MERV Air FIlter

MERV vs. MPR vs. FPR Rating Systems

air filter ratings explained

MERV vs. MPR vs. FPR Rating Systems

air filter ratings explained

  • Learn the differences between MERV, MPR & FPR to choose the best filter for your needs.
  • WHAT IS THE DIFFERENCE BETWEEN MERV, MPR, AND FPR AIR FILTER RATINGS?The three air filter rating systems differ in ranges and were created by separate organizations. MERV ratings extend from 1 to 16. MPR measures ratings based on sizes 0.3 to 1 microns. FPR ratings are on a scale from 4 through 10. The MERV filter rating is the domestic and international industry standard rating system established by the American Society of Heating, Refrigerating, and Air Conditioning Engineers. The other two systems were created by “3M” (MPR) and “The Home Depot” (FPR) to differentiate their offerings. However, at the end of the day, the ratings apply to the SAME filters and can be used in your furnace or AC unit!
  • WHAT IS MERV FILTER RATING (MINIMUM EFFICIENCY REPORTING VALUE)?As you have already learned, the MERV rating is the primary rating system used in the industry, both domestically and internationally. Established by the American Society of Heating, Refrigerating, and Air Conditioning Engineers, MERV rates a filter’s ability to capture and hold particles and pollutants. Smaller particles can be trapped and removed by higher MERV ratings.At Air Filters Delivered, we label our air filters by their MERV filter rating. You may choose from four different options:To better understand what sets the four ratings apart, take a look at our MERV rating chart!
  • WHAT IS MPR (MICRO-PARTICLE PERFORMANCE RATING)?MPR, or micro-particle performance rating, is a rating system developed by 3M. It rates the manufacturer’s filters and their ability to capture airborne particles smaller than 1 micron. While MERV ratings reflect a filter’s ability to trap both microscopic and macroscopic particles, MPR ratings only grade a filter on its capacity to remove particles from 0.3 to 1 microns. For reference, a typical dust particle is between .2 and 8 microns, while pollen starts at 7 microns and can get up to 70 microns in size.
  • WHAT IS FPR (FILTER PERFORMANCE RATING)?FPR, or filter performance rating, labels filters based on a number scale from 4 through 10 in addition to a color-coding system. Designed by The Home Depot for brands sold through their stores, including Honeywell, this rating structure is very similar to MERV rating.

100 Dokter Wafat

Duh berita FB dan WA pagi ini sangat menyedihkan. 100 dokter sudah wafat terkena pandemi Covid-19. Duh…sedih banget..banget banget… Siapa nanti yang menangani pasien, siapa yang mengobati masyarakat kalau dokternya pada wafat.

INDONESIA MENGHENINGKAN CIPTA

Hari ini telah 100 orang dokter yg dilaporkan meninggal terkait Covid19:

  1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
  2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI/IDI Jakarta Timur)
  3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
  4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (IDI Kota Bandung)
  5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (IDI Jakarta Selatan)
  6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
  7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
  8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (IDI Jakarta Timur)
  9. dr. Ucok Martin Sp. P (IDI Medan)
  10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (IDI Prabumulih)
  11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
  12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
  13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
  14. Dr. Bernadette Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
  15. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
  16. Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangerang Selatan)
  17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jakarta Selatan)
  18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT (IDI Kab. Bekasi)
  19. Dr. Naek L. Tobing, SpKJ (IDI Jakarta Selatan)
  20. Dr. Karnely Herlena (IDI Depok)
  21. Dr. Soekotjo Soerodiwirio SpRad (IDI Kota Bandung)
  22. Dr. Sudadi, MKK, SpOK (IDI Jakarta Pusat)
  23. Prof. Dr. H. Hasan Zain, Sp.P (IDI Banjarmasin)
  24. Dr. Mikhael Robert Marampe (IDI Kab. Bekasi)
  25. Dr. Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
  26. Dr. Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S (IDI Medan)
  27. Dr. Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
  28. Dr. Soeharno (IDI Kediri)
  29. Dr. Amir Hakim Siregar SpOG (IDI Batam)
  30. Dr. Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
  31. Dr. Esis Prasasti Inda Chaula, SpRad (IDI Tegal)
  32. Dr. Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
  33. DR. dr Heru Prasetya, SpB, SpU (IDI Banjarmasin)
  34. dr. Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
  35. dr. Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
  36. dr. H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
  37. dr. Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
  38. dr. Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
  39. dr. Sukarno (IDI Sidoarjo)
  40. dr. Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
  41. dr. Herry Nawing SpA (IDI Makassar)
  42. dr. Theodorus Singara SpKJ (IDI Makassar)
  43. dr. Nyoman Sutedja, MPH (IDI Denpasar)
  44. dr. Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
  45. dr. Sang Aji Widi Aneswara (IDI Semarang)
  46. dr. Elianna Widiastuti (IDI Semarang)
  47. dr. Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
  48. dr Ane Roviana (IDI Jepara)
  49. dr. Sovian Endi (IDI Grobogan)
  50. dr. Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
  51. dr. Ahmadi NH, Sp.KJ (IDI Semarang)
  52. dr. Zulkiflie Saleh (IDI Banjarmasin)
  53. dr. Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
  54. Prof. dr. H. Mgs. Usman Said, SpOG (K) (IDI Palembang)
  55. dr. H. Khiarul Saleh, SpPD (IDI Palembang)
  56. dr. Anna Mari Ulina Bukit (IDI Medan)
  57. dr Herwanto SpB (IDI Kisaran)
  58. dr. Maya Norismal Pasaribu (IDI Labuhan Batu Utara)
  59. dr. Budi Luhur (IDI Gresik)
  60. dr. Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
  61. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
  62. dr. Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
  63. Prof. Dr. dr. Andi Arifuddin Djuanna, SpOG (K) (IDI Makassar)
  64. dr. Aldreyn Asman Aboet, SpAN, KIC (IDI Medan)
  65. dr. M. Fahmi Arfa’i (IDI Semarang)
  66. dr. M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
  67. dr. M. Hatta Lubis, SpPD (IDI Padang Sidempuan)
  68. dr. Elida Ilyas, SpKFR (K) (IDI Jakarta)
  69. dr. I Wayan Westa, Sp.KJ (K) (IDI Denpasar)
  70. dr. Sony Putrananda (IDI Blitar)
  71. dr. H. Muhammad Arifin Sinaga, MAP (IDI Langkat)
  72. dr. Andhika Kesuma Putra, Sp.P (K) (IDI Medan)
  73. dr. Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
  74. dr. Ahmad Rasyidi Siregar, SpB (IDI Medan)
  75. dr. HM Syamsu Rizal (IDI Natuna)
  76. dr. Dennis (IDI Medan)
  77. dr. Adnan Ibrahim, SpPD (IDI Makassar)
  78. dr. I Nyoman Sueta (IDI Denpasar)
  79. dr. Paulus Sp.PD (IDI Jakarta Pusat)
  80. dr. Sulis Bayu Sentono, dr., M.Kes., Sp.OT (K) (IDI Surabaya)
  81. Prof. Dr. dr. R. Mohammad Muljohadi Ali, Sp.FK (IDI Malang Raya)
  82. dr. Hery Prasetyo (IDI Blora)
  83. dr. Sriyono (IDI Balikpapan)
  84. dr. Sabar Tuah Barus SpA (IDI Medan)
  85. dr. John Edward Feridol Sipayung (IDI Siantar Simalungun)
  86. dr. Ach. Chusnul Chuluq Ar, MPH (IDI Malang Raya)
  87. dr. Fatoni (IDI Ogan Komuring Ulu)
  88. dr. Asriningrum Sp.S (IDI Mataram)
  89. dr. R. Nurul Jaqin SpB (IDI Yogyakarta)
  90. dr. Donni (IDI Deli Serdang)
  91. dr. Adi Rahmawan (IDI Depok)
  92. dr. Riyanto SpOG (IDI Tuban)
  93. dr. Muh. Rum Limpo SpB (IDI Selayar)
  94. dr. Titus Taba SpTHT-KL (IDI Sorong)
  95. dr. H. Edisyahputra Nasution (IDI Samarinda)
  96. dr. I Made Widiartha Wisna (IDI Buleleng)
  97. dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, SpA (K) (IDI Jakarta Pusat)
  98. dr. Daud Ginting, SpPD (IDI Medan)
  99. dr. Aris Sugiharjo, SpPD (IDI Banjarmasin)
  100. dr. Edwin Marpaung, SpOT(K) (IDI Medan)

Mari mengheningkan cipta 1 menit untuk mendoakan para dokter yg gugur syahid di medan pertempuran melawan Covid-19.-

-0-

#covid-19 #dokter #nakes #Rumahsakit #pasien #coronavirus #virus #masker #APDlevel3 #vaksin #ventilator #saturasioksigen #ruangisolasi #bedside

STOP Acara Kumpul-kumpul

Stop acara kumpul-kumpul.

Meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara.

Oleh : dr. Susy Wihadi, Sp.A (RS Mitra Keluarga Depok)

JERNIH—Sepekan terakhir ini kasus Covid-19 benar-benar naik drastis. Terasa lebih mengerikan dibanding awal-awal dulu.

Satu keluarga pulang mudik dari Sukabumi, ternyata kakek-nenek yang dikunjungi positif. Satu keluarga ini, terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak, langsung minta di-swab. Satu keluarga lagi, ayah-ibu positif, anak negatif. Entah habis ikut acara apa.

Dapat info lain lagi kalau ada beberapa saudara kandung yang sudah berkeluarga, semua berkumpul merayakan ultah ibu mereka. Dan sekarang ada 15 orang yang positif Covid-19 dari acara tersebut. Bahkan ada satu keluarga (ayah, ibu, dan tiga anak) positif semua. Ibu yang baru dirayakan ultahnya berada dalam kondisi yang berat.

Di kantor bapaknya, ada karyawan yang positif sehabis kumpul keluarga saat Idul Adha kemarin. Karyawan yang kena ini tertular dari saudara sepupunya, dan si karyawan ini tinggal bersama istri di rumah mertuanya. Si karyawan sudah dirawat, masih untung istri dan mertuanya negative. Orang tuanya sendiri belum ada hasil.

Sore ini datang info kamar bersalin ada rencana operasi SC ibu hamil yang positif Covid-19. Kalau ibu hamil positif Covid-19 mau dioperasi, otomatis harus tindakan di kamar operasi khusus yang sudah diredisain supaya tekanan kamar negatif dan terpasang hepafilter. Semua yang ikut dalam kamar operasi HARUS menggunakan APD level 3.

Buat kami yang sudah sejak Maret lalu berkutat dengan APD level III sih tinggal senyum-senyum miris saja pake APD. Tapi buat pasien, hitung sendiri saja biaya yang dikeluarkan. Biaya ekstra untuk APD dan beban moril pasca-melahirkan karena tidak bisa rawat gabung dengan bayi sampai masa isolasi selesai.

Jangan seenaknya bilang biaya ditanggung negara. Lama-lama anggaran negara habis karena masalah ini, terus ribut negara resesi.

Jadi, lihatlah rantai panjang penularan virus ini. Virus ini tidak kenal keluarga, sekandung maupun sedarah. Kontak erat, ya risiko penularan tinggi.

Tidak usah ribut-ribut teriak,”Kasihan tenaga kesehatan”, karena itu bagian dari konsekuensi pekerjaan. Tapi berpikirlah risiko untuk diri sendiri dan keluarga masing-masing.

Andaikata pembawa virus mengalami sakit ringan tapi keluarga yang ditularkan (suami atau istri, ayah atau ibu, anak-anak sendiri, saudara kandung, para sepupu dan keponakan) mengalami sakit yang berat dan meninggal, apakah Anda pembawa virus bisa membayangkan apa rasanya?

Menyesal? Sudah terlambat. Penyesalan selalu datang terlambat, karena kalau di awal namanya pendaftaran.

Bisa tidak, penyesalan diubah supaya tidak terlambat? Bisa! Lakukanlah pencegahan! Prinsip dasar mencegah penyakit, ya pencegahan.

Stop acara kumpul-kumpul. Meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara. Pada saat acara intim dengan keluarga, acara makan-makan, ngobrol, kita jadi lengah, masker dibuka, dan di situlah virus bisa berpindah dan menular ke keluarga kita.

Di sosmed juga sudah banyak yang pajang foto, jalan-jalan, makan bersama, acara pembukaan ini-itu, dan semua foto kebanyakan tanpa masker. Jujur, kalau sekarang rasanya mules lihat foto dengan kepala berdekatan tanpa masker. Jangan memberikan contoh yang tidak baik di sosmed karena banyak yang akan meniru karena merasa “si anu itu baik-baik saja”.

Gunakan masker dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Pastikan hidung dan mulut tertutup. Jangan sampai hidung nongol di atas masker. Kalau punya hidung mancung, ya tetap kelihatan mancung meski pake masker. Jadi tidak usah takut kelihatan pesek. Kalau pesek, tetap rajinlah pakai masker karena selain bisa menutupi pesek, hidung juga nggak bakal tambah pesek kok.

Pakai masker bisa sesak nafas? Itu sih perasaan Anda saja. Sugesti karena tidak biasa. Kami di RS pakai masker dobel berjam jam, tetap otak bisa bekerja dengan baik mendiagnosis dan melakukan terapi.

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun dengan cara dan teknik yang benar. Bila tidak ada air dan sabun, gunakan hand sanitizer dengan teknik yang benar juga. Jangan asal-asalan. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Sebelum menyentuh area wajah, sesaat begitu pulang dari luar langsung cuci tangan dulu dan mandi.

Segera berobat ke rumah sakit bila merasakan gejala panas dan atau batuk, dan atau pilek, apalagi kalau sesak. Pasien kalau disuruh ke rumah sakit pada takut, takut ketularan. Kalau ke mall, ke cafe, nginap di hotel, tidak pada takut. Padahal di rumah sakit ada standar cara desinfeksi untuk mengatasi penularan penyakit infeksi oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), yang tentunya hal ini tidak (atau belum tentu) dimiliki oleh pelayanan publik non-RS lainnya.

Tinggal di rumah saja. Tidak usah pakai alasan anak sudah bosan. Yang bosan itu anak, apa orang tua? Biasa pagi-pagi kirim anak ke sekolah atau TPA, sekarang seharian sambil WFH harus mendampingi anak. Adalah tugas dan kewajiban orang tua mendampingi anak, menikmati waktu heboh dan rusuh bersama anak 24 jam penuh di rumah. Kapan lagi bisa bekerja sambil mengasuh anak di rumah?

Berpikir positiflah bahwa ini berkah terselubung dari pandemi. Banyak waktu berkumpul bersama keluarga yang tinggal serumah, ( sekali lagi yang tidak tinggal serumah TIDAK USAH KUMPUL-KUMPUL memanfaatkan waktu ).

Sayangi diri sendiri dan keluarga Anda…!!!
Tetaplah sehat dan waras….!!!

-0-

#Covid #Covid-19 #Masker #APD #Infeksi #Kontaminasi #Coronacirus #SarsCov2 #Virus #APDlevel3 #Pencegahan

#RS #Rumahsakit #dokter #nakes

Basmi Virus di Ruangan Ber-AC

Photo by Raldi A. Koestoer on August 26, 2020. Image may contain: 2 people, text that says 'FREE ONLINE CLASS TECHNOPRENEUR Rp 11.000 UNTUK E-CERTIFICATE EGRAD Reinmerale Edueatien Disain, Prototyping, Manufaktur Mandiri Decegetcagca Dari 2 Produk Alat Pencegahan Geeseeceeo COVID-19 SPEAKER: Prof.Raldi Artono Koestoer (Dosen Teknik Mesin FTUI) HIRITEGS HOST: Goldy Tanjung Wijaya (CTOEgrad) RABU, 9 SEPTEMBER 2020 10.00 12.00 WIB www.egrad.id zoom s.id/Technopreneurid PENDAFTARAN PALING LAMBAT TANGGAL SEPTEMBER PUKUL 08.00 WIB egrad.id'.

Usaha NYATA menanggulangi Pandemi Covid-19 …. 2 Alat anti virus dalam ruangan ber AC, buatan UI Depok —Heat Transfer Laboratory – Tim Anti Corona Virus ACORUS – Filial Tim Inkubator UI (yg sdh menolong ribuan bayi Indonesia).—— TINDAKAN NYATA ——– GAK CUMAN NGOMONG DOANG –… gak cuman neliti-neliti terus-terusan… Kemana aja Indonesia….

Biaya besar untuk Scopus-scopusan, provider asing. Kita yang capek meneliti mereka yang dapat uangnya. Setiap makalah bayar ratusan dolar, mereka gak ngapa-ngapain terima duit terus. Jadi bangsa yang senang memelihara kebodohan dikepalanya terus menerus. Dan kemudian merasa bangga, merasa sudah jadi orang pandai. Kemudian yang lain mengikuti. Lalu bikin paten sana paten sini, for nothing.

