat penting, pasien diminta ikut berjuang aktif.
  3. Berdasarkan kurva perjalanan COVID-19:

a. Umumnya onset gejala berlangsung kurang lebih 1 minggu setelah infeksi
b. Viral load tertinggi kurang lebih di hari ke 10. Implikasinya:
i. PCR sebelum hari ke 5 lebih besar kemungkinan false negatif. Namun, hasil negative ini belum berarti pasien tidak punya virus, karena sampel diambil dari ulasan tenggorok, sedangkan positive rate tertinggi adalah dengan sampel bronskoskopi tapi tidak praktis.
 Swab tertinggi kedua nilainya adalah nasofaring swab – 63% positive rate. 37 %false negative.
ii. Hasil PCR terbaik dilakukan antara hari 7-10, tetapi celakanya mungkin org itu sudah sakit. Diatas hari ke-10 – bisa negatif lagi
iii. Rapid test sangat tidak reliable – IgM saja baru bisa diukur lewat minggu ke-3, IgG lebih lama.
iv. PCR: Gold Standard!
 Jika seorang terkontak dengan yg positif – harus diperiksa usap tenggorok (dg kemungkinan positif hanya 63%) – tapi kl negatif PCRnya, dia tetap harus istirahat isolasi mandiri 14 hari – aturan pelayanan di Prodi karena kemungkinan false negatif.
 Satu lagi manfaat isolasi mandiri 14 hari bila memang negatif PCRnya adalah, tubuh diberikan waktu konsentrasi untuk melawan virus yg masih sedikit jumlahnya. Tapi kl tidak isolasi, dia akan terus terekspos sama virus dan daya tahan tubuh naik turun – kemungkinan sakit akan meningkat tajam!
 Kunci: memberikan waktu tubuh beristirahat, untuk menurunkan viral load!

  1. Hasil otopsi di Jerman, UK, Itali – sama dengan di RSP. Penyebab utama kematian: kerusakan paru dan vaskular.
  2. Faktor risiko COVID 19: IMT > 23! Usia, jenis kelamin (laki2), merokok, komorbid – Komorbid: HT (>>), penyakit paru (asma, PPOK, bornkiektasis, bekas TB), DM, jantung, ginjal.
  3. Lingkungan dan tempat kerja – penting dibedakan faskes COVID dan non-COVID! Angka kematian nakes di RS full COVID sampai saat ini masih 0 – kenapa? Karena standarnya setengah di RS yang non full COVID. RSP – perawat hanya boleh jaga 3 jam (untuk tiap shift 8 jam), wajib istirahat dan mandi 1 jam, bergantian dg perawat lain – hazmat hanya 3 jam! – lebih dari itu membuat kelelahan! 1 tim dokter juga hanya 3 orang. Viral load dicoba untuk serendah mungkin.
  4. RSP seluruh ruang rawat dan OK tekanan negative untuk COVID 19
  5. periksa DPL dan swab tenggorok untuk setiap org yg terkontak – bukan RO atau CT thorax, baru dipikirkan bila mulai ada gejala batuk menetap (Ro Thorax). CT scan untuk menentukan seseorang butuh masuk ICU atau tidak. Semua orang yg terkontak harus dirumahkan 14 hari apapun hasil PCRnya.
    • DPL nya – lihat tanda infeksi virus: sebelum GGO, limfosit akan main utk melawan, jadi di darah rendah (limfositopeni). Pada covid bila monosit 8-10, hati2 itu covid wlpun limfosit belum terlalu rendah, tp sudah mulai bergeser ke bawah. Monosit 10-12 semakin mendekat ke COVID, di atas 12 hampir pasti COVID, terutama bila digabung dengan limfositopenia. PK – NLR 3.4 -4.8 harus suspek COVID.
    • Klinis harus pertama, lab dicocokan klinis
  6. Istilah kontak seperti apa yg harus diwaspadai untuk nakes:
    • Dengan orang yg terkonfirmasi (PCR positif), atau dengan kontak erat (dengan org konfirmasi) – lakukan screening!
    • Pemakaian APD untuk kontak? APD adalah usaha manusia, tetapi udara kita sudah terkontaminasi dengan SARS COV2  ibaratnya bila pakai APD, virus yg masuk 100 sedangkan yang tidak pakai APD yg masuk 1000. Tetapi, bila yang 100 itu cocok virusnya dengan kita, infeksi tetap akan terjadi. Risiko meningkat IMT>23, laki2 dan ada komorbid
  7. Prof Ari – bila ada demam – langsung istirahat saja, pengalaman beliau di minggu pertama muncul gejala, hasil lab dan PCR masih normal. Namun masuk hari ke sekian, paru langsung memberikan gambaran pneumonia. Istirahat dan CARI!. Jangan Cuma anggap hanya demam flu biasa. Minggu kedua kondisi tidak baik.
  8. Jangan buru2 intubasi! (prof Menaldi) mobilitas pasien sangat penting!!! Prof Ari masuk Actemra di hari ke -6 – langsung membaik karena belum jatuh ke stage yg berat. Actemra harus diberikan di saat yg tepat
  9. RSCM masih menerima berbagai pasien – tracing, semua kena. Kalau harus isoman sendiri RS akan tutup. Prof Menaldi – tergantung kebijakan masing2 manajemen. Pada prinsipnya, setiap ada kontak dengan org positif, secara teoritis akan ada kemungkinan terkena. kita membutuhkan pejuang jangka Panjang. Menurut Prof Menaldi, COVID ini baru akan selesai paling cepat Desember 2021. Istirahat itu PENTING! Sebagai apresiasi supaya kita tetap sehat. Bukan sebagai hukuman, penting untuk para pengambil kebijakan.
  10. Seberapa sering kita harus swab rutin? RSP – hanya 2 residen: 1 Paru, 1 obsgin. Swab untuk semua dilakukan 1 kali sebulan. Pada yg ada keluhan demam – walaupun PCR negative – isolasi mandiri, stop 14 hari. Semua harus terbuka akan kondisinya. OTG di RSP (+) perawat – bangsal ada yg ditutup karena harus mempertahankan rasio perawat/pasien. Intinya mempertahankan Kesehatan nakes untuk jangka Panjang.
  11. Fisioterapi sangat penting untuk semua pasien COVID
  12. Vagal reflex karena swab?  mudah terjadi pada kondisi hipoksemia, di orang tua banyak kronik hipoksemia. Sebelum swab, oksigenasi yg kuat dulu. Kembali ke klinis! pulse oximeter – sebelum swab jangan kurang dr 80, bisa mentrigger vagal reflex. Lakukan dengan persiapan bila harus.
  13. Realita antara pelayanan dan Pendidikan – sulit, tetapi harus diimbangi dan mementingkan keselamatan semua