Man…man… Kemana aja … Anak-anak milenial sudah berkejar-kejaran berkarya, si Qoplaq terus berbuat kebodohan…

Jadilah PERISET SEJATI, bukannya anti scopus tapi scopus itu bukan tujuan utama, malah bukan tujuan. Tujuan riset yg utama adalah mendapatkan solusi dari problem yg ada dimasyarakat, sehingga hasil riset itu berguna atau bermanfaat untuk masyarakat. Itulah yang jadi acuan, jadi bukan sekedar paper, paper itu hanya sebagai laporan hasil riset anda saja. Mereka yang sudah banyak papernya, lihat aja kalo terjun kemasyarakat mereka langsung merasa ‘WAh ternyata…saya belum berbuat apa-apa”. Karena masyarakat tidak merasakan manfaatnya dari apa yang anda lakukan dalam riset yang sudah makan waktu bertahun-tahun tanpa hasilnyata. Cuma bicara dari seminar ke seminar dan terus merencanakan untuk seminar lagi dari tahun ke tahun.

Sadarlah… Sekarang juga… Jangan tunggu tahun depan jangan tunggu bulan depan.

Berikut ini adalah berbagai peralatan Pencegah Covid-19 yang dibuat oleh Tim Anti Corona Virus di Univ Indonesia.

1) Movable UVC Sterilizer, Sterilizer Bergerak untuk membersihkan koridor atau lorong2 panjang di RS. Juga untuk membersihkan hall besar (auditorium). Yang ini masih dalam rencana, digambar juga belum. Bentuknya seperti kereta dorong untuk mendisinfeksi lorong atau koridor 2,5 seb kanan dan 2,5 meter seb kiri.

Gambar mungkin berisi: teks yang menyatakan 'TAMPAK PERSPEKTIF Kamera Fungss: Pemantauan Visual Di Depan Terintegra dengan Monitor pada Bagian Handling (Manusia) Baterai / Accu Fungsi: Suplai Listrik Mandiri Lampu dan Monitor'




Mohon lagi doa anda Semoga bisa menolong sahabat kita para dokter dan nakes lainnya.-
2) PURIDIS Purifier and Disinfection, membersihkan ruangan dari partikel mikro dan membunuh virus, dlm 1 jam ruangan jadi bersih. Minggu depan akan dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Alat ini dalam satu jam bisa membersihkan ruangan 5×5 m2 dari partikel 2,5 dan 10 mikron, sekaligus membasmi virus apa saja termasuk virus corona sampai 99,9%… Tuh kurang apalagi ! Mari kita berjuang Bersama membasmi virus corona.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah puridis-0cf6faa5-3dd1-41e6-8efb-094c8151e05f.jpg


3) HF-UVC Sterilizer Human Friendly UVC sistem lampu pembersih ruang APD yg banyak virusnya di RS. Nyala selama 15 mnt setiap 2 jam mati sendiri kalau ada orang. Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Sudah dipasang di 3 ruangan APD RS Jakpus.


4) Lampu Sterilizer uvc pembersih ruang operasi seblm dipakai operasi nyala 30 mnt. Dinyalakan lg setelah operasi…
Mohon doa anda semua..Oh masih ada tambahannya (jam 13.55 – 05082020). Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus.
5) Pretest Covid; PM4P Oxymeter and BPM Beat Per Minute. Patient Monitor 4 Parameter Saturasi Oksigen, BPM, Suhu tubuh, Suhu kulit, Non-invasive hanya dalam waktu 1 menit saja….Alat inilah yg dibuat oleh Juan Karnadi salah satu member Tim ACORUS-UI, Tim Anti Corona Virus – UI. Sudah jadi Prototipe. Lihat rujukan 2) dibag akhir artikel ini.
6) Mesin Hisap Aerosol, untuk membantu praktek klinik dokter THT, dokter kulit dan dokter Gigi. Prototipe sedang di test di Lab Perpindahan Kalor UI. Lihat rujukan 1) di bagian akhir artikel ini.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah mesin-hisap-2dcf8b7c-8e9e-4af3-ac04-61e098c81f29-1.jpeg
Mesin hisap aerosol utk dokter kulit, dokter mata dan dokter gigi


7) BDC Bilik Disinfeksi basis UVC. Bersama alumni FTUI (Iluni FTUI) dengan dana kontribusi sumbangan alumni telah menginstal k.l di 20 RS sejabodetabek.

-0-

Silakan kontak

CV Tekno Nusa Kayana (Start-up yang dibentuk atas bantuan DIIB-UI th 2018 dalam program UI-INCUBATE).-

WA/HP 08111-383 300

-0-

#Cegahcovid19 #Antiviruscorona #tolongparadokter #tolongsemuanakes #cegahvirus #BantuRumahSakit

Bayi Prematur Tulungagung Selamat

Ardan Naya

Tokoh-tokoh : Wong Edan, Dyah Laksita, Tjahjo, Adji Pramudya.

23 Juli 2020. Ceritanya keponakan tadi pulang dari RS, lahir dengan kondisi Prematur BB hanya 1060 gram.. 2 minggu di RS hari ini dibolehin pulang . Kami se keluarga tanpa persiapan apa-apa jelas kebingungan bagaimana kami merawat bayi sekecil itu.. meskipun kami tetap menggunakan bantuan perawat yang hanya memandikan pagi dan sore. Pikiran kami hanya ingin mendapat tempat yang layak dan nyaman buat adek tumbuh kembang, sampai BB normal. Ide mencari penjual inkubator se kota Tulungagung NIHIL kami disarankan membuat di pengrajin Kaca. Bisa, tapi memakan waktu cukup lama pun kelayakan produk tentu masih kami ragukan.. Akhirnya saya iseng ketik inkubator bayi, dan muncullah YABAPI saya scroll ke bawah berbagai kegiatan yayasan ..peminjaman inkub gratis Ya Gratis. Awal-awal saya hanya berfikiran Ahhh mungkin hanya yayasan di kota besar saja yang dibantu, karena saya melihat ini alat hasil karya UI . Ternyata tidak… ada daerah Madiun yang dibantu.. berarti saya di Tulungagung bisa minta bantuan…di-page itu ada CP atas nama Bu DYAH LAKSITA dan akun di bawah WONG EDAN dua duanya saya hubungi. Dan Masya Allah mereka merespon sangat sangat baik hanya tempo waktu 1 jam kami dikabari ada inkubator ready di Surabaya. Tanpa babibu.. dan modal percaya ada pertolongan dari Allah lewat mereka Kami berangkat ketemuan ditengah titik dari Tulungagung jam 19.00 Pandaan Surabaya…kami ketemu dengan beliau suami Bu Dyah . Pak Tjahyo Purnomo jam 21.30 di By Pass Mojokerto ndak bisa diungkapkan dengan kata kata bagaimana rasa bahagia kami.. Syukur kami.. Mereka menyerahkan pinjaman inkubator secara gratis.. Singkat waktu kami ucapkan terima kasih dan jam 23 .00 itu juga kami pulang dari Mojokerto. Dan sekarang jam 1.30 kami telah sampai dengan Selamat di Tulungagung dengan membawa INKUBATOR buat Adek AlFarezy Fathur Gazhaly.. Seperti namamu semoga engkau tumbuh kuat sehat Terima kasih Relawan dari TangSel Wong Edan dari Surabaya Pak Adji Bu Dyah dan Suami Pak Tjahyo.. Suatu saat pasti kita akan berjumpa dalam keadaan yang lebih nyaman… Terimakasih YABAPI.. Semoga Allah membalas semua kebaikan Panjenengan Semua.. Aamiin Aamiin Ya Rabbal Alamin…

-0-

Disalin dari akun FB Ardan Naya yg diposting di Fanpage Y Bayi Prematur Indonesia.-

Cerita Panjang Penyintas Covid-19

Ini cerita panjang pasien covid19, yg info nya sdh sembuh msh isolasi.