Kesimpulan:

  1. Mitigasi: reduksi segala bentuk kegiatan, pelayanan maupun Pendidikan. Kasus urgensi dan emergensi harus tetap berjalan
  2. Komitmen: save our nakes – upaya ke depannya akan diusahakan skrining minimal 1 bulan sekali.
  3. Berikan tubuh waktu berisitirahat: lakukan rolling untuk nakes masuk, terutama bila belum bisa PCR – untuk menurunkan viral load nakes.

Tentara Musuh tak Punya Belas Kasihan

Kita dalam perang melawan musuh yang tak terlihat. Mereka tak punya belas kasihan, menyerang siapa saja, bahkan wanita dan anak-anak pun diserangnya… Tak ada tempat berlindung yang aman, mereka menyerang tak kenal waktu dan tempat, pagi siang sore malam, terus mengendap menyerang saat kita lengah…

-0-

Presiden Uganda YOWERI MUSEVENI:

“Tuhan memiliki banyak pekerjaan, Dia memiliki seluruh dunia untuk dijaga. Dia tidak bisa hanya berada di Uganda mengurusi orang2 idiot…”.

Di bawah ini adalah pidatonya yang menarik..;

“Dalam situasi perang, tidak ada yang meminta siapa pun untuk tetap di dalam rumah. Anda tetap di dalam ruangan sebagai pilihan terbaik, tanpa ada yang meminta. Bahkan, jika Anda memiliki ruang bawah tanah, anda bersembunyi di sana selama peperangan berlangsung. Selama perang, anda tidak menuntut kebebasan Anda. Anda rela menukarkan kebebasan Anda demi bertahan hidup.
Selama perang, anda tidak mengeluh kelaparan. Anda sabar menahan kelaparan dan berdoa agar anda masih hidup untuk bisa makan lagi.
Selama perang, anda tidak berdebat tentang membuka bisnis anda. Anda bahkan menutup toko anda (jika anda punya waktu), dan berlari untuk menyelamatkan hidup Anda.
Anda berdoa agar hidup lebih lama dari perang sehingga anda dapat kembali melakukan bisnis anda (jika belum dijarah atau dihancurkan oleh tembakan mortir).
Selama perang, anda bersyukur kepada Tuhan karena melihat matahari esok sebagai orang hidup.
Selama perang, anda tidak merasa perlu untuk khawatir tentang sekolah anak2 Anda.
Anda berdoa agar pemerintah tidak memaksa mereka sebagai tentara untuk dilatih di gedung sekolah yang dirubah menjadi pangkalan militer.
Ketahuilah, dunia saat ini dalam keadaan perang.
Perang tanpa senjata dan peluru.
Perang tanpa tentara manusia.
Perang tanpa batas.
Perang tanpa perjanjian gencatan senjata.
Perang tanpa medan tempur, tanpa melihat tempat suci.
Tentara dalam perang ini tanpa belas kasihan. Musuh kita tak punya “sisi baik” manusiawi, musuh kita bersikap kejam, tidak menghormati anak2, wanita, atau tempat ibadah.
Tentara ini tidak tertarik pada rampasan perang. Tentara musuh kita ini tidak memiliki niat untuk mengganti rezim.
Tidak peduli dengan sumber daya alam didalam bumi.
Bahkan tidak tertarik pada hegemoni agama, etnis atau ideologis. Ambisinya tidak ada hubungannya dengan superioritas ras.
Tentara musuh kita ini adalah pasukan yang tak terlihat, cepat, dan efektif tanpa ampun.
Agenda satu2nya adalah panen kematian. Tentara itu hanya merasa puas setelah mengubah dunia menjadi satu daerah kematian besar. Kemampuannya untuk mencapai tujuannya tidak diragukan. Tanpa tank darat, mobil amfibi dan tanpa pesawat, tentara musuh kita memiliki basis di hampir setiap negara di dunia. Gerakannya tidak diatur oleh konvensi atau protokol perang apa pun. Singkatnya, tentara itu mengikuti aturan yang ia buat sendiri. Tentara musuh kita itu adalah Corona virus. Juga dikenal sebagai COVID19.
Syukurlah, pasukan ini masih memiliki kelemahan dan bisa dikalahkan. Hanya dibutuhkan tindakan, disiplin, dan kesabaran kita bersama. COVID-19 tidak dapat bertahan jika ada jarak sosial dan fisik. Tentara itu hanya tumbuh subur dan kuat jika Anda menemuinya. Tentara musuh kita itu senang jika dihadapi secara fisik.
Tentara itu akan menyerah jika kita bisa menghadapinya dengan melakukan social distancing dan physical distancing secara bersama-sama. Tentara itu akan membungkuk tunduk jika kita melakukan pola kebersihan hidup pribadi yang baik. Tentara itu akan tidak berdaya ketika anda menyadari bahwa keselamatan anda kini sedikit banyak ada di tangan anda sendiri dengan menjaganya agar tetap bersih dan sesering mungkin mencucinya.
Ini bukanlah saatnya bagi kita untuk menangis tentang roti dan mentega seperti anak-anak manja. Lagi pula, kitab suci memberi tahu kita bahwa manusia tidak akan hidup dari roti saja. Mari kita patuhi dan ikuti instruksi pihak berwenang. Mari kita ratakan kurva COVID-19. Ayo berlatih sabar. Mari menjadi penjaga saudara kita. Dalam waktu singkat, kita akan bisa mendapatkan kembali kebebasan, usaha, dan kehidupan sosial kita…
_Di tengah keadaan DARURAT, kita perlu mempraktekkan pentingnya pelayanan dan pentingnya cinta untuk orang lain.

-0-

zona merah Covid 19 di Indonesia naik 100 persen. Kita, yg krg bs sabar, prlu mnyimak pidato Pres Uganda ini.

Presiden Uganda YOWERI MUSEVENI dengan gusar memperingatkan rakyatnya yang bersikap meremehkan wabah COVID-19 ini;

-0-

11 September 2020

Peringatan 911

-0-

#covid-19 #coronavirus #virus #pandemi #lockdown

Far UVC 222 nm

By contrast far-UVC light (207 to 222 nm) has been shown to be as efficient as conventional germicidal UV light in killing microorganisms11, but studies to date12,13,14,15 suggest that these wavelengths do not cause the human health issues associated with direct exposure to conventional germicidal UV light. In short (see below) the reason is that far-UVC light has a range in biological materials of less than a few micrometers, and thus it cannot reach living human cells in the skin or eyes, being absorbed in the skin stratum corneum or the ocular tear layer. But because viruses (and bacteria) are extremely small, far-UVC light can still penetrate and kill them. Thus far-UVC light potentially has about the same highly effective germicidal properties of UV light, but without the associated human health risks12,13,14,15. Several groups have thus proposed that far-UVC light (207 or 222 nm), which can be generated using inexpensive excimer lamps, is a potential safe and efficient anti-microbial technology12,13,14,15,16,17,18 which can be deployed in occupied public locations.

The biophysically-based mechanistic basis to this far-UVC approach12 is that light in this wavelength range has a very limited penetration depth. Specifically, far-UVC light (207–222 nm) is very strongly absorbed by proteins through the peptide bond, and other biomolecules19,20, so its ability to penetrate biological materials is very limited compared with, for example, 254 nm (or higher) conventional germicidal UV light21,22. This limited penetration is still much larger than the size of viruses and bacteria, so far-UVC light is as efficient in killing these pathogens as conventional germicidal UV light12,13,14. However, unlike germicidal UV light, far-UVC light cannot penetrate either the human stratum corneum (the outer dead-cell skin layer), nor the ocular tear layer, nor even the cytoplasm of individual human cells. Thus, far-UVC light cannot reach or damage living cells in the human skin or the human eye, in contrast to the conventional germicidal UV light which can reach these sensitive cells7,8,9,10.

https://www.nature.com/articles/s41598-020-67211-2

Perlindungan Bagi Tenaga Medis

Oleh : DR Dr dr Beni Satria (Dirut RSU Bunda Thamrin Medan)

Beni Satria sedang di RSU Bunda Thamrin Medan.

-0- Tim Acovus FTUI Anti Corona Virus (d/h Tim Inkubator) membantu Rumah Sakit Medan dalam pencegahan covid-19… -0-

1 hari  · Medan, Sumatra Utara  · Kami terus berbenah…Ruang Ganti APD Rumah Sakit Umum Bunda Thamrin telah dilengkapi sebuah system lampu HF UVC buatan Anak Negeri Fakultas Teknik Universitas Indonesia asuhan Prof. Raldi Artono Koestoer, Terima Kasih Prof… Semoga Seluruh staff dan tenaga Medis terlindungi.Kami fokus pada Perlindungan bagi Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan serta staff yang bertugas Melayani Pasien COVID-19 Penjelasan tentang HF UVC Adalah sebuah system lampu UVC yang diperuntukkan membasmi virus dalam ruangan tertentu (mis ruang ganti APD, toilet dll) yang diperkirakan bahwa di ruangan tersebut banyak bertebaran virus dan atau bakteri lain. Dengan lampu UVC 30 Watt yang menyala selama 15 menit setiap 2 jam, maka diharap ruangan tsb akan bersih dari virus karena paparan UVC utk radius 2,5 m akan membunuh virus dalam bilangan detik saja. Katakanlah ruangan itu lebih besar dari r 2,5 m maka dalam bilangan menit virus dapat terbunuh. Untuk r diatas 5 m disarankan lampu lebih dari satu (mis 2 lampu UVC). Karena paparan yang lama dari lampu UVC tidak baik utk kulit maka di setup system bila ada orang masuk ruangan maka lampu akan mati. Dan selain ada orang di dalam lampu tidak akan menyala, karena system ini sudah dilengkapi dengan sensor gerak (PIR Passive Infra Red). Setelah office hour. Timer otomatis akan mematikan lampu, demikian juga pagi hari lampu ini akan nyala sendiri karena dipasang timer. Sistem ini dilengkapi dengan fan kecil yang akan menyala bersamaan dengan lampu, yang berguna untuk menyebarkan ozon yang terbentuk kesegala penjuru ruangan membantu membasmi virus.BANGGA MENGGUNAKAN PRODUK ANAK NEGERI..