Cerita pak Bagio Riawan (mantan Dir PLN) yg kena Covid 19….
Prologue*
Sudah banyak tulisan dan artikel yg mengulas ttg SARS Cov-2 dan bagaimana kita mempersiapkan diri menjaga kesehatan khususnya bagi lansia spt kita ini. Dan rasanya cukup sbg referensi kalo kita terpapar.
Olahraga yg teratur yg saya jalani adl. bersepeda 3-4x seminggu @ 30-60 menit dan terkadang main golf dg teman² pensiunan PLN dan bergabung Ling Tien Kung (virtual zoom)
Aktifitas ke kantor, hanya 2x seminggu mulai pk 10 s.d pk 15.00 kalo² ada yg perlu tandatangan atau penyelesaian laporan2. Kegiatan rapat lebih banyak menggunakan fasilitas zoom, baik dg kantor Sby maupun Jkt.
Jadwal keseharianku sangat teratur, olahraga, tidur cukup 6-7 jam meski tetputus utk ke toilet dan tahajud.
Makanan rasanya juga cukup nutrisi.
Namun demikian saya tetap minum tambahan multi vitamin + mineral. Saya memilih yg mempunyai kandungan yg lengkap, ada vitamin A, B, C, D & E serta mineral mineral Zinc Sulfate
https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/blackmores-multivitamins-minerals-30-tablet
Kondisi kesehatanku selalu aku usahakan baik dan fit. Karena aku punya masalah hipertensi semenjak usia 45 th dan masalah batu ginjal khronis semenjak mahasiswa s.d saat ini sudah mengalami operasi batu ginjal 6-7x.
Juga rithme jantung yg tidak stabil. Sehingga s.d sejarang tiap hari mengkonsumsi Norvas 5mg, Concord 5mg dan thromboaspilet.
Ini yg dikemudian hari saat terkena Covid19 menjadi penghambat proses penyembuhan
https://www.alodokter.com/zinc-sulphate
https://www.alodokter.com/vitamin-d
https://www.alodokter.com/5-alasan-penting-mengonsumsi-vitamin-c
https://www.alodokter.com/vitamin-e

Dialogue

  1. Proses terpapar Covid19 & keputusan harus Rawat inap
    Senin 27 Juli saya memimpin rapat komite audit dengan mengundang 2 direktur & staf secara bergilir.
    Rapat semula di ruang biasa yg saya gunakan utk zoom meeting.
    Krn suatu alasan, ruang rapat dipindah ke ruang meeting (berupa ruang kaca) dg AC cassete diatas, ventilasi (buruk) dg pintu kalo dibuka mengganggu ruang meeting yg lain.
    Gpp, toh yg hadir sdh dibatasi 5 orang dg kursi sdh diatur phisical distancing, staf lain bila diperlukan bisa bergabung dg zoom.
    Rapat pertama lancar, 5 org
    Rapat kedua, direktur yg pertama tidak keluar ruangan dan ikut nimbrung rapat kedua dan direktur kedua membawa staf, jadilah diruangan ada 8 orang. 😭
    phisical distancing ambyaar..😭
    (Direktur kedua adalah suspect, OTG. Besoknya ybs demam dan swabtest, ternyata positif Covid19)
    Rabu saya dapat berita telah kontak dg OTG/Suspect, kamisnya saya swabtest dan hasilnya pd sabtu sore 1 Agst.
    Semenjak dpt berita hari rabu tsb, saya langsung isolasi diri di kamar anak saya (yg sdh menikah & rumah² sendiri)
    Saya berpikir jangan sampai load-viral dalam tubuh saya mampu menulari anggota keluarga.
    https://health.grid.id/read/352241706/viral-load-faktor-penting-berperan-pada-penularan-virus-corona
    Sabtu malam saya mencari RS rujukan khusus perawatan Covid19, RSPP, RSPI yg mempunyai kerjasama dg AdMedika PLN semua penuh dan waiting-list.
    Saya menyadari, bhw saya mempunyai faktor komorbid hipertensi, batu ginjal khronis dan denyut jantung tidak stabil.
    Maka penyembuhan saya harus terkontrol dan terukur.
    Saya tidak merasakan sakit, hanya mriang² sedikit dan saya ambil obat flu di klinik PLN (azithromicyn, Rinos, Actifed) dan multivitamin sy minum double, sambil nunggu hasil swabtest. Rupanya ini yg disebut sbg happy hypoxia
    https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/20/120300965/yang-perlu-diketahui-soal-happy-hypoxia-dialami-pasien-covid-19-termasuk-di
    Saya dapat ruang perawatan RS Siloam Mampang yg dibangun khusus utk menangani Covid19.
    RS ini tidak bekerja sama dg asuransi mana pun, dan tidak juga dg PLN. Saya harus bayar sendiri, ga papa. Saya harus masuk dan dirawat dg baik. Dengan pengawasan tim dokter yg memang menangani Covid19.
    Selain alasan keamanan keluarga, juga alasan faktor komorbid yg ada pd diri saya.
    Jangan sampai terjadi hipersensitif karena proses pengobatan, apalagi sampai terjadi Cytokin Storm Syndrome yg menyebabkan kematian pd penderita lansia.
    https://www.alodokter.com/seperti-apa-kondisi-hipersensitivitas
    https://sains.kompas.com/read/2020/02/20/170300223/bisa-sebabkan-kematian-pada-pasien-covid-19-apa-itu-badai-sitokin-
    Alhamdulillah, saya dapat kamar pada hari minggu pagi dan diterima di ruang emergency & segera mendapat penanganan:
  • periksa darah lengkap
  • periksa/ rekam jantung, ECG
  • Ct Scan paru²
    Dialoque
    (Lanjutan….)
  1. Phase infeksi Covid19
    Bagian ini kiranya perlu diceritakan bagaimana virus menginfeksi organ pernafasan dan paru².
    Istilah phase disini adalah apa yang dirasakan dan bukan hasil penelitian ilmiah bagaimana phase² virus menginfeksi seseorang
    Phase Infeksi Saluran Pernapasan Atas, Tenggorokan dan Bronkioli
    Rasa nyeri, kering dan panas di daerah ini timbul hari ke-3 setelah swabtest positif dan semakin berat saat dirawat di RS pd hari pertama (hr ke-4 positif)
    Meskipun nyeri tenggorokan namun tidak ada masalah untuk menelan makanan, shg makan apa saja terasa enak.
    Tidak terjadi gangguan penciuman ataupun pembauan. Mungkin karena tidak mempunyai penyakit bawaan di daerah sinus maupun kelenjar gondog.
    Dan saat terinfeksi di rumah sudah langsung mendapat pengobatan yg sesuai.
    Gejala yg dirasakan hanya ringan² saja, meski terkadang mriang² dan suhu badan paling2 naik 37,2°C di sore hari.
    Infeksi Saluran Pernafasan ini tidak berlangsung lama, krn rasa nyeri sudah sembuh pada hari ke-4 atau 5 di RS.
    Phase Infeksi Paru-Paru,
    Hasil pengukuran SpO² normal, yaitu berkisar antara 97-99% dan tidak terasa sesak nafas ataupun nyeri sedikitpun di dalam paru², baik dalam kondisi nafas biasa maupun dalam aktifitas olah napas, tarik napas – tahan di perut – keluar dr mulut pelan².
    Hanya saja di periode ini badan terasa tidak nyaman, tekanan darah naik sampai 165/90, obat hipertensi dinaikkan dari yg semula 5mg menjadi 10mg, untuk menjaga stabil dibawah 140/80.
    Dimaksudkan agar proses pengobatan Covid19 dapat berjalan efektif dan tidak terjadi infeksi yg meluas sbg dampak faktir komorbid, hipertensi.
    Infeksi paru² ini ditunjukkan dari perbedaan hasil Ct Scan tgl 2 Agst (saat masuk RS) dan tgl 13 Agst (setelah demam tinggi*), yg menunjukan multifokal GGO di kedua paru ec pneumonia, typical viral – terkesan bertambah.
    Sebelumnya hanya bercak kecil di paru² kiri. 😭
    *) Puncak terinfeksi adalah tgl 11 Agst (hari ke-9) di RS, dimana mengalami demam tinggi s.d 38,5°C.
    Pagi itu juga mendapatkan suntikan paracetamol melalui infuse, dan bersyukur siang menjelang sore sudah mereda.
    Malamnya bisa tidur nyenyak dan berkeringat, baju sampai basah. Paginya terasa segar dan badan terasa semakin sehat dan stabil
    Phase recovery infeksi
    Badan terasa semakin sehat pd hari ke-12 perawat di RS, sudah semakin stabil dan mulai bisa tidur nyenyak meski harus sering ke toilet krn infuse obat² pd malam dan harus minum banyak.
  2. Proses Pengobatan
    Berikut ini menceritakan tahaoan² pengobatan selama 16hr di RS, dimana swabtest hr ke-15 dinyatakan negatif oleh RS Siloam.
    Tulisan ini bukan hendak menggurui para ahli medis di RS² rujukan Covid19, tapi merupakan rangkuman hasil diskusi dg tim dokter yg merawat, yg terdiri dari dokter² spesialist paru², soesialist penyakit dalam dan tentu didukung radiolog & spesialist jantung
    Virus ini bekerjanya seperti parasit (benalu) yg tinggal dg cara mengimflamasi dan merusak paru² yg ditempeli. Paru² lah tempat inang yg nyaman bagi virus ini.
    Perjalanan menuju ke paru² s.d menginfeksi paru² dari informasi yg ada adl 3-4 hr semenjak virus masuk tubuh dan dirasakan mriang² ringan bagi penderita.
    Karena masuknya melalui saluran pernafasan, mk virus juga menyerang daerah ISPA, tenggorokan dan bronkioli menuju paru².
    Bagi seseorang dg kondisi tubuh yg fit & sehat, infeksi saluran pernafasan ini terasa ringan² saja, nyeri tenggorokan dan terasa kering sedikit panas. Namun tetap dapat makan dan menelan dg tanpa keluhan apapun.
    Saya bersyukur ditangani oleh tim dokter yg telah menangani banyak pasien yg tentunya sudah mempunyai standar perawat untuk Covid19.
    Yang dipimpin oleh Dr Sp paru yg ramah dan bersedia utk berdiskusi.
    Pada dasarnya obat2 yg diaplikasikan pd penderita Covid19 adalah terdiri dari:
  • Obat anti peradangan (inflamasi), khusus utk paru² & saluran pernafasan
  • obat menahan anti virus agar tidak berkembang & menyebar, yg dikenal sbg “load viral” dalam dunia kedokteran
  • antibiotik yg sesuai utk paru2, dan diberikan utk 5-7 hr-max, dan dimonitor efektifitasnya.
    Diganti setelah 5-7hari dg siklus paket obat²an kombinasi sbgmn disebutkan diatas.
    Selebihnya adalah asupan multi vitamin dan mineral utk membangun daya tahan tubuh berupa antibodi (imunitas) yg diharapkan dapat mengatasi/ mengalahkan virus dari dalam dan bahan² mineral utk membantu tubuh dalam memperbaiki sel tubuh yg rusak krn terinfeksi virus (radang/ inflamasi, bahkan cell-splassing)
    Belum ada obat anti virus SARS Cov-2 ini, yg ada adalah obat anti virus flu burung SARS, flu babi, malaria, TBC atau yg lainnya yg ada sebelumnya, ini yg diaplikasikan utk SARS Cov-2.
    Pemberian anti biotik, adalah untuk mencegah infeksi bakteri yg justru dikhawatir lebih berbahaya dr infeksi virus ini, khususnya bagi lansia dan penderita dg faktor komorbid. Yg dimungkinkan terjadi serangan stroke atau infeksi jantung koroner.
    (Saya tidak paham bagaimana mekanisme infeksi virus bisa mempengaruhi naiknya hipertensi dan berakibat fatal)
    Pemberian antibiotik dan obat peradangan akan lebih efektif bila obat²an ini diinjeksi mell. infuse
    Obat² oral utk membangun & meperbaiki sel yg rusak, umumnya mell obat2 oral, spt:
  • Curcuma, kandungan kunyit utk pembersihan virus, sampah virus, protein dlm darah yg mungkin mengkristal dan mengendap dalam hati
  • Zink sufate, utk memperbaiki & membangun cell yg rusak
    https://www.alodokter.com/zinc-sulphate
  • Vitamin D
    https://www.alodokter.com/vitamin-d
  • Vitamin C
    Lebih efektif bila disuntikan melalui infus yg sudah terpasang
    https://www.alodokter.com/5-alasan-penting-mengonsumsi-vitamin-c
  • paracetamol, obat panas
  • obat rutin bagi pasien yg mepunyai faktor komorbid, perlu didiskusikan dg dokter untuk jadwal meminumnya.
    (Saya ada komorbid hipertensi, radang batu ginjal & jantung tidak stabil)
    Siklus Paket Pengobatan
    Siklus-1 Kombinasi obat: Azithromicyn + Acetylcystein + Oseltamivir
    Saat sebelum rawat inap di RS, saya sudah mengkonsumsi obat2 ini selama 3 hari.
    Sehingga kombinasi obat ini hanya diberikan utk menghabiskan sisa antibiotik yg sdh saya minum
    https://www.alodokter.com/azithromycin
    https://www.alodokter.com/acetylcysteine
    https://farmasetika.com/2020/04/04/kajian-farmakoterapi-pengobatan-covid-19-favipiravi-klorokuin-oseltamivir/
    Saya diberikan oseltamivir, merupakan obat anti virus flu golongan A yg paling ringan. Mengingat obat antivirus yg lain memberikan dampak yg membahayakan bagi penderita hipertensi dan jantung yg umum dimiliki para lansia.
    Siklus-2 Kombinasi obat:
    Ceftriazone + Dexamethasone + Acetylcysteine + Oseltamivir
    Ceftriazone merupakan antibiotik yang diinjeksi melalui infuse
    https://hellosehat.com/obatan-suplemen/obat/ceftriaxone/
    Dexamethasone, merupakan obat keras anti oeradangan yg takarannya harus pas dan disuntikkan melalui infuse. Ini merupakan obat peradangan/ inflamasi kerusakan organ tubuh karena virus dan menghentikan peradangan.
    https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53087973
    Penggunaan Dexamethasone, perlu dibarengi dg kontrol test darah C-RP, untuk mengetahui kadar C-Reactive Protein dalam darah. Orotein ini sbg penanda adanya peradangan dalam tubuh. Protein-C reactif dihadilkan oleh hati dan kadarnya akan meningkat sebagai redpon tubuh terhadap peradangan (inflamasi).
    Ini dibersihkan dg Curcuma.
    Pengendalian jumlah C-RP untuk menghindari hipersensitif proses pengobatan dan bahkan reaksi berlebih yg dapat melahirkan Cytokin Storm Cyndrome dan berdampak kematian.
    https://www.smarterhealth.id/diagnosis/crp-c-reactive-protein/
    Saat masuk RS pd tgl 2Agst: test C-RP 9,97 normalnya dibawah 5
    Siklus-3 Kombinasi obat:
    Levofloxation + Dexametaxone + Acetylcysteine + Methisoprinosine
    Siklus ini merupakan periode pemulihan setelah pasien melewati masa kitis demam pada hari ke-11.
  • Levofloxation, adalah antibiotik yang diinjeksikan, cara kerjanya berbeda dg antibiotik terdahulu.
    https://hellosehat.com/obatan-suplemen/obat/levofloxacin/
  • Methisoprinosine, obat oral yg diberikan 4x sehari, fungsi dan penggunaannya adalah sbb:
    https://www.alodokter.com/methisoprinol
    https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/isoprinosine-500-mg-8-tablet
    Menurut kajian akademis, apabila seseorang telah melewati masa krisis hari ke-11 tsb dan semua kondisi tubuh stabil, maka Ct-value nya sudah rendah sekali dan bahkan sudah Nol pd hari ke-14.
    Ct value adalah nilai-jumlah virus yg berpotensi utk menular kpd orang lain.
    Menurut Pedoman ke-5 Kemenkes, seseorang yg sudah dirawat 14hr, teorinya sdh tidak berpotensi menular.
    Meskipun hasil swabtest pasien masih positif*).
    Sedangkan standar WHO, mensyaratkan harus 2x swabtest dan negatif berturut², baru pasien diperbolehkan pulang & isolasi mandiri.
    Saat saya diijinkan keluar RS, swabtest sudah negatif, pd hari ke-16
    Dan saya dipersilahkan utk isolasi mandiri di rumah.
    Sebagai informasi tambahan, bahwa utk monitor perkembangan virus dan efektifitas aplikasi kombinasi obat, dilakukan:
  • Ct scan paru², yaitu saat awal & selesainya setiap siklus paket pengobatan
  • test darah lengkap dan dimonitor leukositnya sampai normal dibawah 10rb.
    Saat demam dan masa2 perang dg virus, leukosit naik sampai 12.720.
    Dan pd hari ke-14 dilakukan test, sudahvturun & kembali normal pd 9.380 dibawah 10.000
  • test C-PR, utk melihat sampah virus dlm darah
    *) bbrp kasus swabtest pasien yg masih positif, bahkan sampai 1 bulan setelah masa pengobatan 14hr. Hal ini bisa terjadi karena tingkat penyebaran virus (load viral), faktor hipersensitif krn pengobatan atau hal² lain karena faktor komorbid dan usia.
  1. Persiapan diri untuk menjalani isolasi Perawatan Covid19
    Hal yang ngga banyak dibahas & didiskusikan dalam proses penyembuhan dalam karantina di RS adalah persiapan diri, baik phisik maupun mental.
    Menurutku persiapan diri ini sangat penting, karena kunci penyembuhan penyakit ini adalah “kita harus selalu gembira, relax, semangat dan ga boleh stress”.
    Dapat tidur nyenyak, BAB lancar, makan senang & enak semuanya dijalani dg gembira.
    Meski gampang diucap, susah mewujudkannya.
    Persiapkan kebutuhan untuk bepergian selama 15-20 hari, pilih pakaian kaos dan trainning yg nyaman selama berada di karantina, seperti mau berlibur layaknya…
    Pakailah pakaian yg bagus dan tunjukan bahwa dirimu tidak sakit, tp selalu cerah dan gembira.
    Ketika sampai RS & mendapatkan ruang perawatan yg kurang, jangan mengeluh dg fasilitasnya, lengkapi ruang karantina sesuai selera dan minta dikirim dari rumah apa² yg dibutuhkan sebagaimana kamar hotel bintang lima.
    Bawa & siapkan perangkat gadget selain HP dan tambahkan paket data yg maksimal utk jangka waktu sebulan.
    Agar bisa bebas browsing:
  • Cinema, film2 dr Netflix
  • Tauziah, Pengajian, Travelling, dll dari You Tube
  • Ndengerin musik pengantar makan, relax tiduran dr Spotify
    Silahkan bergembira dan bernyanyi sendiri (kalo seruangan sendiri), kalo ada pasien yg lain ya bawalah wireless-earphone.
    Bawa notes dan ballpoint untuk mencatat hal² penting selama proses pengobatan.
    Tulis kegiatan dan kondisi mu utk dikomunikasikan dg keluarga di rumah yg tidak boleh membezoek.
    Sering² vidio call utk mengobati kangen putu.
    Kegiatan menulis dan mencatat ini penting, agar otak kita tetap aktif dan fokus.
    Ada bbrp kasus penderita Covid19, selesai karantina & perawatan di RS menjadi seperti orang bingung, linglung bahkan alzeimer.
    Usaha menghibur diri memang perjuangan yg tidak mudah, apalagi saat berdiskusi dg dokter yg melaporkan ada kondisi yg memburuk misalnya. Hasil swabtest yg masih positif misalnya.
    Atau infuse yg bengkak dan pembuluh darah yg pecah karena faktor usia.
    Pada umumnya pembuluh vena lansia mengecil dan berkerut mudah pecah.
    Saya sendiri setiap 2 hari harus pindah infuse krn bengkak atau pembuluh pecah.
    Lama² saya terbiasa, dan mempersilahkan menusuk jarum infuse dimana saja sesuka perawatnya asal bisa.
    Kadang jengkel juga, ternyata ada perawat yg jago ada pula yang trondolo mencari pembuluh vena tempat infuse.
    Menyadari bahwa obat2an hanya efektif melalui infuse yg bisa langsung kesasaran organ tubuh utama yg dirawat, paru². Akhirnya pasrah saja, semakin pasrah semakin relax dan memudahkan perawatnya.
    Oya, jangan lupa bawa obat²an yg rutin dikonsumsi utk mengobati faktor komorbid penyakit bawa’an kita dan minta klinik PLN utk dikonsumsi setidak 20hari.
    Setiba di RS sampaikan kpd dokter penanggung jawab dan diskusikan boleh/tidaknya dikonsumsi dan jadwal mengkonsumsinya.
  • -0-
  • Boleh Nyalin dari salah satu WAG.-