-0-

Lampu HF-UVC (Human Friendly UVC) adalah lampu pembasmi virus corona berbasis UVC, yang dipasang pada ruang ganti APD, toilet atau pantry. Prinsipnya dimana ada orang didalam ruangan utk waktu yg tidak lama dan tidak banyak (kurang dari 4 orang). Kadang keluar kadang masuk, saat tidak ada orang lampu UVC nyala 15-30 menit setiap 2 jam. Bila ada orang masuk lampu langsung mati, itulah sebabnya kami sebut Human-Friendly karena paparan UVC yang terlalu lama tidak baik efeknya untuk kulit manusia. Sistem lampu ini dilengkapi dengan fan yang diletakkan tidak jauh dari lampu. Fungsi fan untuk menyebarkan ozon (gas bersifat disinfeksi) yang terbentuk saat UVC nyala dan menyebarkannya ke sudut-sudut ruangan.

Bagi yang berminat dan diutamakan para tenaga medis, silakan kontak

Tim ACOVUS-UI(Anti Corona Virus) d/h Tim Inkubator UI. Kami membentuk YABAPI (Yayasan Bayi Prematur Indonesia th 2015. Atas bantuan DIIB dg program UI-Incubate kami membentuk Start-up

CV TEKNO NUSA KAYANA

Kontak WA 08111-383-300

Email teknonusa18@gmail.com

MERV Air FIlter

MERV vs. MPR vs. FPR Rating Systems

air filter ratings explained

MERV vs. MPR vs. FPR Rating Systems

air filter ratings explained

  • Learn the differences between MERV, MPR & FPR to choose the best filter for your needs.
  • WHAT IS THE DIFFERENCE BETWEEN MERV, MPR, AND FPR AIR FILTER RATINGS?The three air filter rating systems differ in ranges and were created by separate organizations. MERV ratings extend from 1 to 16. MPR measures ratings based on sizes 0.3 to 1 microns. FPR ratings are on a scale from 4 through 10. The MERV filter rating is the domestic and international industry standard rating system established by the American Society of Heating, Refrigerating, and Air Conditioning Engineers. The other two systems were created by “3M” (MPR) and “The Home Depot” (FPR) to differentiate their offerings. However, at the end of the day, the ratings apply to the SAME filters and can be used in your furnace or AC unit!
  • WHAT IS MERV FILTER RATING (MINIMUM EFFICIENCY REPORTING VALUE)?As you have already learned, the MERV rating is the primary rating system used in the industry, both domestically and internationally. Established by the American Society of Heating, Refrigerating, and Air Conditioning Engineers, MERV rates a filter’s ability to capture and hold particles and pollutants. Smaller particles can be trapped and removed by higher MERV ratings.At Air Filters Delivered, we label our air filters by their MERV filter rating. You may choose from four different options:To better understand what sets the four ratings apart, take a look at our MERV rating chart!
  • WHAT IS MPR (MICRO-PARTICLE PERFORMANCE RATING)?MPR, or micro-particle performance rating, is a rating system developed by 3M. It rates the manufacturer’s filters and their ability to capture airborne particles smaller than 1 micron. While MERV ratings reflect a filter’s ability to trap both microscopic and macroscopic particles, MPR ratings only grade a filter on its capacity to remove particles from 0.3 to 1 microns. For reference, a typical dust particle is between .2 and 8 microns, while pollen starts at 7 microns and can get up to 70 microns in size.
  • WHAT IS FPR (FILTER PERFORMANCE RATING)?FPR, or filter performance rating, labels filters based on a number scale from 4 through 10 in addition to a color-coding system. Designed by The Home Depot for brands sold through their stores, including Honeywell, this rating structure is very similar to MERV rating.

100 Dokter Wafat

Duh berita FB dan WA pagi ini sangat menyedihkan. 100 dokter sudah wafat terkena pandemi Covid-19. Duh…sedih banget..banget banget… Siapa nanti yang menangani pasien, siapa yang mengobati masyarakat kalau dokternya pada wafat.