Covid-19 Makin Ngeri…

Tulisan dr. Susy Wihadi, Sp.A (RS Mitra Keluarga Depok)

Worth to read, supaya kita semua selalu waspada dan tidak lengah terhadap COVID-19

Sejak seminggu terakhir ini kasus COVID-19 benar-benar naik drastis. Lebih mengerikan rasanya dibanding awal awal dulu.

Satu keluarga pulang mudik dari Sukabumi, ternyata kakek nenek yang dikunjungi positif. Satu keluarga ini, terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak langsung minta diswab. Satu keluarga lagi, ayah ibu positif, anak negatif. Entah habis ikut acara apa.

Dapat info lain lagi kalau ada beberapa saudara kandung yang sudah berkeluarga semua berkumpul merayakan ultah ibunya. Dan sekarang ada 15 orang yang positif COVID-19 dari acara tersebut. Bahkan ada satu keluarga (ayah, ibu, dan tiga anak) positif semua. Ibu yang baru dirayakan ultahnya berada dalam kondisi yang berat.

Di kantor bapaknya, ada karyawan yang positif sehabis kumpul keluarga saat Idul Adha kemarin. Karyawan yang kena ini tertular dari saudara sepupunya dan si karyawan ini tinggal bersama istrinya di rumah mertuanya. Si karyawan sudah dirawat, masih untung istri dan mertuanya negatif, ortunya sendiri belum ada hasil.

Sore ini diinfo kamar bersalin ada rencana operasi SC bumil positif COVID-19. Kalau bumil positif COVID-19 mau operasi, otomatis harus tindakan di kamar operasi khusus yang sudah diredisain supaya tekanan kamar negatif dan terpasang hepafilter. Semua yang ikut dalam kamar operasi HARUS menggunakan APD level 3. Buat kami yang sudah sejak Maret berkutat dengan APD level III sih tinggal senyum-senyum miris saja pake APD. Tapi buat pasien, hitung sendiri saja biaya yang dikeluarkan. Biaya ekstra untuk APD dan beban moril paska melahirkan karena tidak bisa rawat gabung dengan bayi sampai masa isolasi selesai. Jangan seenaknya bilang biaya ditanggung negara. Lama-lama anggaran negara habis karena masalah ini, terusribut negara resesi.

Jadi… Lihatlah rantai panjang penularan virus ini
Virus ini tidak kenal keluarga, sekandung maupun sedarah. Kontak erat ya risiko penularan tinggi.

Tidak usah ribut-ribut teriak kasihan nakes, somehow itu bagian dari konsekuensi pekerjaan. Tapi berpikirlah RISIKO UNTUK DIRI SENDIRI DAN KELUARGA MASING-MASING. Andaikata pembawa virus mengalami sakit ringan tapi keluarga yang ditularkan (suami atau istri, ayah atau ibu, anak2 sendiri, saudara kandung, para sepupu dan keponakan) mengalami sakit yang berat dan meninggal, apakah Anda pembawa virus bisa membayangkan apa rasanya?

Menyesal???
Sudah terlambat…
Penyesalan selalu datang terlambat, karena kalau di awal namanya pendaftaran…

Bisa ga penyesalan diubah supaya tidak terlambat???

BISA

Kok bisa? Gimana caranya???

Ya LAKUKAN PENCEGAHAN dong! Prinsip dasar mencegah penyakit ya pencegahan.

STOP ACARA KUMPUL KUMPUL, meskipun yang hadir saudara kandung sendiri tapi bila tidak tinggal serumah, sebaiknya batalkan semua acara. Pada saat acara intim dengan keluarga, acara makan-makan, ngobrol, kita jadi lengah, masker dibuka, dan disitulah virus bisa berpindah dan menular ke keluarga kita.

Di sosmed juga sudah banyak yang pajang foto, jalan-jalan, makan bersama, acara pembukaan ini itu dan semua foto kebanyakan tanpa masker. Jujur, kalau sekarang mules liat foto dengan kepala berdekatan tanpa masker. Jangan memberikan contoh yang tidak baik di sosmed karena banyak yang akan meniru karena merasa si anu itu baik-baik saja.

GUNAKAN MASKER dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat
Pastikan hidung dan mulut tertutup. Jangan sampai hidung nongol di atas masker. Kalau punya hidung mancung ya tetap kelihatan mancung meski pake masker, jadi tidak usah takut kelihatan pesek. Kalau pesek, tetap rajinlah pakai masker karena selain bisa menutupi pesek hidung juga ga bakal tambah pesek kok.

Pake masker sesak nafas???
Itu sih perasaan Anda saja. Sugesti karena tidak biasa.
Kami di RS pake masker dobel-dobel berjam jam tetap otak bisa bekerja dengan baik mendiagnosis dan melakukan terapi.

CUCI TANGAN dengan air mengalir dan sabun dengan cara dan teknik yang benar
Bila tidak ada air dan sabun, gunakan hand sanitizer dengan teknik yang benar juga. Jangan asal-asalan. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan (Yang ini sih wajib dan kudu jauh sebelum pandemi. Pakai air dan sabun jangan hand sanitizer). Sebelum menyentuh area wajah, sesaat begitu pulang dari luar langsung cuci tangan dulu dan mandi.

SEGERA BEROBAT KE RS bila merasakan gejala panas dan atau batuk dan atau pilek, apalagi kalau sesak. Pasien kalo disuruh ke RS pada takut, takut ketularan. Kalau ke mall, ke cafe, nginap di hotel tidak pada takut. Padahal di RS ada standar cara desinfeksi untuk mengatasi penularan penyakit infeksi oleh tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), yang tentunya hal ini tidak (atau belum tentu) dimiliki oleh pelayanan publik non RS lainnya.

TINGGAL DI RUMAH SAJA.
Tidak usah pakai alasan anaknya bosan. Yang bosan anaknya apa ortunya? Biasa pagi-pagi kirim anak ke sekolah atau TPA, sekarang seharian sambil WFH harus mendampingi anak. Adalah tugas dan kewajiban ortu mendampingi anak, menikmati waktu heboh dan rusuh bersama anak 24 jam penuh di rumah. Kapan lagi bisa kerja sambil mengasuh anak di rumah? Berpikir positif bahwa ini berkah terselubung dari pandemi, banyak waktu berkumpul bersama keluarga yang tinggal serumah (sekali lagi yang tidak tinggal serumah TIDAK USAH KUMPUL-KUMPUL memanfaatkan waktu yaa).

Sayangi diri sendiri dan keluarga Anda. Tetap sehat n waras yaaa…

Pressure Transducer dengan Arduino

Parameter Tekanan (pressure) merupakan salah satu parameter yang
penting dalam termodinamika, tanpa mengetahui tekanan terutama pada
fase gas ataupun liquid sebuah instalasi bisa menjadi sumber malapetaka.
Pengendalian tekanan ini tentu saja memerlukan alat untuk mengetahui
besarnya atau nilainya, untuk itu digunakanlah pengukur tekanan. Cara lama
dalam mengukur tekanan ini menggunakan cara mekanik dalam
mengkonversi perubahan tekanan menjadi sebuah gerak jarum penunjuk.
Model yang baru sekarang menggunakan cara elektronik. Tentu saja metode
ini menyajikan respons yang lebih cepat dan akurat.
Buku ini membahas kedua model tersebut diatas. Pengukur tekanan tipe
Bourdon sebagai representasi model lama tetap digunakan bahkan sampai
sekarang karena masih bermanfaat terutama sebagai indikator visual untuk
operator agar selalu bisa mengetahui tekanan dalam tangki atau instalasi.
Karena respons yang cepat dari pengukur tekanan elektronik atau disebut
juga pressure-transducer maka digunakanlah alat ini sebagai pencatat real
time agar bisa mengetahui perubahan tekanan dari waktu ke waktu (detik
demi detik). Dengan demikian banyak lagi yang bisa kita lakukan terutama
dengan merangkaikannya dengan komputer atau pencatat digital lainnya
sehingga spectrum penggunaannya menjadi lebih luas,
Dalam penelitian dan pengembangan penggunaan pressure transducer
ini sudah tidak dapat dihindari lagi, karena seringkali peneliti memerlukan
data real-time sekaligus menggabungkannya dengan program komputer
(coding) dimana perubahan parameter tekanan dalam sistem dinamis
manjadi masukan yang penting dalam analisa kondisi instalasi.

Accuracy, precision, repeatability serta reproducibility merupakan
fenomena yang penting dalam pengukuran tekanan teutama bila kita
mengukur perbedaan tekanan yang kecil. Seringkali persoalan juga muncul
saat kita belum mengetahui apa artinya Zero-offset dalam menggunakan
pressure-transducer. Standar, kalibrasi, ilmu statistik, merupakan bahasan
yang tak terpisahkan dalam pengukuran tekanan.
Dengan mulai maraknya penggunaan Arduino sebagai template
microprosesor, maka variasi terapan dari (PT – Pressure Transducer)
meningkat menjadi alat kendali (controller) dari suatu sistem security dari
sebuah instalasi bertekanan tinggi. Dalam buku ini anda akan menemukan
cara menghubungkan antara PT dengan data logger ataupun data acquisition
sehingga penggunaannya bis lebih bervariasi bahkan dengan harga yang
terjangkau. Banyak peralatan canggih bisa kita buat dengan memahami
sirkuit elektronik antara PT dengan Arduino.
Kritik dan saran pembaca sangat kami harapkan dan semoga buku kecil
ini dapat berguna untuk siapa saja yang menggunakan alat pengukur tekanan.

Depok, 22 Maret 2019

-0-

Di reposting tgl 23 Agustus 2020.

Yg berminat pada versi buku cetak please WA 08111383300… 60K + 10 K ongkir. Tulis nama dan email (atau WA anda).-

Mereka yang menginginkan Ebooknya bisa pesan ke WA 08111 383 300 atau cadangannya 0811-8771305 dengan harga 35K saja.

Hysteresis selalu terjadi dalam pengukuran tekanan…

Cara Basmi Virus di Rumah Sakit

Cara Basmi Virus di Rumah Sakit
Menurut laporan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) per tanggal 16 Agustus 2020 (2 hari yg lalu) sudah 79 dokter yang gugur dalam pertempuran melawan COvid-19 ini (Lihat daftarnya di bagian akhir artikel ini).
“Duh… Kalau dokter pada berguguran, siapa nanti yang melayani pasien ?” Itulah yang jadi concern kami, kuatir dan cemas, menghadapi corona virus ini. Untuk itu kami berinisiatif membuat alat2 untuk membantu para dokter dan nakes di Rumah Sakit agar mereka terjaga dari serangan virus yang ganas ini. Buat saya merekalah garda terdepan dalam menghadapi corona virus ini, karena langsung berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat disekitar mereka.
Kami sangat prihatin dan sangat bersedih hati mendengar berita di TV, banyak dokter-dokter kita para ahli spesialis, para tenaga Kesehatan (NAKES) berguguran di Rumah Sakit karena terserang Covid-19. Kami sangat ingin membantu para dokter kita yang berada di garda depan pertempuran dalam menangani Covid-19 ini. Untuk itu kami berinisiatif sejak beberapa bulan yang lalu merancang peralatan baru untuk mencegah penyebaran Corona virus ini. Untuk virus yang sudah masuk kedalam tubuh manusia maka itu urusannya para dokter, perawat yang mengurus. Tapi untuk virus yang masih bertebaran diluar tubuh manusia, atau diruangan mana saja (Ruang-ruang di RS, di kantor2, di restoran, di hotel2) …maka …itu adalah…URUSAN KAMI PARA INSINYUR. Yang jelas memang kita sangat perlu bekerjasama.
Tim Inkubator UI, sejak bulan Maret 2020 lalu berTRANSFORMASI menjadi : Tim Anti Corona Virus UI, bagian Preventive Covid.
Kami membuat :
1) Movable UVC Sterilizer, Sterilizer Bergerak untuk membersihkan koridor atau lorong2 panjang di RS. Juga untuk membersihkan hall besar (auditorium). Yang ini masih dalam rencana, digambar juga belum. Bentuknya seperti kereta dorong untuk mendisinfeksi lorong atau koridor 2,5 seb kanan dan 2,5 meter seb kiri.