INDONESIA MENGHENINGKAN CIPTA

Hari ini telah 100 orang dokter yg dilaporkan meninggal terkait Covid19:

  1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
  2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI/IDI Jakarta Timur)
  3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
  4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (IDI Kota Bandung)
  5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (IDI Jakarta Selatan)
  6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
  7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
  8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (IDI Jakarta Timur)
  9. dr. Ucok Martin Sp. P (IDI Medan)
  10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (IDI Prabumulih)
  11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
  12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
  13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
  14. Dr. Bernadette Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
  15. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
  16. Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangerang Selatan)
  17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jakarta Selatan)
  18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT (IDI Kab. Bekasi)
  19. Dr. Naek L. Tobing, SpKJ (IDI Jakarta Selatan)
  20. Dr. Karnely Herlena (IDI Depok)
  21. Dr. Soekotjo Soerodiwirio SpRad (IDI Kota Bandung)
  22. Dr. Sudadi, MKK, SpOK (IDI Jakarta Pusat)
  23. Prof. Dr. H. Hasan Zain, Sp.P (IDI Banjarmasin)
  24. Dr. Mikhael Robert Marampe (IDI Kab. Bekasi)
  25. Dr. Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
  26. Dr. Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S (IDI Medan)
  27. Dr. Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
  28. Dr. Soeharno (IDI Kediri)
  29. Dr. Amir Hakim Siregar SpOG (IDI Batam)
  30. Dr. Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
  31. Dr. Esis Prasasti Inda Chaula, SpRad (IDI Tegal)
  32. Dr. Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
  33. DR. dr Heru Prasetya, SpB, SpU (IDI Banjarmasin)
  34. dr. Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
  35. dr. Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
  36. dr. H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
  37. dr. Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
  38. dr. Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
  39. dr. Sukarno (IDI Sidoarjo)
  40. dr. Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
  41. dr. Herry Nawing SpA (IDI Makassar)
  42. dr. Theodorus Singara SpKJ (IDI Makassar)
  43. dr. Nyoman Sutedja, MPH (IDI Denpasar)
  44. dr. Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
  45. dr. Sang Aji Widi Aneswara (IDI Semarang)
  46. dr. Elianna Widiastuti (IDI Semarang)
  47. dr. Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
  48. dr Ane Roviana (IDI Jepara)
  49. dr. Sovian Endi (IDI Grobogan)
  50. dr. Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
  51. dr. Ahmadi NH, Sp.KJ (IDI Semarang)
  52. dr. Zulkiflie Saleh (IDI Banjarmasin)
  53. dr. Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
  54. Prof. dr. H. Mgs. Usman Said, SpOG (K) (IDI Palembang)
  55. dr. H. Khiarul Saleh, SpPD (IDI Palembang)
  56. dr. Anna Mari Ulina Bukit (IDI Medan)
  57. dr Herwanto SpB (IDI Kisaran)
  58. dr. Maya Norismal Pasaribu (IDI Labuhan Batu Utara)
  59. dr. Budi Luhur (IDI Gresik)
  60. dr. Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
  61. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
  62. dr. Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
  63. Prof. Dr. dr. Andi Arifuddin Djuanna, SpOG (K) (IDI Makassar)
  64. dr. Aldreyn Asman Aboet, SpAN, KIC (IDI Medan)
  65. dr. M. Fahmi Arfa’i (IDI Semarang)
  66. dr. M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
  67. dr. M. Hatta Lubis, SpPD (IDI Padang Sidempuan)
  68. dr. Elida Ilyas, SpKFR (K) (IDI Jakarta)
  69. dr. I Wayan Westa, Sp.KJ (K) (IDI Denpasar)
  70. dr. Sony Putrananda (IDI Blitar)
  71. dr. H. Muhammad Arifin Sinaga, MAP (IDI Langkat)
  72. dr. Andhika Kesuma Putra, Sp.P (K) (IDI Medan)
  73. dr. Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
  74. dr. Ahmad Rasyidi Siregar, SpB (IDI Medan)
  75. dr. HM Syamsu Rizal (IDI Natuna)
  76. dr. Dennis (IDI Medan)
  77. dr. Adnan Ibrahim, SpPD (IDI Makassar)
  78. dr. I Nyoman Sueta (IDI Denpasar)
  79. dr. Paulus Sp.PD (IDI Jakarta Pusat)
  80. dr. Sulis Bayu Sentono, dr., M.Kes., Sp.OT (K) (IDI Surabaya)
  81. Prof. Dr. dr. R. Mohammad Muljohadi Ali, Sp.FK (IDI Malang Raya)
  82. dr. Hery Prasetyo (IDI Blora)
  83. dr. Sriyono (IDI Balikpapan)
  84. dr. Sabar Tuah Barus SpA (IDI Medan)
  85. dr. John Edward Feridol Sipayung (IDI Siantar Simalungun)
  86. dr. Ach. Chusnul Chuluq Ar, MPH (IDI Malang Raya)
  87. dr. Fatoni (IDI Ogan Komuring Ulu)
  88. dr. Asriningrum Sp.S (IDI Mataram)
  89. dr. R. Nurul Jaqin SpB (IDI Yogyakarta)
  90. dr. Donni (IDI Deli Serdang)
  91. dr. Adi Rahmawan (IDI Depok)
  92. dr. Riyanto SpOG (IDI Tuban)
  93. dr. Muh. Rum Limpo SpB (IDI Selayar)
  94. dr. Titus Taba SpTHT-KL (IDI Sorong)
  95. dr. H. Edisyahputra Nasution (IDI Samarinda)
  96. dr. I Made Widiartha Wisna (IDI Buleleng)
  97. dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, SpA (K) (IDI Jakarta Pusat)
  98. dr. Daud Ginting, SpPD (IDI Medan)
  99. dr. Aris Sugiharjo, SpPD (IDI Banjarmasin)
  100. dr. Edwin Marpaung, SpOT(K) (IDI Medan)

Mari mengheningkan cipta 1 menit untuk mendoakan para dokter yg gugur syahid di medan pertempuran melawan Covid-19.-

-0-

#covid-19 #dokter #nakes #Rumahsakit #pasien #coronavirus #virus #masker #APDlevel3 #vaksin #ventilator #saturasioksigen #ruangisolasi #bedside

STOP Acara Kumpul-kumpul

Stop acara kumpul-kumpul.

Meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara.

Oleh : dr. Susy Wihadi, Sp.A (RS Mitra Keluarga Depok)

JERNIH—Sepekan terakhir ini kasus Covid-19 benar-benar naik drastis. Terasa lebih mengerikan dibanding awal-awal dulu.

Satu keluarga pulang mudik dari Sukabumi, ternyata kakek-nenek yang dikunjungi positif. Satu keluarga ini, terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak, langsung minta di-swab. Satu keluarga lagi, ayah-ibu positif, anak negatif. Entah habis ikut acara apa.

Dapat info lain lagi kalau ada beberapa saudara kandung yang sudah berkeluarga, semua berkumpul merayakan ultah ibu mereka. Dan sekarang ada 15 orang yang positif Covid-19 dari acara tersebut. Bahkan ada satu keluarga (ayah, ibu, dan tiga anak) positif semua. Ibu yang baru dirayakan ultahnya berada dalam kondisi yang berat.

Di kantor bapaknya, ada karyawan yang positif sehabis kumpul keluarga saat Idul Adha kemarin. Karyawan yang kena ini tertular dari saudara sepupunya, dan si karyawan ini tinggal bersama istri di rumah mertuanya. Si karyawan sudah dirawat, masih untung istri dan mertuanya negative. Orang tuanya sendiri belum ada hasil.

Sore ini datang info kamar bersalin ada rencana operasi SC ibu hamil yang positif Covid-19. Kalau ibu hamil positif Covid-19 mau dioperasi, otomatis harus tindakan di kamar operasi khusus yang sudah diredisain supaya tekanan kamar negatif dan terpasang hepafilter. Semua yang ikut dalam kamar operasi HARUS menggunakan APD level 3.

Buat kami yang sudah sejak Maret lalu berkutat dengan APD level III sih tinggal senyum-senyum miris saja pake APD. Tapi buat pasien, hitung sendiri saja biaya yang dikeluarkan. Biaya ekstra untuk APD dan beban moril pasca-melahirkan karena tidak bisa rawat gabung dengan bayi sampai masa isolasi selesai.

Jangan seenaknya bilang biaya ditanggung negara. Lama-lama anggaran negara habis karena masalah ini, terus ribut negara resesi.

Jadi, lihatlah rantai panjang penularan virus ini. Virus ini tidak kenal keluarga, sekandung maupun sedarah. Kontak erat, ya risiko penularan tinggi.

Tidak usah ribut-ribut teriak,”Kasihan tenaga kesehatan”, karena itu bagian dari konsekuensi pekerjaan. Tapi berpikirlah risiko untuk diri sendiri dan keluarga masing-masing.

Andaikata pembawa virus mengalami sakit ringan tapi keluarga yang ditularkan (suami atau istri, ayah atau ibu, anak-anak sendiri, saudara kandung, para sepupu dan keponakan) mengalami sakit yang berat dan meninggal, apakah Anda pembawa virus bisa membayangkan apa rasanya?

Menyesal? Sudah terlambat. Penyesalan selalu datang terlambat, karena kalau di awal namanya pendaftaran.

Bisa tidak, penyesalan diubah supaya tidak terlambat? Bisa! Lakukanlah pencegahan! Prinsip dasar mencegah penyakit, ya pencegahan.

Stop acara kumpul-kumpul. Meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara. Pada saat acara intim dengan keluarga, acara makan-makan, ngobrol, kita jadi lengah, masker dibuka, dan di situlah virus bisa berpindah dan menular ke keluarga kita.

Di sosmed juga sudah banyak yang pajang foto, jalan-jalan, makan bersama, acara pembukaan ini-itu, dan semua foto kebanyakan tanpa masker. Jujur, kalau sekarang rasanya mules lihat foto dengan kepala berdekatan tanpa masker. Jangan memberikan contoh yang tidak baik di sosmed karena banyak yang akan meniru karena merasa “si anu itu baik-baik saja”.

Gunakan masker dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Pastikan hidung dan mulut tertutup. Jangan sampai hidung nongol di atas masker. Kalau punya hidung mancung, ya tetap kelihatan mancung meski pake masker. Jadi tidak usah takut kelihatan pesek. Kalau pesek, tetap rajinlah pakai masker karena selain bisa menutupi pesek, hidung juga nggak bakal tambah pesek kok.

Pakai masker bisa sesak nafas? Itu sih perasaan Anda saja. Sugesti karena tidak biasa. Kami di RS pakai masker dobel berjam jam, tetap otak bisa bekerja dengan baik mendiagnosis dan melakukan terapi.

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun dengan cara dan teknik yang benar. Bila tidak ada air dan sabun, gunakan hand sanitizer dengan teknik yang benar juga. Jangan asal-asalan. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Sebelum menyentuh area wajah, sesaat begitu pulang dari luar langsung cuci tangan dulu dan mandi.

Segera berobat ke rumah sakit bila merasakan gejala panas dan atau batuk, dan atau pilek, apalagi kalau sesak. Pasien kalau disuruh ke rumah sakit pada takut, takut ketularan. Kalau ke mall, ke cafe, nginap di hotel, tidak pada takut. Padahal di rumah sakit ada standar cara desinfeksi untuk mengatasi penularan penyakit infeksi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), yang tentunya hal ini tidak (atau belum tentu) dimiliki oleh pelayanan publik non-RS lainnya.