Gambar mungkin berisi: teks yang menyatakan 'TAMPAK PERSPEKTIF Kamera Fungss: Pemantauan Visual Di Depan Terintegra dengan Monitor pada Bagian Handling (Manusia) Baterai / Accu Fungsi: Suplai Listrik Mandiri Lampu dan Monitor'




Mohon lagi doa anda Semoga bisa menolong sahabat kita para dokter dan nakes lainnya.-
2) PURIDIS Purifier and Disinfection, membersihkan ruangan dari partikel mikro dan membunuh virus, dlm 1 jam ruangan jadi bersih. Minggu depan akan dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Alat ini dalam satu jam bisa membersihkan ruangan 5×5 m2 dari partikel 2,5 dan 10 mikron, sekaligus membasmi virus apa saja termasuk virus corona sampai 99,9%… Tuh kurang apalagi ! Mari kita berjuang Bersama membasmi virus corona.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah puridis-0cf6faa5-3dd1-41e6-8efb-094c8151e05f.jpg


3) HF-UVC Sterilizer Human Friendly UVC sistem lampu pembersih ruang APD yg banyak virusnya di RS. Nyala selama 15 mnt setiap 2 jam mati sendiri kalau ada orang. Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus. Sudah dipasang di 3 ruangan APD RS Jakpus.


4) Lampu Sterilizer uvc pembersih ruang operasi seblm dipakai operasi nyala 30 mnt. Dinyalakan lg setelah operasi…
Mohon doa anda semua..Oh masih ada tambahannya (jam 13.55 – 05082020). Sudah dipasang di salah-satu RS di Jakpus.
5) Pretest Covid; PM4P Oxymeter and BPM Beat Per Minute. Patient Monitor 4 Parameter Saturasi Oksigen, BPM, Suhu tubuh, Suhu kulit, Non-invasive hanya dalam waktu 1 menit saja….Alat inilah yg dibuat oleh Juan Karnadi salah satu member Tim ACORUS-UI, Tim Anti Corona Virus – UI. Sudah jadi Prototipe. Lihat rujukan 2) dibag akhir artikel ini.
6) Mesin Hisap Aerosol, untuk membantu praktek klinik dokter THT, dokter kulit dan dokter Gigi. Prototipe sedang di test di Lab Perpindahan Kalor UI. Lihat rujukan 1) di bagian akhir artikel ini.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah mesin-hisap-2dcf8b7c-8e9e-4af3-ac04-61e098c81f29-1.jpeg
Mesin hisap aerosol utk dokter kulit, dokter mata dan dokter gigi


7) BDC Bilik Disinfeksi basis UVC. Bersama alumni FTUI (Iluni FTUI) dengan dana kontribusi sumbangan alumni telah menginstal k.l di 20 RS sejabodetabek.

-0-

**********************************************************

Tim UI – Anti Corona Virus —– Info : 0811-1383-300

***********************************************************

-0-
Rujukan:
1) Conceptual Design of Aerosol Suction Machine to Eliminate Bioaerosol Generated during Dental Procedure to Prevent
COVID-19 Transmission
Reski Septiana, Raldi A. Koestoer* and Ibnuoihan
Heat Transfer Laboratory, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
*e-mail: koestoer@eng.ui.ac.id
2) Blue Electrocardiogram (ECG), ECG with Bluetooth Feature
integrated with Smartphone
William Jerrel Iskandar1), Raldi Artono Koestoer2,a), Ibnu Roihan3)
1,2,3 Heat Transfer Laboratory, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering,
Universitas Indonesia Kampus Baru – UI, Depok, 16424
*e-mail: a)koestoer@eng.ui.ac.id
3) Oxygen Saturation Parameter Calibration Effort on MAX30100
Sensor Module Based on Arduino-Uno
Juan Karnadi1, Ibnu Roihan2 and Raldi Artono Koestoer2*
1 Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, Kampus Baru UI Depok, West Java, 16424, Indonesia
2 Heat Transfer Laboratory, Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering,
Universitas Indonesia, Kampus Baru UI, Depok, West Java 16424 Indonesia
*e-mail: koestoer@eng.ui.ac.id
4) Data Logger Multichannel Based on Arduino UNO Applied in
Thermal Measurement of Solar Still Carocell L3000
Ibnu Roihan1, Juan Karnadi1, and Raldi Artono Koestoer1*
1 Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
*e-mail: koestoer@eng.ui.ac.id
-0-
#Cegahcovid19 #Antiviruscorona #tolongparadokter #tolongsemuanakes #cegahvirus #BantuRumahSakit

Raldi A. Koestoer – Heat Transfer Laboratory FTUI.-

-0-
Informasi yg diterima PB IDI setidaknya ada 79 dokter yg dilaporkan meninggal krn Positif Covid19 dan PDP Covid19 (16/8/20) ;

1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI/IDI Jakarta Timur)
3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (IDI Kota Bandung)
5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (IDI Jakarta Selatan)
6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (IDI Jakarta Timur)
9. dr. Ucok Martin Sp. P (IDI Medan)
10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (IDI Prabumulih)
11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
14. Dr. Bernadette Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
15. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
16. Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangerang Selatan)
17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jakarta Selatan)
18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT (IDI Kab. Bekasi)
19. Dr. Naek L. Tobing, SpKJ (IDI Jakarta Selatan)
20. Dr. Karnely Herlena (IDI Depok)
21. Dr. Soekotjo Soerodiwirio SpRad (IDI Kota Bandung)
22. Dr. Sudadi, MKK, SpOK (IDI Jakarta Pusat)
23. Prof. Dr. H. Hasan Zain, Sp.P (IDI Banjarmasin)
24. Dr. Mikhael Robert Marampe (IDI Kab. Bekasi)
25. Dr. Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
26. Dr. Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S (IDI Medan)
27. Dr. Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
28. Dr. Soeharno (IDI Kediri)
29. Dr. Amir Hakim Siregar SpOG (IDI Batam)
30. Dr. Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
31. Dr. Esis Prasasti Inda Chaula, SpRad (IDI Tegal)
32. Dr. Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
33. DR. dr Heru Prasetya, SpB, SpU (IDI Banjarmasin)
34. dr. Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
35. dr. Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
36. dr. H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
37. dr. Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
38. dr. Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
39. dr. Sukarno (IDI Sidoarjo)
40. dr. Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
41. dr. Herry Nawing SpA (IDI Makassar)
42. dr. Theodorus Singara SpKJ (IDI Makassar)
43. dr. Nyoman Sutedja, MPH (IDI Denpasar)
44. dr. Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
45. dr. Sang Aji Widi Aneswara (IDI Semarang)
46. dr. Elianna Widiastuti (IDI Semarang)
47. dr. Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
48. dr Ane Roviana (IDI Jepara)
49. dr. Sovian Endi (IDI Grobogan)
50. dr. Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
51. dr. Ahmadi NH, Sp.KJ (IDI Semarang)
52. dr. Zulkiflie Saleh (IDI Banjarmasin)
53. dr. Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
54. Prof. dr. H. Mgs. Usman Said, SpOG (K) (IDI Palembang)
55. dr. H. Khiarul Saleh, SpPD (IDI Palembang)
56. dr. Anna Mari Ulina Bukit (IDI Medan)
57. dr Herwanto SpB (IDI Kisaran)
58. dr. Maya Norismal Pasaribu (IDI Labuhan Batu Utara)
59. dr. Budi Luhur (IDI Gresik)
60. dr. Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
61. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
62. dr. Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
63. Prof. Dr. dr. Andi Arifuddin Djuanna, SpOG (K) (IDI Makassar)
64. dr. Aldreyn Asman Aboet, SpAN, KIC (IDI Medan)
65. dr. M. Fahmi Arfa’i (IDI Semarang)
66. dr. M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
67. dr. M. Hatta Lubis, SpPD (IDI Padang Sidempuan)
68. dr. Elida Ilyas, SpKFR (K) (IDI Jakarta)
69. dr. I Wayan Westa, Sp.KJ (K) (IDI Denpasar)
70. dr. Sony Putrananda (IDI Blitar)
71. dr. H. Muhammad Arifin Sinaga, MAP (IDI Langkat)
72. dr. Andhika Kesuma Putra, Sp.P (K) (IDI Medan)
73. dr. Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
74. dr. Ahmad Rasyidi Siregar, SpB (IDI Medan)
75. dr. HM Syamsu Rizal (IDI Natuna)
76. dr. Dennis (IDI Medan)
77. dr. Adnan Ibrahim, SpPD (IDI Makassar)
78. dr. I Nyoman Sueta (IDI Denpasar)
79. Dr. dr. Paulus Sp.PD (IDI Jatim)

Semoga seluruh amal ibadahmu diterima di sisi-Nya dan ditempatkan yang terbaik, yaitu di surga-Nya.

-0-

#rumahsakit #dokter #dokterspesialis #perawat #nakes #pandemi #covid19 #corona #coronavirus #sarscov2 #purifier #puridis #aerosol #airborne #contaminant #UVC #antivirus #bidan #komorbid #fomite



mesin-hisap-aerosol utk dokter mata dan dokter kulit