Tinggal di rumah saja. Tidak usah pakai alasan anak sudah bosan. Yang bosan itu anak, apa orang tua? Biasa pagi-pagi kirim anak ke sekolah atau TPA, sekarang seharian sambil WFH harus mendampingi anak. Adalah tugas dan kewajiban orang tua mendampingi anak, menikmati waktu heboh dan rusuh bersama anak 24 jam penuh di rumah. Kapan lagi bisa bekerja sambil mengasuh anak di rumah?

Berpikir positiflah bahwa ini berkah terselubung dari pandemi. Banyak waktu berkumpul bersama keluarga yang tinggal serumah, ( sekali lagi yang tidak tinggal serumah TIDAK USAH KUMPUL-KUMPUL memanfaatkan waktu ).

Sayangi diri sendiri dan keluarga Anda…!!!
Tetaplah sehat dan waras….!!!

-0-

#Covid #Covid-19 #Masker #APD #Infeksi #Kontaminasi #Coronacirus #SarsCov2 #Virus #APDlevel3 #Pencegahan

#RS #Rumahsakit #dokter #nakes

Basmi Virus di Ruangan Ber-AC

Photo by Raldi A. Koestoer on August 26, 2020. Image may contain: 2 people, text that says 'FREE ONLINE CLASS TECHNOPRENEUR Rp 11.000 UNTUK E-CERTIFICATE EGRAD Reinmerale Edueatien Disain, Prototyping, Manufaktur Mandiri Decegetcagca Dari 2 Produk Alat Pencegahan Geeseeceeo COVID-19 SPEAKER: Prof.Raldi Artono Koestoer (Dosen Teknik Mesin FTUI) HIRITEGS HOST: Goldy Tanjung Wijaya (CTOEgrad) RABU, 9 SEPTEMBER 2020 10.00 12.00 WIB www.egrad.id zoom s.id/Technopreneurid PENDAFTARAN PALING LAMBAT TANGGAL SEPTEMBER PUKUL 08.00 WIB egrad.id'.

Usaha NYATA menanggulangi Pandemi Covid-19 …. 2 Alat anti virus dalam ruangan ber AC, buatan UI Depok —Heat Transfer Laboratory – Tim Anti Corona Virus ACORUS – Filial Tim Inkubator UI (yg sdh menolong ribuan bayi Indonesia).—— TINDAKAN NYATA ——– GAK CUMAN NGOMONG DOANG –… gak cuman neliti-neliti terus-terusan… Kemana aja Indonesia….

Biaya besar untuk Scopus-scopusan, provider asing. Kita yang capek meneliti mereka yang dapat uangnya. Setiap makalah bayar ratusan dolar, mereka gak ngapa-ngapain terima duit terus. Jadi bangsa yang senang memelihara kebodohan dikepalanya terus menerus. Dan kemudian merasa bangga, merasa sudah jadi orang pandai. Kemudian yang lain mengikuti. Lalu bikin paten sana paten sini, for nothing.

Man…man… Kemana aja … Anak-anak milenial sudah berkejar-kejaran berkarya, si Qoplaq terus berbuat kebodohan…

Jadilah PERISET SEJATI, bukannya anti scopus tapi scopus itu bukan tujuan utama, malah bukan tujuan. Tujuan riset yg utama adalah mendapatkan solusi dari problem yg ada dimasyarakat, sehingga hasil riset itu berguna atau bermanfaat untuk masyarakat. Itulah yang jadi acuan, jadi bukan sekedar paper, paper itu hanya sebagai laporan hasil riset anda saja. Mereka yang sudah banyak papernya, lihat aja kalo terjun kemasyarakat mereka langsung merasa ‘WAh ternyata…saya belum berbuat apa-apa”. Karena masyarakat tidak merasakan manfaatnya dari apa yang anda lakukan dalam riset yang sudah makan waktu bertahun-tahun tanpa hasilnyata. Cuma bicara dari seminar ke seminar dan terus merencanakan untuk seminar lagi dari tahun ke tahun.

Sadarlah… Sekarang juga… Jangan tunggu tahun depan jangan tunggu bulan depan.

Berikut ini adalah berbagai peralatan Pencegah Covid-19 yang dibuat oleh Tim Anti Corona Virus di Univ Indonesia.

1) Movable UVC Sterilizer, Sterilizer Bergerak untuk membersihkan koridor atau lorong2 panjang di RS. Juga untuk membersihkan hall besar (auditorium). Yang ini masih dalam rencana, digambar juga belum. Bentuknya seperti kereta dorong untuk mendisinfeksi lorong atau koridor 2,5 seb kanan dan 2,5 meter seb kiri.

Gambar mungkin berisi: teks yang menyatakan 'TAMPAK PERSPEKTIF Kamera Fungss: Pemantauan Visual Di Depan Terintegra dengan Monitor pada Bagian Handling (Manusia) Baterai / Accu Fungsi: Suplai Listrik Mandiri Lampu dan Monitor'




Mohon lagi doa anda Semoga bisa menolong sahabat kita para dokter dan nakes lainnya.-
2) PURIDIS Purifier and Disinfection, membersihkan ruangan dari partikel mikro dan membunuh virus, dlm 1 jam ruangan jadi bersih. Minggu depan akan dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Alat ini dalam satu jam bisa membersihkan ruangan 5×5 m2 dari partikel 2,5 dan 10 mikron, sekaligus membasmi virus apa saja termasuk virus corona sampai 99,9%… Tuh kurang apalagi ! Mari kita berjuang Bersama membasmi virus corona.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah puridis-0cf6faa5-3dd1-41e6-8efb-094c8151e05f.jpg


3) HF-UVC Sterilizer Human Friendly UVC sistem lampu pembersih ruang APD yg banyak virusnya di RS. Nyala selama 15 mnt setiap 2 jam mati sendiri kalau ada orang. Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Sudah dipasang di 3 ruangan APD RS Jakpus.


4) Lampu Sterilizer uvc pembersih ruang operasi seblm dipakai operasi nyala 30 mnt. Dinyalakan lg setelah operasi…
Mohon doa anda semua..Oh masih ada tambahannya (jam 13.55 – 05082020). Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus.
5) Pretest Covid; PM4P Oxymeter and BPM Beat Per Minute. Patient Monitor 4 Parameter Saturasi Oksigen, BPM, Suhu tubuh, Suhu kulit, Non-invasive hanya dalam waktu 1 menit saja….Alat inilah yg dibuat oleh Juan Karnadi salah satu member Tim ACORUS-UI, Tim Anti Corona Virus – UI. Sudah jadi Prototipe. Lihat rujukan 2) dibag akhir artikel ini.
6) Mesin Hisap Aerosol, untuk membantu praktek klinik dokter THT, dokter kulit dan dokter Gigi. Prototipe sedang di test di Lab Perpindahan Kalor UI. Lihat rujukan 1) di bagian akhir artikel ini.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah mesin-hisap-2dcf8b7c-8e9e-4af3-ac04-61e098c81f29-1.jpeg
Mesin hisap aerosol utk dokter kulit, dokter mata dan dokter gigi


7) BDC Bilik Disinfeksi basis UVC. Bersama alumni FTUI (Iluni FTUI) dengan dana kontribusi sumbangan alumni telah menginstal k.l di 20 RS sejabodetabek.

-0-

Silakan kontak

CV Tekno Nusa Kayana (Start-up yang dibentuk atas bantuan DIIB-UI th 2018 dalam program UI-INCUBATE).-

WA/HP 08111-383 300

-0-

#Cegahcovid19 #Antiviruscorona #tolongparadokter #tolongsemuanakes #cegahvirus #BantuRumahSakit

Bayi Prematur Tulungagung Selamat

Ardan Naya

Tokoh-tokoh : Wong Edan, Dyah Laksita, Tjahjo, Adji Pramudya.

23 Juli 2020. Ceritanya keponakan tadi pulang dari RS, lahir dengan kondisi Prematur BB hanya 1060 gram.. 2 minggu di RS hari ini dibolehin pulang . Kami se keluarga tanpa persiapan apa-apa jelas kebingungan bagaimana kami merawat bayi sekecil itu.. meskipun kami tetap menggunakan bantuan perawat yang hanya memandikan pagi dan sore. Pikiran kami hanya ingin mendapat tempat yang layak dan nyaman buat adek tumbuh kembang, sampai BB normal. Ide mencari penjual inkubator se kota Tulungagung NIHIL kami disarankan membuat di pengrajin Kaca. Bisa, tapi memakan waktu cukup lama pun kelayakan produk tentu masih kami ragukan.. Akhirnya saya iseng ketik inkubator bayi, dan muncullah YABAPI saya scroll ke bawah berbagai kegiatan yayasan ..peminjaman inkub gratis Ya Gratis. Awal-awal saya hanya berfikiran Ahhh mungkin hanya yayasan di kota besar saja yang dibantu, karena saya melihat ini alat hasil karya UI . Ternyata tidak… ada daerah Madiun yang dibantu.. berarti saya di Tulungagung bisa minta bantuan…di-page itu ada CP atas nama Bu DYAH LAKSITA dan akun di bawah WONG EDAN dua duanya saya hubungi. Dan Masya Allah mereka merespon sangat sangat baik hanya tempo waktu 1 jam kami dikabari ada inkubator ready di Surabaya. Tanpa babibu.. dan modal percaya ada pertolongan dari Allah lewat mereka Kami berangkat ketemuan ditengah titik dari Tulungagung jam 19.00 Pandaan Surabaya…kami ketemu dengan beliau suami Bu Dyah . Pak Tjahyo Purnomo jam 21.30 di By Pass Mojokerto ndak bisa diungkapkan dengan kata kata bagaimana rasa bahagia kami.. Syukur kami.. Mereka menyerahkan pinjaman inkubator secara gratis.. Singkat waktu kami ucapkan terima kasih dan jam 23 .00 itu juga kami pulang dari Mojokerto. Dan sekarang jam 1.30 kami telah sampai dengan Selamat di Tulungagung dengan membawa INKUBATOR buat Adek AlFarezy Fathur Gazhaly.. Seperti namamu semoga engkau tumbuh kuat sehat Terima kasih Relawan dari TangSel Wong Edan dari Surabaya Pak Adji Bu Dyah dan Suami Pak Tjahyo.. Suatu saat pasti kita akan berjumpa dalam keadaan yang lebih nyaman… Terimakasih YABAPI.. Semoga Allah membalas semua kebaikan Panjenengan Semua.. Aamiin Aamiin Ya Rabbal Alamin…

-0-

Disalin dari akun FB Ardan Naya yg diposting di Fanpage Y Bayi Prematur Indonesia.-